JawaPos.com - Gejolak geopolitik di Timur Tengah menjadi salah satu faktor yang perlu diwaspadai pasar keuangan global pada perdagangan pekan depan khususnya terkait dengan emas.
Kondisi tersebut berpotensi mendorong investor meningkatkan kepemilikan aset lindung nilai, termasuk emas, sekaligus memberi tekanan terhadap nilai tukar rupiah.
Pengamat Ekonomi dan Komoditas Ibrahim Assuaibi mengatakan ketegangan geopolitik menjadi salah satu faktor utama yang akan memengaruhi pergerakan emas dunia.
"Yang pertama adalah faktor geopolitik. Yang kedua adalah kebijakan politik di Amerika pasca menantikan pemilu selak di bulan November. Kemudian, kebijakan Bank Sentral Amerika," ujar Ibrahim dalam pesan suara yang diterima, Minggu (20/9).
Ibrahim mengatakan,perkembangan konflik di Timur Tengah saat ini tidak hanya berpusat di kawasan Selat Hormuz. Perhatian pasar juga bergeser ke kawasan Laut Merah dan Selat Bab El Mandeb yang merupakan salah satu jalur penting perdagangan global.
Menurutnya, eskalasi konflik di kawasan tersebut berpotensi meningkatkan ketidakpastian pasar. Kondisi itu dapat mendorong investor mengalihkan dana ke aset yang dinilai lebih aman ketika risiko geopolitik meningkat.
Salah satu aset yang menjadi perhatian adalah emas. Ibrahim mengatakan harga emas dunia pada perdagangan sebelumnya ditutup di level USD 4.378 per troy ounce.
Apabila mengalami koreksi, Ibrahim memperkirakan harga emas dunia memiliki level support pertama di USD 4.333 per troy ounce dan support berikutnya USD 4.250 per troy ounce. Sementara apabila menguat, resistance pertama berada di USD 4.429 per troy ounce dan resistance berikutnya USD 4.533 per troy ounce.
"Jadi, dalam transaksi minggu depan, untuk harga emas dunia kemungkinan besar ditransaksikan di support USD 4.250 per troy ounce. Resistennya di USD 4.533 per troy ounce," ujarnya.
Kondisi serupa juga tercermin pada harga logam mulia domestik. Ibrahim menyebut harga logam mulia pada perdagangan Sabtu (19/9) ditutup di level Rp 2.764.000 per gram.
Jika terkoreksi, harga logam mulia diperkirakan memiliki support pertama di Rp 2.744.000 per gram dan support berikutnya Rp 2.620.000 per gram. Sebaliknya, apabila menguat, resistance pertama berada di Rp 2.784.000 per gram dan resistance kedua Rp 2.820.000 per gram.
"Sehingga, dalam perdagangan logam mulia di minggu depan, kemungkinan besar diperdagangkan di support-nya Rp 2.620.000 per gram. Resistennya Rp 2.820.000 per gram," pungkasnya.