Melansir Investing pada pukul 07.30 WIB, kontrak berjangka minyak mentah Brent turun 0,63 poin atau 0,60 persen ke level USD 104,95 per barel. Angka itu lebih rendah jika dibandingkan dengan perdagangan Rabu (16/9) pagi sebesar USD 108,21 per barel.
Sedangkan minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) Amerika Serikat turun 0,95 poin atau 0,93 persen ke level USD 101,46 per barel. Angka itu lebih tinggi jika dibandingkan dengan perdagangan Rabu (16/9) pagi sebesar USD 104,91 per barel.
Dilansir Reuters, langkah Arab Saudi meredakan sebagian kekhawatiran mengenai gangguan pasokan minyak dari Timur Tengah. Selain itu, harga minyak tertekan oleh penurunan persediaan minyak mentah Amerika Serikat (AS) yang lebih kecil dari perkiraan.
Adapun, Arab Saudi menawarkan tambahan pengiriman minyak mentah kepada penyuling Asia melalui transfer antarkapal di lepas pelabuhan Sohar, Oman. Hal itu didapat dari sumber yang mengetahui masalah tersebut. Pasokan tambahan tersebut sedikit mengurangi dampak gangguan terhadap pasokan global setelah serangan terhadap jaringan pipa East-West Arab Saudi menuju Laut Merah.
"Berita mengenai Arab Saudi yang mengekspor minyak dari kawasan Teluk menunjukkan bahwa kekhawatiran terhadap gangguan yang lebih besar mulai mereda," kata analis UBS Giovanni Staunovo.
Sebelumnya, Arab Saudi menghentikan sementara pemuatan minyak di Pelabuhan Yanbu menyusul serangan terhadap pipa minyak East-West yang menuju Laut Merah. Kondisi pada Pelabuhan Yanbu memicu kekhawatiran pasokan, ditambah keputusan Arab Saudi memangkas pengiriman minyak ke Eropa.
Persediaan minyak mentah, bensin, dan produk sulingan AS semuanya meningkat pada pekan lalu, menurut sumber pasar pada Selasa yang mengutip data American Petroleum Institute (API).
Persediaan minyak mentah meningkat 7,1 juta barel pada pekan yang berakhir 11 September, berdasarkan data API. Angka tersebut berbanding terbalik dengan ekspektasi analis yang memperkirakan penurunan sekitar 1,6 juta barel, berdasarkan jajak pendapat Reuters.
Data API yang menunjukkan kenaikan tak terduga pada persediaan bensin dan diesel turut menekan harga minyak. Namun, Haitong Futures dalam catatannya menyebut kenaikan persediaan di sejumlah wilayah tidak mengubah kondisi mendasar pasar minyak mentah global yang masih ketat.