JawaPos.com - Nilai tukar rupiah terhadap dollar AS diperkirakan akan kembali melemah pada perdagangan Kamis (17/9), setelah ditutup melemah 2 poin menjadi Rp 17.696 per USD pada perdagangan Rabu (16/9).
Tekanan Suku Bunga The Fed menjadi salah satu faktor membuat nilai tukar Rupiah kembali terkoreksi.
Pengamat Ekonomi, Mata Uang dan Komoditas, Ibrahim Assuaibi, mengatakan pergerakan rupiah pada hari ini akan dipengaruhi oleh sentimen luar dalam dan luar negeri.
"Untuk perdagangan (16/9) mata uang rupiah fluktuatif namun ditutup melemah di rentang Rp.17.690-Rp.17.750,” ujar Ibrahim keterangan yang diterima, Kamis (17/9).
Baca Juga: Prediksi Rupiah Rabu Ini: Dampak Ketegangan AS-Iran dan The Fed
Ibrahim mengatakan pelaku pasar masih akan mencermati perkembangan kebijakan moneter Amerika Serikat.
Perhatian akan tertuju pada proyeksi ekonomi The Fed terbaru serta komentar Ketua The Fed, Kevin Warsh, mengenai arah kebijakan suku bunga.
Berdasarkan perangkat CME FedWatch, pasar kini memperhitungkan peluang hampir 92,4 persen bahwa The Fed akan menaikkan suku bunga sebesar seperempat poin persen, dalam pertemuan kebijakan September.
"Perhatian akan tertuju pada proyeksi ekonomi The Fed terbaru serta komentar Ketua The Fed, Kevin Warsh, mengenai arah kebijakan suku bunga.," ujarnya.
Ibrahim mengatakan, dari dalam negeri, sentimen datang dari perkembangan utang luar negeri (ULN)Indonesia.
Baca Juga: 1 Tahun Purbaya Jadi Menkeu: Pertumbuhan Ekonomi Melejit Rp 5,61 Persen, Rupiah dan IHSG Ambruk
Bank Indonesia melaporkan posisi ULN Indonesia mencapai USD 453,4 miliar pada Juli 2026 atau sekitar Rp 8.211,8 triliun dengan asumsi kurs JISDOR 30 Juli 2026 sebesar Rp 18.058 per dollar AS.
ULN tumbuh 4,9 persen secara tahunan atau year on year (YoY). Perkembangan itu terutama dipengaruhi peningkatan ULN publik di tengah penurunan ULN swasta.
Secara terperinci, ULN publik tercatat sebesar USD218,4 miliar atau tumbuh 3,2 persen YoY.
Sementara itu, ULN swasta mengalami penurunan dibandingkan periode sebelumnya.
Bank Indonesia menilai posisi ULN pemerintah masih relatif aman dan terkendali. Hal tersebut tercermin dari struktur ULN pemerintah yang hampir seluruhnya merupakan utang jangka panjang.
Baca Juga: Reshuffle Menkeu Bayangi Rupiah, Pengamat Highlight Anggaran MBG