← Beranda
Bukan Harga Kedelai, Ini yang Paling Dikhawatirkan Pengrajin Tahu dan Tempe
Rian AlfiantoKamis, 17 September 2026 | 04.35 WIB
Pekerja menuang kedelai impor di salah satu gudang di Jakarta. (Salman Toyibi/Jawa Pos)

 

JawaPos.com - Harga kedelai di tingkat pengrajin tahu tempe berada di kisaran Rp 11.100-Rp 11.600 per kilogram.

Tapi ketersediaan pasokan justru menjadi perhatian pelaku usaha tahu dan tempe.

Bagi pengrajin, kedelai yang tersedia secara konsisten menentukan apakah produksi harian bisa berjalan normal.

Baca Juga: Kemenkeu Klaim Akan Dorong Modernisasi Sistem dan Layanan Pajak

Kekhawatiran tersebut muncul di tengah dinamika harga kedelai di sejumlah daerah.

Namun, perbedaan harga antarwilayah tak serta-merta menunjukkan adanya kenaikan harga secara nasional.

Biaya transportasi, distribusi, kondisi geografis, akses logistik hingga gangguan tertentu di daerah dapat membuat harga yang diterima pengrajin berbeda.

Baca Juga: Pentingnya Kebijakan Perpajakan Berbasis Data dan Riset

Dengan produksi tahu dan tempe yang berlangsung setiap hari, persoalan pasokan menjadi penting.

Ketika kedelai tersedia, pengrajin dapat memperkirakan kebutuhan bahan baku, menghitung modal dan menentukan volume produksi.

Sebaliknya, gangguan pasokan dapat membuat perencanaan usaha menjadi lebih sulit.

Ketua Asosiasi Kedelai Indonesia (Akindo) Hidayatullah Suralaga mengatakan, harga kedelai dipengaruhi berbagai faktor, termasuk harga komoditas global, nilai tukar, biaya logistik, kondisi geopolitik dan perdagangan internasional.

Namun, menurut dia, pembahasan mengenai kedelai tidak seharusnya hanya berfokus pada harga.

“Dalam kondisi pasar yang dinamis, yang perlu dijaga bukan hanya harga, tetapi juga ketersediaan barang. Pengrajin membutuhkan kepastian bahwa kedelai tersedia ketika dibutuhkan, sehingga mereka dapat merencanakan produksi dengan lebih baik,” ujar dia melalui keterangannya. 

Baca Juga: Target 200 Juta Rekening Bansos Dipertanyakan, DPR: Jangan Sampai Ada Pemborosan

Pada September 2026, stok kedelai impor nasional berada di kisaran 475 ribu ton dan dinilai masih mencukupi kebutuhan nasional.

Artinya, kekhawatiran pengrajin mengenai pasokan tidak otomatis berarti Indonesia sedang mengalami kelangkaan kedelai secara nasional.

Persoalannya berada pada bagaimana stok tersebut dapat terus mengalir melalui rantai distribusi hingga sampai ke sentra-sentra produksi tahu dan tempe.

Baca Juga: Purbaya Digantikan Suahasil Nazara, Unggahan sang Istri Ida Yulidina di Medsos Diserbu Warganet

Akindo menilai kelancaran distribusi menjadi bagian penting dalam menjaga keberlangsungan industri.

Kedelai yang tersedia di tingkat nasional tetap membutuhkan jaringan logistik yang berjalan baik agar dapat memenuhi kebutuhan pengrajin di berbagai wilayah.

“Rantai pasok kedelai saling berkaitan. Yang perlu kita jaga adalah kelancaran distribusi dan ketersediaan barang, sehingga pengrajin memiliki kepastian untuk terus berproduksi dan kebutuhan masyarakat tetap dapat terpenuhi," papar Hidayatullah Suralaga.

Baca Juga: Laba Bersih BTN  Konsolidasi Tumbuh 35,89%, Kredit dan Pembiayaan yang Tembus Rp431 Triliun

"Dari sisi pelaku usaha, kontribusi yang dapat kami lakukan adalah memastikan pasokan tetap tersedia, distribusi berjalan dengan baik, dan kebutuhan industri dapat dipenuhi secara berkelanjutan,” kata Hidayat.

Selain itu, kondisi di tingkat pengrajin menunjukkan bahwa harga saat ini belum menjadi persoalan utama di sejumlah daerah.

Zikri, pengrajin tempe dari Aceh, mengatakan, membeli kedelai sekitar Rp 11.500 per kilogram, harga yang masih cukup terkendali.

“Bagi saya selaku pengrajin tempe, harga saat ini masih cukup terkendali. Kami membeli kedelai sekitar Rp 11.500 per kilogram," ungkap Zikri.

"Jadi, selain melihat perkembangan harga, yang lebih penting bagi kami adalah kedelai tersedia dan kami bisa mendapatkan barang secara konsisten. Kalau pasokannya lancar, kami bisa lebih mudah menghitung produksi dan kebutuhan modal,” kata Zikri.

Baca Juga: Info Franchise Kuliner Kekinian Paling Dicari, Panduan Lengkap 2026-2027

Bagi Zikri, kenaikan harga masih memiliki ruang untuk disiasati. Salah satunya dengan menyesuaikan ukuran tempe yang dijual kepada konsumen.

Pengrajin Banjarmasin Soroti Dampak Kondisi Global

Kekhawatiran mengenai pasokan juga disampaikan Irman, pengrajin tahu dan tempe dari Banjarmasin.

Dia menilai stok menjadi faktor penting, terutama ketika perubahan kondisi global dapat memengaruhi harga energi dan komoditas pangan.

Baca Juga: Cara Siapkan Dana Pensiun Sejak Usia Produktif lewat BRI DPLK di BRImo, Ada Bonusnya

“Stok penting. Kalau harga naik tapi stok nggak ada, sama juga. Setelah ada perang Amerika-Iran, harga minyak dunia naik. Saya tau juga, dampak kenaikan minyak ini, ada beberapa negara mau mengalihkan kacang kedelai ini menjadi BBM. Alternatif ini, kedelai pasti dibutuhkan semakin banyak,” kata Irman.

Pernyataan tersebut menggambarkan bagaimana pengrajin tidak hanya memperhatikan harga yang mereka bayar hari ini, tetapi juga faktor global yang berpotensi memengaruhi rantai pasok dan biaya produksi.

Meski demikian, kondisi harga kedelai perlu tetap dibaca berdasarkan wilayah.

Harga yang lebih tinggi di daerah tertentu dapat berkaitan dengan ongkos angkut, hambatan distribusi atau kondisi geografis, sehingga tidak otomatis mencerminkan perubahan harga di seluruh Indonesia.

Pada akhirnya, keberlangsungan produksi tahu dan tempe bergantung pada tiga hal yang saling berkaitan: harga bahan baku yang wajar, ketersediaan kedelai dan distribusi yang efisien.

Dengan stok nasional yang disebut masih mencukupi, perhatian berikutnya adalah memastikan pasokan tersebut tetap tersedia secara konsisten hingga tingkat pengrajin.

Baca Juga: Pemerintah Percepat Pembangunan 5 Ribu Kampung Nelayan hingga 2029

Kepastian bahan baku menjadi penting agar produksi tahu dan tempe tetap berjalan dan kebutuhan konsumen dapat dipenuhi setiap hari.

EDITOR: Latu Ratri Mubyarsah