← Beranda
Pendapatan Premi Tumbuh 18,85 Persen, Bisnis Asuransi Jiwa Makin Kokoh
Nanda PrayogaJumat, 11 September 2026 | 06.04 WIB
Kinerja positif tercermin dari pertumbuhan pendapatan premi. (Istimewa)

JawaPos.com – Memasuki lebih dari satu dekade beroperasi di Indonesia, perusahaan asuransi jiwa asal Korea Selatan terus memperkuat fundamental bisnis sekaligus meningkatkan kualitas produk dan layanan bagi masyarakat.

Hingga kini, perusahaan tersebut telah melayani sekitar satu juta nasabah di Indonesia. Penguatan bisnis dilakukan untuk menjaga pertumbuhan secara berkelanjutan di tengah kebutuhan masyarakat terhadap produk perlindungan yang semakin beragam.

Kinerja positif tercermin dari pertumbuhan pendapatan premi. Pada 2025, pendapatan premi tercatat Rp295,15 miliar, meningkat 16,7 persen dibandingkan Rp252,95 miliar pada 2024.

Memasuki 2026, perusahaan menargetkan pendapatan premi mencapai Rp322,80 miliar. Hingga Semester I 2026, realisasi pendapatan premi telah mencapai Rp172,29 miliar atau tumbuh 18,85 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp144,96 miliar.

CFO Hanwha Life Indonesia Kim Si Jun mengatakan capaian tersebut menjadi bagian dari strategi perusahaan untuk menjaga pertumbuhan bisnis secara berkelanjutan.

“Tahun ini, Hanwha Life berfokus pada strategi pertumbuhan berkelanjutan. Fokus tersebut telah membuahkan hasil yang konkret. Sampai dengan Semester I 2026, Hanwha Life mencatatkan pendapatan premi sebesar Rp172,29 miliar, tumbuh 18,85% dari Rp144,96 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya. Serta, telah mencapai sekitar 53% target pendapatan premi tahun 2026,” ujar Kim Si Jun.

Pertumbuhan tersebut juga didukung penguatan fundamental perusahaan. Langkah yang dilakukan mencakup tata kelola perusahaan, efisiensi operasional, disiplin underwriting, optimalisasi portofolio bisnis, manajemen risiko, hingga penguatan solvabilitas.

Baca Juga: Alasan Klaim Asuransi Perjalanan Ditolak karena Erupsi Gunung Anak Krakatau

Upaya tersebut turut mendapat pengakuan dari pihak eksternal. Pada 22 Mei 2026, perusahaan meraih Indonesia Regulatory Compliance Award 2026 dari HukumOnline.com. Penghargaan lainnya yakni Indonesia Excellence GCG Awards 2026 dari Warta Ekonomi yang diterima pada 30 Juni 2026.

Dari sisi finansial, total aset pada Semester I 2026 tercatat Rp2,19 triliun. Sementara itu, rasio kecukupan modal atau Risk Based Capital (RBC) mencapai 1.958,03 persen, jauh di atas batas minimum 120 persen yang ditetapkan Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

Sebagai perbandingan, sepanjang 2025 total aset perusahaan mencapai Rp2,14 triliun dengan RBC sebesar 1.241,32 persen.

“Kami akan terus menjaga keseimbangan antara ekspansi bisnis, pengelolaan risiko, serta ketahanan finansial. Komitmen kami adalah memberikan nilai lebih bagi seluruh pemangku kepentingan, mulai dari nasabah, karyawan, agen dan tenaga pemasar, hingga mitra bisnis,” kata Kim.

Menurut dia, pemahaman terhadap kebutuhan konsumen dan kemampuan beradaptasi dengan perkembangan teknologi menjadi faktor penting dalam meningkatkan kualitas produk dan layanan.

Sepanjang 2026, perusahaan menjalankan tiga strategi utama. Pertama, meningkatkan standar layanan bagi nasabah serta tenaga pemasar melalui optimalisasi teknologi digital.

Transformasi digital diarahkan untuk menciptakan pengalaman berasuransi yang lebih cepat, mudah, dan konsisten. Pengembangan dilakukan melalui peningkatan kapabilitas aplikasi serta integrasi berbagai kanal digital, mulai dari pengajuan polis, layanan klaim, hingga dukungan aktivitas tenaga pemasar.

Pemanfaatan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) juga diperluas ke sejumlah proses kerja dan layanan. Teknologi tersebut digunakan antara lain untuk mendukung produktivitas tenaga pemasar melalui AI FA serta membantu fungsi bisnis seperti underwriting dan klaim.

Strategi kedua adalah memperluas pilihan produk agar dapat menjangkau lebih banyak segmen nasabah. Produk yang tersedia mencakup asuransi tradisional, produk berbasis investasi, perlindungan kesehatan dan penyakit kritis, proteksi jangka panjang, hingga produk asuransi digital.

Salah satu produk yang baru diluncurkan adalah Hanwha Tropical Shield. Produk tersebut memberikan perlindungan terhadap sejumlah penyakit tropis, seperti demam berdarah, malaria, dan chikungunya.

Strategi ketiga dilakukan melalui perluasan kemitraan strategis dengan berbagai partner dan institusi. Kerja sama mencakup sektor perbankan, institusi keuangan, hingga komunitas untuk memperluas akses pasar sekaligus meningkatkan penetrasi produk asuransi.

Dengan penguatan fundamental, inovasi produk, pemanfaatan teknologi, serta penerapan tata kelola yang baik, perusahaan optimistis dapat mempertahankan momentum pertumbuhan bisnis di Indonesia.

PT Hanwha Life Insurance Indonesia telah memperoleh izin dan berada di bawah pengawasan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) sejak 24 Oktober 2013. Perusahaan merupakan bagian dari Hanwha Group, salah satu konglomerasi terbesar di Korea Selatan.

EDITOR: Edy Pramana