← Beranda
Pameran GIFA-METEC 2026 Hadirkan Inovasi Industri Logam Internasional
Nanda PrayogaKamis, 10 September 2026 | 04.32 WIB
Pameran internasional GIFA Indonesia dan METEC Indonesia 2026 resmi dibuka di Jakarta International Expo (JIExpo) Kemayoran Jakarta pada Rabu (9/9) (Dok Nanda Prayoga/JawaPos.com).

JawaPos.com - Pameran internasional GIFA Indonesia dan METEC Indonesia 2026 resmi dibuka di Jakarta International Expo (JIExpo) Kemayoran, Jakarta pada Rabu (9/9). Memasuki edisi ketiga, pameran yang berfokus pada industri pengecoran dan metalurgi ini diikuti lebih dari 260 eksibitor dari 19 negara.

Pameran ini akan berlangsung hingga 12 September mendatang. GIFA Indonesia dan METEC Indonesia menempati area lebih dari 8 ribu meter persegi. Kedua pameran tersebut digelar oleh Messe Düsseldorf Asia bersama PT Pamerindo Indonesia dan menjadi bagian dari IEE Series - Engineering Week 2026 berdampingan dengan Mining Indonesia ke-24.

Selain menjadi ajang bisnis, pameran ini mempertemukan industri lokal dengan teknologi dan keahlian internasional. Berbagai solusi yang ditampilkan mencakup otomatisasi, efisiensi energi, simulasi pengecoran, digitalisasi pabrik, hingga teknologi pengolahan aluminium.

Sejumlah negara turut membawa teknologi masing-masing. Tiongkok antara lain menghadirkan Metallurgical Corporation of China Ltd (MCC) dan Foshan Diamond Technology Co., Ltd. India diwakili Ashapura International Limited dan Secure Meters, sementara Singapura menghadirkan MAGMA Engineering Asia Pacific Pte. Ltd dengan teknologi simulasi pengecoran.

Austria membawa solusi digitalisasi dan otomatisasi melalui Qoncept Technology GmbH. Sementara itu, Jerman menampilkan teknologi tungku induksi hemat energi dari ABP Induction Systems GmbH. Italia, Spanyol, dan negara lainnya juga menghadirkan berbagai solusi untuk mendukung kebutuhan industri logam.

Pameran ini diperkirakan menarik lebih dari 6 ribu pengunjung profesional. Para pelaku industri dapat bertemu dengan produsen peralatan, pemasok bahan baku, ahli teknologi, hingga perusahaan fabrikasi logam dari berbagai negara.

Managing Director Messe Düsseldorf Asia Lars Wismer menilai Indonesia tengah memasuki tahap penting dalam transformasi industry. Terutama dalam meningkatkan nilai tambah komoditas melalui penguatan sektor hilir.

“Indonesia telah membuktikan bahwa mereka dapat membangun kapasitas dalam skala besar. Tantangan selanjutnya, dan peluang yang lebih besar, terdapat pada penguatan ekosistem hilir yang mengubah aluminium mentah menjadi produk bernilai tinggi dan kompetitif di tingkat internasional,” ujar Lars Wismer di Jiexpo Kemayoran, Jakarta Pusat, Rabu (9/9).

Dia menjelaskan bahwa industri logam Indonesia sedang bergeser dari ‘seberapa banyak yang dapat kita produksi’ menjadi ‘apa yang dapat kita buat darinya’. Pergeseran itulah yang menjadikan GIFA dan METEC Indonesia berdiri.

 

“Dengan menyatukan perusahaan pengecoran, pengolahan aluminium, dan penyedia yang membawa teknologi tersebut dalam satu panggung pameran, kami memberikan pasar sebuah tempat untuk bersama-sama memikirkan bagaimana keunggulan bahan baku Indonesia menjadi keunggulan manufaktur yang sesungguhnya,” ungkap Wismer.

Dari dalam negeri, sejumlah perusahaan seperti PT Wilisindomas Indahmakmur, PT CITEC Engineering Indonesia, PT Wintherm Bara Indonesia, PT Duta Laserindo Metal, dan PT Presisi Digital Modern Teknologi turut ambil bagian.

Salah satu sorotan pada penyelenggaraan tahun ini adalah debut Aluminium Pavilion. Area khusus tersebut mempertemukan teknologi untuk berbagai tahapan produksi aluminium. Mulai dari peleburan, pembuatan paduan, ekstrusi, rolling, produksi kawat, pemotongan presisi, hingga pengolahan scrap metal.

Kehadiran paviliun tersebut sejalan dengan perkembangan industri aluminium Indonesia dan meningkatnya kebutuhan material ringan untuk kendaraan listrik, konstruksi, serta infrastruktur energi terbarukan.

Sementara itu, Country General Manager PT Pamerindo Indonesia Lia Indriasari mengatakan, perkembangan pembangunan smelter aluminium perlu diikuti dengan peningkatan kapasitas industri hilir.

“Dengan adanya kemajuan pembangunan smelter aluminium di Indonesia, perluasan kapasitas hilirisasi domestik merupakan langkah selanjutnya yang masuk akal. Aluminium Pavilion ini menyediakan akses langsung kepada teknologi yang dibutuhkan bagi para pelaku industri dalam negeri,” ungkapnya.

Selain pameran, GIFA dan METEC Indonesia 2026 juga menghadirkan program edukasi. Gabungan Industri Pengerjaan Logam dan Mesin Indonesia (GAMMA) bersama Asosiasi Industri Pengecoran Logam Indonesia (APLINDO) akan menggelar seminar pada 10 September dengan tema penguatan daya saing manufaktur melalui mesin canggih, otomatisasi, dan inovasi industri.

 

EDITOR: Diar Candra