← Beranda
Risiko Industri Kian Kompleks, Fokus Keselamatan Kerja Makin Penting
Nanda PrayogaKamis, 10 September 2026 | 01.30 WIB
Sales & Marketing Director PT Wahana Safety Indonesia Fransiscus B. Hermanto (M.Ridwan/JawaPos.com)

JawaPos.com - Dunia industri menghadapi tantangan yang semakin beragam seiring tekanan untuk meningkatkan efisiensi dan produktivitas. Di tengah dinamika ekonomi global, perusahaan dituntut mampu menjaga kinerja operasional tanpa mengesampingkan keselamatan pekerja.

Risiko di lingkungan kerja juga berkembang melampaui potensi kecelakaan yang berasal dari aktivitas operasional. Kebakaran serta paparan asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) menjadi faktor lain yang perlu diperhatikan, terutama bagi perusahaan yang beroperasi di wilayah terdampak.

Situasi tersebut membuat kesiapan keselamatan perlu mencakup lebih banyak aspek. Perlindungan individu, pencegahan dan penanganan kebakaran, pengendalian paparan asap, perlindungan pernapasan, hingga kesiapan menghadapi kondisi darurat menjadi bagian yang perlu dipertimbangkan perusahaan sesuai karakteristik kegiatan operasionalnya.

Data BPJS Ketenagakerjaan yang disampaikan Menteri Ketenagakerjaan mencatat sebanyak 319.224 klaim kecelakaan kerja sepanjang 2025. Dari jumlah tersebut, 9.834 kasus tercatat sebagai fatality. Data ini memperlihatkan bahwa Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3) masih menjadi tantangan serius, terutama pada sektor dengan tingkat risiko tinggi seperti pertambangan, minyak dan gas, konstruksi, manufaktur, serta energi.

PT Wahana Safety Indonesia (WSI) menilai kebutuhan meningkatkan keselamatan kerja seharusnya tidak diposisikan berlawanan dengan upaya perusahaan melakukan efisiensi. Penerapan K3 yang sesuai dengan kondisi dan risiko pekerjaan justru dapat mendukung produktivitas sekaligus menjaga keberlangsungan operasional.

“Di tengah tuntutan produktivitas dan efisiensi, keselamatan harus tetap menjadi prioritas. Risiko yang dihadapi industri juga terus berkembang, termasuk risiko kebakaran dan paparan asap. Karena itu, perusahaan perlu melihat kebutuhan keselamatan secara lebih menyeluruh sesuai dengan kondisi operasionalnya,” ujar Fransiscus B. Hermanto, Sales & Marketing Director PT Wahana Safety Indonesia di Jiexpo Kemayoran, Jakarta Pusat, Rabu (9/9).

Pandangan tersebut menjadi salah satu hal yang dibawa WSI dalam partisipasinya di GIFA Indonesia 2026, yang merupakan bagian dari Indonesia Energy & Engineering (IEE) Series - Engineering Week 2026. Pameran tersebut berlangsung pada 9-12 September 2026 di Jakarta International Expo (JIExpo), Kemayoran, Jakarta.

WSI memandang GIFA Indonesia 2026 tidak hanya sebagai tempat memperkenalkan produk. Ajang tersebut juga dimanfaatkan untuk bertemu dengan pelaku industri sekaligus mendiskusikan berbagai persoalan keselamatan yang mereka temui dalam kegiatan operasional sehari-hari.

Berbekal pengalaman lebih dari dua dekade, WSI menghadirkan beragam solusi keselamatan, meliputi head protection, respiratory protection, eye and face protection, hand protection, protective apparel, safety footwear, fall protection, gas detection, hingga fire safety.

 

Perhatian terhadap risiko kebakaran dan paparan asap turut mendorong WSI memperkuat portofolio solusi fire safety. Salah satu yang diperkenalkan adalah Allsafe FireGuard.

Untuk menghadirkan solusi tersebut, WSI bekerja sama dengan principal dan mitra global yang memiliki keahlian di bidang masing-masing. Beberapa di antaranya adalah Rosenbauer untuk solusi fire safety serta Sundström Safety untuk respiratory protection. Kolaborasi ini menjadi bagian dari upaya WSI menyediakan solusi yang relevan dengan kebutuhan industri dengan dukungan pengalaman dan teknologi global.

Dukungan mitra tersebut turut memperkuat pendekatan WSI terhadap perlindungan keselamatan secara menyeluruh. Kebutuhan perusahaan tidak hanya berkaitan dengan perlindungan individu, tetapi juga kesiapan menghadapi berbagai kondisi yang dapat mengganggu keselamatan di lingkungan kerja.

Lebih lanjut, Frans menekankan pentingnya pendekatan keselamatan yang berangkat dari pemahaman terhadap risiko. “Kami ingin mengubah percakapan dari sekadar ‘produk apa yang dibutuhkan?’ menjadi ‘risiko apa yang sebenarnya perlu kita lindungi?’. Ketika risikonya dipahami dengan tepat, perusahaan dapat menentukan solusi perlindungan yang lebih relevan dengan kondisi operasionalnya,”

Melalui GIFA Indonesia 2026 yang menjadi bagian dari IEE Series 2026, WSI ingin terus mendorong penerapan K3 sebagai bagian dari strategi bisnis. Menurut perusahaan, pendekatan tersebut dapat membantu mendukung business continuity, operational reliability, dan produktivitas.

Dengan semakin beragamnya potensi bahaya yang dihadapi pekerja, perlindungan keselamatan kerja perlu ditempatkan sebagai bagian dari kesiapan operasional perusahaan. Pemahaman terhadap kondisi lapangan dan identifikasi risiko menjadi dasar untuk menentukan bentuk perlindungan yang sesuai.

Pada akhirnya, tuntutan efisiensi tidak semestinya membuat keselamatan dan produktivitas dipandang sebagai dua hal yang harus dipilih. Keduanya dapat berjalan beriringan ketika perusahaan mampu menyesuaikan penerapan K3 dengan risiko dan kebutuhan operasional yang dihadapi.

 

EDITOR: Diar Candra