JawaPos.com - Akses pembiayaan bagi pelaku usaha terus mendapat dukungan dari industri penjaminan. Hingga Semester I 2026, volume penjaminan mencapai Rp 157,30 triliun dan telah menjangkau sekitar 2,28 juta pelaku usaha. Di balik ekspansi tersebut, kinerja keuangan perusahaan penjaminan juga menguat dengan laba sebelum pajak mencapai Rp 743,23 miliar, naik 34,70 persen secara tahunan.
Pertumbuhan tersebut menunjukkan semakin kuatnya kapasitas industri penjaminan dalam menopang pembiayaan sekaligus menjaga kinerja bisnis di tengah dinamika ekonomi global. Penguatan fundamental dan transformasi bisnis menjadi modal penting untuk memperluas akses pembiayaan, terutama bagi UMKM yang masih membutuhkan dukungan dalam memperoleh kredit.
Capaian tersebut dibukukan PT Jaminan Kredit Indonesia (Persero) atau Jamkrindo. Hingga 30 Juni 2026, perusahaan mencatat laba sebelum pajak Rp 743,23 miliar, meningkat dari Rp551,76 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Laba Tumbuh, Bisnis Penjaminan Ikut Menguat
Kinerja positif Jamkrindo tidak hanya terlihat dari pertumbuhan laba. Hingga 30 Juni 2026, perseroan mencatatkan imbal jasa penjaminan bersih sebesar Rp 3,16 triliun, tumbuh 21,49 persen dibandingkan Semester I 2025.
Dari sisi neraca, total aset Jamkrindo mencapai Rpn29,83 triliun, sedangkan total ekuitas tercatat Rp 13,90 triliun. Posisi tersebut menunjukkan kapasitas keuangan perusahaan tetap kuat untuk menopang ekspansi bisnis secara berkelanjutan.
Direktur Utama Jamkrindo Abdul Bari mengatakan capaian tersebut tidak terlepas dari transformasi yang dilakukan secara menyeluruh, mulai dari bisnis, organisasi, sumber daya manusia, budaya kerja, hingga operasional serta sistem dan teknologi.
"Transformasi menjadi fondasi bagi Jamkrindo untuk memperkuat kapabilitas organisasi, meningkatkan kinerja perusahaan, serta menjaga pertumbuhan yang berkelanjutan. Melalui penguatan yang dilakukan secara terintegrasi, kami terus membangun organisasi yang lebih tangguh, adaptif, dan mampu menciptakan nilai tambah bagi seluruh pemangku kepentingan," ujar Abdul Bari melalui keterangannya.
Menurut dia, transformasi tersebut diarahkan untuk meningkatkan produktivitas dan mempercepat proses bisnis sekaligus memperkuat manajemen risiko. Efisiensi operasional juga menjadi bagian penting agar perusahaan lebih adaptif menghadapi perubahan kondisi ekonomi.
Penjaminan Rp 157,3 Triliun, Jangkau 2,28 Juta Pelaku Usaha
Di balik pertumbuhan kinerja keuangan tersebut, Jamkrindo juga mencatatkan kontribusi yang lebih luas terhadap perekonomian nasional. Hingga Semester I 2026, volume penjaminan yang dibukukan Jamkrindo mencapai Rp 157,30 triliun. Penjaminan tersebut telah memberikan akses kepada sekitar 2,28 juta pelaku usaha.
Besarnya volume penjaminan menunjukkan peran perusahaan bukan sekadar mengejar pertumbuhan bisnis. Penjaminan menjadi instrumen yang membantu pelaku usaha memperoleh akses pembiayaan, khususnya ketika keterbatasan agunan atau profil risiko menjadi salah satu hambatan mendapatkan kredit.
Dengan akses pembiayaan yang semakin luas, sektor UMKM memiliki ruang lebih besar untuk mempertahankan maupun mengembangkan aktivitas usahanya. Pada skala yang lebih luas, pembiayaan tersebut ikut menopang aktivitas ekonomi dan inklusi keuangan.
Penguatan fundamental tersebut juga menjadi modal bagi Jamkrindo untuk mengambil peran lebih besar dalam industri penjaminan nasional.
Sebagai bagian dari Holding Indonesia Financial Group (IFG), Jamkrindo mendukung agenda konsolidasi dan streamlining industri penjaminan yang menjadi arah strategis pemegang saham.
Konsolidasi tersebut diharapkan dapat memperkuat kapasitas kelembagaan dan tata kelola sekaligus meningkatkan daya saing industri. Bagi perekonomian, industri penjaminan yang lebih kuat dapat memperbesar kapasitas dukungan terhadap pembiayaan dan memperkuat stabilitas sistem keuangan.
"Konsolidasi dan streamlining merupakan langkah strategis untuk membangun industri penjaminan yang lebih kuat, berdaya saing, dan mampu memberikan nilai tambah yang lebih besar bagi perekonomian nasional," ujar Abdul Bari.
Strategi Jamkrindo juga tidak berhenti pada ekspansi usaha. Perseroan menjalankan sejumlah program tanggung jawab sosial dan lingkungan (TJSL) yang menyasar pendidikan, pemberdayaan ekonomi masyarakat, dan lingkungan.
Ke depan, Jamkrindo menyebut akan melanjutkan transformasi untuk memperkuat daya saing, memperluas akses pembiayaan UMKM, meningkatkan kualitas layanan, serta menciptakan nilai tambah berkelanjutan.