← Beranda
Rupiah Terancam Melemah ke Rp 17.800, Efek Konflik AS-Iran dan Suku Bunga The Fed
Djati WaluyoKamis, 3 September 2026 | 14.38 WIB
Ilustrasi Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS).

 

JawaPos.com - Nilai tukar rupiah terhadap dollar AS diprediksi akan kembali melemah pada perdagangan Kamis (3/9), setelah ditutup melemah 19 poin menjadi Rp 17.763 per dollar AS pada perdagangan Rabu (2/9).

Pengamat Ekonomi, Mata Uang, dan Komoditas, Ibrahim Assuaibi, mengatakan pergerakan rupiah pada hari ini tetap akan dipengaruhi oleh sentimen dalam dan luar negeri.

Namun, kali ini sentimen luar negeri lebih dominan, terutama perkembangan terbaru konflik Amerika Serikat dengan Iran, juga perkembangan di Federal Reserve (The Fed).

"Perdagangan (3/9) mata uang Rupiah fluktuatif namun ditutup melemah di rentang Rp 17.760-Rp 17.800," ujar Ibrahim dalam keterangan yang diterima, Kamis (3/9).

Baca Juga: Rupiah Diprediksi Melemah Rabu 2 September, Bisa Tembus Rp 17.790 per Dolar AS

Ibrahim mengatakan, sentimen eksternal masih menjadi perhatian pelaku pasar, terutama eskalasi konflik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran yang berpotensi kembali mendorong kenaikan harga energi global.

Militer AS menyatakan pada Selasa malam telah menyelesaikan gelombang serangan terbaru terhadap Iran dengan menyasar sejumlah target Korps Garda Revolusi Islam (IRGC).

Pasukan AS menyerang target IRGC yang mencakup situs pertahanan udara, sistem radar, aset dan fasilitas maritim, kemampuan penebaran ranjau, serta situs komunikasi.

Laporan Axios yang mengutip pejabat AS juga menyebut militer AS menyerang dua kapal tanker milik pemerintah Iran dalam serangan tersebut.

Baca Juga: Rupiah Menguat Jadi Rp 17.715 per Dolar AS, Gubernur BI Destry Damayanti Beberkan Strategi Utama

Eskalasi konflik tersebut menjadi salah satu faktor yang berpotensi meningkatkan ketidakpastian di pasar keuangan global.

Kenaikan harga energi juga dapat memberikan tekanan tambahan terhadap inflasi dan memengaruhi arah kebijakan bank sentral global.

Di sisi lain, pasar juga mencermati arah kebijakan moneter Federal Reserve (The Fed).

Retorika hawkish Ketua Kevin Warsh terkait inflasi dalam Simposium Jackson Hole kembali memunculkan spekulasi mengenai kemungkinan kenaikan suku bunga.

Berdasarkan CME FedWatch Tool, probabilitas kenaikan suku bunga pada pertemuan The Fed 15–16 September berada di sekitar 65 persen, meningkat dari sekitar 40 persen sepekan sebelumnya.

Baca Juga: Rupiah Diprediksi Melemah di Awal September, Imbas Subsidi BBM dan Tekanan Global

Sementara itu, dari dalam negeri, Gubernur Bank Indonesia (BI) yang baru ditunjuk, Destry Damayanti, memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2027 berada di kisaran 5,2–6 persen.

Destry juga memperkirakan nilai tukar rupiah pada 2027 berada di kisaran Rp17.300–Rp17.800 per dolar AS.

Proyeksi tersebut ditopang oleh inflasi yang tetap berada dalam sasaran, neraca pembayaran yang sehat, imbal hasil investasi yang menarik, perkembangan pasar keuangan, serta kecukupan cadangan devisa.

 

EDITOR: Bayu Putra