← Beranda
Rupiah Diprediksi Melemah di Awal September, Imbas Subsidi BBM dan Tekanan Global
Djati WaluyoSelasa, 1 September 2026 | 17.22 WIB
Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS)

JawaPos.com - Nilai tukar rupiah terhadap Dolar AS (USD) diperkirakan akan kembali melemah pada perdagangan Selasa (1/9), setelah ditutup melemah 29 poin menjadi Rp 17.722 per dollar AS pada perdagangan Senin (31/8).

Pengamat Ekonomi, Mata Uang, dan Komoditas, Ibrahim Assuaibi mengatakan, pergerakan rupiah pada hari ini akan dipengaruhi oleh sentimen dalam negeri negeri.

"Untuk perdagangan (1/9) mata uang Rupiah fluktuatif namun ditutup melemah di rentang Rp 17.720-Rp 17.780," ujar Ibrahim dalam keterangan yang diterima, Selasa (1/9).

Ibrahim mengatakan, tekanan terhadap rupiah datang dari ketidakpastian geopolitik global dan kenaikan harga energi.

Baca Juga: Rupiah Berfluktuasi Hari Ini, Sentimen Demo DPR dan Survei Prabowo-Gibran Jadi Sorotan

Kondisi tersebut berpotensi semakin membebani Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), terutama melalui peningkatan kebutuhan subsidi dan kompensasi energi.

Menurutnya, kondisi tersebut menjadi momentum bagi pemerintah untuk melakukan reformasi terhadap skema subsidi dan kompensasi energi.

Hingga akhir Juni 2026, realisasi subsidi dan kompensasi energi tercatat telah mencapai sekitar Rp 233 triliun.

Angka tersebut diperkirakan masih akan meningkat hingga akhir tahun dan berpotensi memberikan tekanan lebih besar terhadap kondisi fiskal pada 2027.

Besarnya risiko subsidi energi Indonesia tidak terlepas dari ketergantungan terhadap sejumlah faktor eksternal, terutama harga energi global dan nilai tukar rupiah.

Baca Juga: Rupiah Berpotensi Melemah ke Rp 17.760, Pasar Soroti Data PCE AS dan Suku Bunga The Fed

Ibrahim menjelaskan, terdapat tiga variabel utama yang menentukan besaran subsidi energi, yakni harga energi di pasar global, nilai tukar rupiah, serta tingkat konsumsi energi domestik.

Pada saat yang sama, depresiasi nilai tukar rupiah terhadap dolar AS juga membuat biaya pengadaan energi menjadi lebih mahal.

"Kondisi tersebut pada akhirnya meningkatkan kebutuhan anggaran untuk subsidi dan kompensasi energi," ujarnya.

Ia mengatakan, realisasi subsidi dan kompensasi energi hingga akhir 2026 dapat meningkat menjadi sekitar Rp 526 triliun.

Dengan demikian, terdapat potensi kenaikan hampir Rp 200 triliun dibandingkan alokasi awal dalam APBN 2026 yang berada di kisaran Rp 338 triliun.

Baca Juga: Rupiah Diprediksi Kembali Melemah Hari Ini, Pandangan Fitch Ratings Soal Ekonomi RI Jadi Pemicu?

Selain itu, Pemerintahan Presiden Prabowo Subianto mempersiapkan anggaran subsidi BBM jenis tertentu dalam RAPBN 2027 lebih tinggi dibandingkan perkiraan realisasi APBN 2026.

Berdasarkan dokumen Nota Keuangan beserta RAPBN Tahun Anggaran 2027, nilai anggaran subsidi BBM jenis tertentu, seperti Pertalite hingga Solar mencapai Rp 28,7 triliun.

Angka ini naik sekitar 8,71 persen dibandingkan perkiraan realisasi tahun 2026 yang sebesar Rp 26,4 triliun.

Rancangan anggaran subsidi energi untuk tahun 2027 mencapai Rp 272,94 triliun, atau meningkat sebesar 20,1 persen dibandingkan perkiraan realisasi tahun 2026 yang sebesar Rp 227,25 triliun.

Baca Juga: Rupiah Berpotensi Melemah Hari Ini, Dipengaruhi Sentimen Suku Bunga The Fed

 

EDITOR: Bayu Putra