JawaPos.com - PT Pertamina Lubricants terus memperluas pasar global di tengah ketatnya persaingan industri pelumas. Produk pelumas buatan dalam negeri tersebut saat ini telah dipasarkan ke 16 negara, dengan kontribusi ekspor sekitar 3 persen dari total penjualan.
Corporate Secretary Pertamina Lubricants Rika Gresia Wahyudi mengatakan, bisnis pelumas menjadi salah satu lini usaha Pertamina yang terus dikembangkan, selain sektor bahan bakar minyak (BBM) dan LPG.
“Pertamina itu bisnisnya tidak hanya BBM ataupun LPG, tapi kita juga punya bisnis pelumas, baik untuk kendaraan maupun industri,” ujar Rika kepada wartawan di Production Unit Jakarta (PUJ), Jakarta Utara, Rabu (12/8).
Menurut dia, industri pelumas memiliki tingkat persaingan yang tinggi karena terdapat lebih dari 200 merek yang terdaftar di Indonesia. Kondisi tersebut membuat Pertamina Lubricants harus terus meningkatkan kualitas produk dan daya saing di pasar domestik maupun internasional.
“Di industri pelumas ini persaingannya sempurna. Jadi walaupun Pertamina itu BUMN, merek pelumas Pertamina bersaing dengan merek-merek lain, baik itu merek global kalau untuk di internasional, bahkan di domestik sendiri kita juga bersaing dengan merek global dan tentunya juga merek lokal,” jelasnya.
Baca Juga: Lampaui Target RKAP 2026, Dekarbonisasi Pertamina Capai 118 Persen di Semester I
Saat ini, Pertamina Lubricants memiliki tiga fasilitas produksi di Indonesia, yakni Production Unit Jakarta, Gresik, dan Cilacap. Dari tiga fasilitas tersebut, PUJ menjadi pabrik dengan kapasitas terbesar mencapai 270.000 kiloliter per tahun, dari total gabungan secara keseluruhan 470.000 kiloliter per tahun.
Rika menyebut, fasilitas produksi tersebut menggunakan teknologi otomatisasi untuk menjaga kualitas dan konsistensi produk. Selain pasar dalam negeri, produk pelumas Pertamina juga telah memasuki pasar ekspor.
“Kita sudah merambah ke pasar mancanegara. Kita sudah merambah mencapai ke 16 negara untuk saat ini,” katanya.
Ekspor Tembus 11 Ribu KL
Dari sisi volume, ekspor pelumas Pertamina saat ini masih memiliki porsi sekitar 3 persen dari keseluruhan penjualan. Manager Production Pertamina Lubricants Unit Jakarta Dody Arief Aditya menyebut volume ekspor tersebut mencapai sekitar 11.000 kiloliter per tahun.
“Sekitar 11.000 KL untuk ekspor per tahunnya,” ujar Dody.
Ia menambahkan, penggunaan teknologi modern di fasilitas produksi menjadi salah satu faktor penting untuk mendukung ekspansi pasar global. Proses produksi, mulai dari pencampuran bahan (blending) hingga pengisian kemasan (filling), telah menggunakan sistem otomatisasi.
“Teknologi yang modern ini yang pertama akan menjamin kualitas produk yang kita produksi. Dengan teknologi yang serba otomatis itu, tingkat akurasi proses produksi kita, kontaminasi produk, itu bisa kita cegah,” jelasnya.
Menurut Dody, otomatisasi juga membuat kapasitas produksi menjadi lebih besar dibandingkan metode konvensional. Saat ini, kapasitas produksi pelumas mencapai 270 juta liter, sedangkan produk grease mencapai 8.000 metrik ton.
“Harapan kami produk-produk yang kita produksi itu secara kualitas dijamin stabil dan kita menerapkan berbagai standar testing dan metode uji kualitas skala internasional di Production Unit Jakarta,” katanya.
Meski mengadopsi teknologi modern, Dody menyebut proses produksi di PUJ belum sepenuhnya menggunakan kecerdasan buatan (AI). Sistem yang digunakan saat ini masih berbasis otomatisasi dengan formula produksi yang telah terintegrasi.
“Prosesnya masih semi konvensional. Jadi katakanlah misalkan proses blending, saat ini kita tinggal panggil saja formulanya, kemudian tentukan mau di-blending di mana, jumlahnya berapa, maka semuanya sudah dilakukan secara otomatis,” ujar Dody.
Hadapi Tantangan Bahan Baku
Rika mengungkapkan, ekspansi ke pasar internasional memiliki tantangan tersendiri, terutama karena persaingan dengan berbagai merek global. Selain itu, dinamika geopolitik dunia juga turut memengaruhi rantai pasok bahan baku industri pelumas.
“Geopolitik itu basically mempengaruhi pada pasokan bahan baku, dan itu tidak hanya ke Pertamina tapi industri pelumas secara keseluruhan,” kata Rika.
Namun, dia memastikan pasokan bahan baku Pertamina Lubricants masih dapat diamankan karena sebagian besar berasal dari produksi dalam negeri.
“Pertamina itu produknya, bahan bakunya itu sebagian besar diproduksi di kilang Pertamina sendiri yaitu di dalam negeri, yaitu oleh kilang RU II Dumai dan juga kilang RU IV Cilacap. Apakah mempengaruhi? Iya, tetapi kami masih bisa mengamankan pasokan itu,” jelasnya.
Di sisi lain, Pertamina Lubricants juga menjaga pasar domestik dengan memperkuat jaringan distribusi. Saat ini terdapat hampir 7.500 outlet resmi yang menjual produk pelumas Pertamina di seluruh Indonesia.
Hindari Pembelian Oli Palsu
Rika mengingatkan konsumen agar membeli produk melalui saluran resmi untuk menghindari peredaran oli palsu. Ia meminta konsumen memerhatikan identitas dari botol oli.
“Selalu memperhatikan karena di setiap botol itu ada identitasnya. Kalau oli palsu itu kan pasti tidak memiliki identitas,” ujarnya.
Ia menambahkan, konsumen juga perlu memperhatikan kode QR dan nomor seri pada kemasan serta tidak hanya mempertimbangkan harga murah.
“Jangan hanya melihat dari harga saja. Setiap kemasan itu ada identitasnya yang ada QR-nya, ada nomor serinya juga, itu yang kami mohon kami imbau selalu kepada konsumen agar berhati-hati,” pungkasnya.