← Beranda
Laba Naik Jadi Rp 294,85 Miliar, Kredit UMKM dan Konsumer Terus Tumbuh
AntaraSabtu, 1 Agustus 2026 | 06.11 WIB
Bank Neo Commerce mencatat laba bersih Rp 294,85 miliar pada semester I 2026. Di saat yang sama, kredit UMKM dan konsumer terus tumbuh. (Istimewa)

 

 

JawaPos.com - Di tengah dinamika industri perbankan dan tantangan ekonomi yang masih berlangsung, sejumlah bank digital memilih mengarahkan strategi bisnis pada pembiayaan yang lebih selektif, peningkatan efisiensi operasional, serta pengembangan layanan transaksi digital untuk menjaga pertumbuhan yang berkelanjutan.

"Fokus kami selalu pada penguatan tata kelola serta memastikan produk dan layanan yang kami hadirkan tetap relevan dengan kebutuhan keuangan masyarakat, terutama untuk kebutuhan sehari-hari," ujar Direktur Utama PT Bank Neo Commerce Tbk (BNC) Eri Budiono dalam media gathering di Jakarta, Jumat (31/7).

Strategi tersebut turut mendorong kinerja positif perseroan. Sepanjang semester I 2026, Bank Neo Commerce membukukan laba bersih setelah pajak (profit after tax/PAT) sebesar Rp 294,85 miliar atau meningkat 6,81 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar Rp 276,05 miliar.

Di sisi lain, total aset perseroan tercatat Rp 17,45 triliun pada akhir Juni 2026 atau turun 2,83 persen secara tahunan. Penyaluran kredit juga turun 11,79 persen menjadi Rp 7,13 triliun. "Kami memilih fokus pada segmen ritel yang menjadi keunggulan perseroan dalam menganalisis dan menyeleksi nasabah," kata Eri.

Menurut perseroan, penurunan kredit terutama berasal dari segmen komersial dan korporat sebagai bagian dari optimalisasi portofolio guna meningkatkan kualitas aset di tengah kondisi ekonomi yang masih menantang.

Meski demikian, penyaluran kredit ke segmen konsumer dan UMKM justru menunjukkan tren positif. Nilainya mencapai Rp 5,80 triliun atau tumbuh 6,68 persen dibandingkan semester I 2025 yang sebesar Rp 5,44 triliun. 

Perbaikan juga terlihat dari sisi kualitas kredit. Rasio non-performing loan (NPL) gross turun menjadi 2,99 persen dari sebelumnya 3,10 persen.  Hasil tersebut didukung penguatan tata kelola risiko, penyempurnaan proses underwriting secara digital, serta penerapan prinsip kehati-hatian dalam penyaluran kredit.

Dari sisi pendanaan, dana pihak ketiga (DPK) tercatat sebesar Rp 12,30 triliun atau turun 7,74 persen secara tahunan. Namun, dana tabungan meningkat 2,10 persen menjadi Rp 3,39 triliun sehingga rasio current account saving account (CASA) naik menjadi 32,21 persen dari sebelumnya 30,09 persen.

Chief Financial Officer Bank Neo Commerce Sufen Triantio mengatakan, mereka terus mengevaluasi tingkat bunga deposito sehingga biaya dana dapat ditekan. "Ketika yield bank naik dan cost of fund turun, business model tersebut akan terus kita pertahankan," ujarnya.

Dari sisi pendapatan, net interest income (NII) mencapai Rp1,11 triliun. Sementara itu, pendapatan berbasis komisi (fee based income) naik 6,77 persen menjadi Rp59,66 miliar, menandakan kontribusi pendapatan non-bunga terus bertambah.

Layanan QRIS menjadi salah satu motor pertumbuhan. Jumlah transaksi melonjak 124 persen dari 119,3 juta transaksi pada semester I 2025 menjadi 267,4 juta transaksi pada semester I 2026. Pendapatan yang dihasilkan dari layanan tersebut bahkan meningkat 246 persen menjadi Rp 25,8 miliar dibandingkan Rp 7,4 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Efisiensi operasional juga terus membaik. Rasio BOPO turun menjadi 82,31 persen dari 84,81 persen. Di saat yang sama, rasio return on assets (ROA) naik menjadi 3,23 persen dari 3,09 persen.

Permodalan perseroan juga mengalami peningkatan. Capital adequacy ratio (CAR) mencapai 50,23 persen, naik dari 41,27 persen pada semester I 2025. Modal inti ikut tumbuh 14,52 persen secara tahunan menjadi Rp 4,20 triliun. (*)

 

EDITOR: Dinarsa Kurniawan