JawaPos.com - Nilai tukar rupiah terhadap Dolar AS (USD) diperkirakan akan kembali melemah pada perdagangan Kamis (30/7), setelah ditutup menguat 10 poin menjadi Rp 18.073 per dollar AS pada perdagangan Rabu (29/7).
Pengamat Ekonomi, Mata Uang, dan Komoditas Ibrahim Assuaibi mengatakan, pergerakan rupiah pada hari ini akan lebih banyak dipengaruhi oleh sentimen dalam negeri.
"Untuk perdagangan (30/7) mata uang Rupiah fluktuatif namun ditutup melemah di rentang Rp 18.070-Rp 18.130," ujar Ibrahim dalam keterangan yang diterima, Kamis (30/7).
Ibrahim mengatakan, Pasar merespons negatif terhadap kinerja Presiden Prabowo Subianto yang hasiil survei kepuasannya turun drastis menjadi 49,5 persen.
Baca Juga: Prediksi Kurs Rupiah 29 Juli: Berpotensi Melemah ke Rp 18.020 per USD
Hal itu berdasarkan hasil survei yang dilakukan Indikator Politik Indonesia terhadap 4.250 responden pada periode 14 Juli hingga 24 Juli 2026.
Tingkat kepuasan kinerja Prabowo ini turun sekitar 18 persen dari hasil survei Indikator Politik Indonesia pada April 2026.
Saat itu, tingkat kepuasan kinerja Prabowo mencapai 68 persen. Bahkan pada Desember 2025, tingkat kepuasan terhadap kinerja Prabowo mencapai 81 persen.
Kemudian, pengaruh lainnya datang pasca pengunduran Perry Warjiyo sebagai Gubernur Bank Indonesia.
BI terus berkomitmen menjaga stabilitas yang menjadi prasyarat utama dalam mendukung pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.
Baca Juga: Gubernur BI Mundur Diduga karena Rupiah Gagal Stabil, Suku Bunga Naik 2 Kali
Stabilisasi nilai tukar rupiah terus diperkuat, sehingga konsisten mendukung pencapaian sasaran inflasi dan mendorong kegiatan ekonomi.
Selain itu, optimalisasi bauran kebijakan moneter dalam menjaga stabilitas nilai tukar rupiah ditingkatkan, tidak hanya mengandalkan suku bunga kebijakan, instrumen moneter lain juga dipertajam.
“Berbagai instrumen terus dioptimalkan untuk menjaga stabilitas nilai tukar, sekaligus mendukung masuknya aliran modal asing,” ujarnya.