← Beranda
LPEI: Modernisasi dan Rantai Pasok Kunci Industri Tekstil Bersaing di Pasar Global
Djati WaluyoKamis, 30 Juli 2026 | 05.29 WIB
Seperti halnya gadget yang kita pakai sehari-hari, teknologi di industri tekstil dan garmen juga berkembang sangat pesat. (Istimewa)

JawaPos,com - Membaiknya permintaan global membuat industri tekstil dan produk tekstil (TPT) Indonesia dinilai masih memiliki peluang besar untuk memperkuat kontribusinya terhadap ekspor nasional.

Meski begitu, daya saing industri perlu terus diperkuat melalui modernisasi produksi, penguatan rantai pasok, serta dukungan pembiayaan ekspor. Pasalnya, Indonesia masih menghadapi persaingan ketat dari negara produsen tekstil seperti China, India, dan Vietnam.

Indonesia Eximbank Institute mencatat permintaan global terhadap produk tekstil hulu, seperti benang, kain tenun, dan kain rajut, mulai menunjukkan tren pemulihan sepanjang 2025. Kondisi tersebut dinilai menjadi peluang bagi pelaku industri nasional untuk meningkatkan penetrasi ekspor.

Baca Juga: Sabet Dua Penghargaan Internasional, Kampus Kebon Jeruk Raih Champion Award

Direktur Pelaksana Bisnis I Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia (LPEI), Anton Herdianto mengatakan, daya saing ekspor tekstil Indonesia saat ini masih ditopang produk finished fabric yang menyumbang sekitar 74 persen dari total ekspor TPT nasional.

"Buyer global kini tidak hanya mempertimbangkan harga yang kompetitif, tetapi juga kualitas produk, ketepatan pengiriman, traceability, kepatuhan terhadap standar internasional, hingga penggunaan material yang berkelanjutan. Karena itu, penguatan rantai pasok menjadi kunci untuk menjaga daya saing ekspor Indonesia," ujar Anton dalam keterangan tertulis yang diterima, Rabu (29/7).

Indonesia Eximbank Institute memproyeksikan ekspor tekstil nasional akan terus tumbuh hingga 2027. Perbaikan prospek ekonomi global dan potensi penurunan suku bunga diperkirakan akan mendorong konsumsi masyarakat dunia, termasuk permintaan terhadap produk pakaian.

Ekspor tekstil nasional diperkirakan tumbuh 2 hingga 3,2 persen pada 2026, meningkat dibanding realisasi pertumbuhan saat ini yang berada di level 1,3 persen. Sementara pada 2027, pertumbuhan diproyeksikan mencapai 3,5 hingga 4 persen.

Anton menilai Indonesia memiliki modal kuat untuk memanfaatkan peluang tersebut. Selain didukung biaya tenaga kerja yang kompetitif, industri tekstil nasional juga telah terintegrasi dari sektor hulu hingga hilir.

Baca Juga: Shi Shi, Peraih Golden Melody Awards Merilis EP The Taste Of... Usai 2 Tahun Vakum

Ia menyebut, tantangan berikutnya adalah meningkatkan produktivitas, mempercepat modernisasi permesinan, serta memenuhi standar keberlanjutan yang kini menjadi syarat utama di pasar ekspor.

Lanjutnya, untuk mendukung transformasi industri, LPEI menyediakan berbagai fasilitas pembiayaan, penjaminan, asuransi, hingga trade finance bagi eksportir. Fasilitas tersebut meliputi pembiayaan pra-pengapalan (pre-shipment) dan pascapengapalan (post-shipment), Trade Credit Insurance (TCI) untuk melindungi risiko gagal bayar pembeli luar negeri, serta Marine Cargo Insurance sebagai perlindungan selama proses pengiriman barang.

"Penguatan rantai pasok tekstil nasional membutuhkan kolaborasi yang erat. LPEI hadir tidak hanya melalui pembiayaan, tetapi juga layanan advisory dan market insight agar eksportir semakin siap memenuhi kebutuhan pasar global," ujarnya.

EDITOR: Bintang Pradewo