JawaPos.com - Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Haratarto, menyebut industry kelapa sawit memiliki kontribusi yang cukup strategis baik dari sisi dukungan untuk kebijakan pemerintah maupun perekonomian Indonesia.
Airlangga menyebut, kontribusi industri kelapa sawit terhadap perekonomian Indonesia terlihat dari sumbangannya kepada produk domestik bruto (PDB) yang tercatat hingga 3,5 persen.
“Industri kelapa sawit punya posisi sangat strategis Kontribusinya 3,5 persen terhadap PDB dan ekspor tahun lalu mencapai USD 30,87 miliar, dengan volume eksopor mencapai 38,84 juta ton” ujar Airlangga pada penutupan Pekan Riset Sawit Indonesia (Perisai) 2026, Jakarta, Selasa (21/7).
Baca Juga: Ramalan Zodiak Aquarius 22 Juli 2026: Mulai dari Cinta, Karir, Kesehatan, dan Keuangan
Airlangga mengatakan, kelapa sawit juga turut membantu pemerintah dalam rangka mendukung transisi energi melalui program mandatori Biodiesel 50 persen (B50) yang telah diluncurkan oleh Presiden Prabowo Subianto pada 9 Juli 2026.
Ia menyebut, keberhasilan B50 juga harus menjadi landasan untuk mengembangkan generasi hilirisasi berikutnya, antara lain Green Diesel, Bio Avtur atau Sustainable Aviation Fuel (SAF) melalui pemanfaatan Used Cooking Oil (UCO), dan Bensin Sawit.
Dimana, produk-produk tersebut memiliki nilai tambah lebih tinggi dan dapat memperluas basis investasi nasional di luar produk sawit konvensional.
Selain itu, besarnya kontribusi kelapa sawit tersebut perlu terus diperkuat melalui peningkatan produktivitas, penguasaan teknologi, pengembangan produk hilir bernilai tambah, serta penerapan tata kelola yang berkelanjutan.
“Kegiatan ini (Perisai) tentu menjadi sangat penting karena research, kebijakan dan juga investasi ini menjadi hal yang sangat penting paalagi Indonesia adalah produsen terbesar dari sawit,” ujarnya.
Sebagaimana diketahui, Perisai 2026 merupakan wadah kolaborasi antara pemerintah, akademisi, peneliti, industry dan masyarakat untuk memperkuat riset, inovasi dan hilirisasi industry sawit nasional yang diselenggarakan oleh Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP).
Airlangga meminta hasil-hasil penelitian tersebut perlu didorong agar dapat diadopsi dan dikomersialkan oleh industri, dengan tetap memberikan perlindungan hak kekayaan intelektual kepada para peneliti.
Selain pengembangan industri sawit, Airlangga juga mendorong percepatan program peremajaan (replanting) tanaman kakao dan kelapa dimana kedua komoditas tersebut sebagian besar dikelola oleh perkebunan rakyat sehingga perlu mendapat perhatian untuk meningkatkan produktivitas dan kesejahteraan masyarakat.
“Apresiasi kepada BPDP, peneliti, perguruan tinggi, lembaga riset dan para pelaku usaha, serta seluruh pihak yang terkontribusi terhadap Perisai 2026 dan juga untuk pembangunan industri kelapa sawit nasional. Saya ingin agar kegiatan ini terus diperkuat, ditindaklanjuti sehingga bermanfaat bagi perekonomian, bisa meningkatkan kesejahteraan petani, dan meningkatkan juga nilai tambah daripada pekebun,” pungkasnya.