← Beranda
Bahlil Pastikan Impor BBM dari Rusia Jadi Dilakukan untuk penuhi Kebutuhan BBM
Djati WaluyoKamis, 25 Juni 2026 | 19.21 WIB
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia saat mengikuti Rapat Kerja bersama Komisi XII DPR RI di Gedung Nusantara I, Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Senin (15/6/2026). (Dery Ridwansah/ JawaPos.com)

JawaPos.com - Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia memastikan impor minyak mentah dari Rusia tetap akan berjalan untuk memenuhi kebutuhan energi dalam negeri.

Ia menjelaskan, pemerintah saat ini tengah membahas detail teknis terkait volume, spesifikasi, hingga mekanisme transaksi di tingkat bisnis.

“Oh jadi dong (impor minyak mentah dari rusia),” ujar Bahlil saat ditemui di Jakarta, Kamis (25/6).

Bahlil mengatakan, pengadaan minyak mentah Rusia nantinya dilakukan melalui skema kerja sama antar pemerintah atau government to government (G2G).

Baca Juga: PLN Kekurangan Batu Bara Berujung Pemadaman Bergilir, DPR Sentil Kebijakan Menteri Bahlil Lahadalia

“Dibeli oleh negara. Itu G2G ya. Dibeli oleh negara,” ujarnya. Sementara pelaksanaan teknis pengadaan akan ditindaklanjuti oleh pihak terkait sesuai mekanisme yang berlaku. 

Menurut dia, pembahasan mengenai volume pembelian, spesifikasi minyak, hingga aspek komersial merupakan urusan teknis yang akan diselesaikan melalui mekanisme bisnis antar pihak terkait.

“Nanti ya. B2B. Nanti itu urusannya nanti urusan teknis itu. Tapi prinsipnya jadi kok,” jelas Bahlil.

Diberitakan sebelumnya, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menyampaikan bahwa komitmen impor 150 juta barel minyak dari Rusia akan dilakukan secara bertahap hingga akhir 2026.

“Impornya akan dilakukan secara bertahap,” ujar Wakil Menteri ESDM Yuliot ketika ditemui di Kantor Kementerian ESDM, Jakarta, Jumat (24/4).

Baca Juga: Ribuan Desa Belum Teraliri Listrik, Menteri ESDM Bahlil Lahadalia Siapkan Anggaran Rp 10 Triliun

Yuliot menyampaikan impor minyak sebesar 150 juta barel tidak bisa dilakukan sekaligus, sebab memerlukan storage atau fasilitas penyimpanan minyak di dalam negeri.

Nantinya, minyak yang diimpor dari Rusia tidak hanya untuk kebutuhan mobilitas masyarakat, melainkan juga untuk kegiatan industri, tambang, serta bisa didistribusikan untuk bahan baku petrokimia bila dibutuhkan.

“Untuk pemenuhan kebutuhan sampai akhir tahun. 150 juta barel,” ucap Yuliot.

Di sisi lain, komitmen Indonesia untuk mengimpor minyak mentah dari Amerika Serikat (AS) juga masih berlangsung.

Yuliot menyampaikan kebutuhan minyak Indonesia per harinya sekitar 1,6 juta barel, sedangkan produksi minyak Indonesia berada di kisaran 600 ribu barel per hari.

Baca Juga: Di Sidang DEN, Bahlil Klaim Posisi Indonesia Makin Kuat dalam Menjaga Ketahanan Energi Nasional

“Berarti kita impor sekitar 1 juta barel, kurang lebih. Kalau dikalkulasikan (sepanjang tahun) 150 juta itu juga kurang. Kita mencari tambahan dari negara-negara lain, termasuk yang dari Amerika,” ucap Yuliot.

 

EDITOR: Bayu Putra