JawaPos.com — Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya yang dikelola PT Pelabuhan Indonesia (Persero) Regional 3 Sub Regional Jawa mencatat pertumbuhan arus peti kemas domestik sekitar 2 persen hingga April 2026.
Kinerja ini memperkuat peran pelabuhan terbesar di Jawa Timur tersebut sebagai tulang punggung distribusi barang menuju kawasan timur Indonesia sekaligus menopang tren positif logistik nasional yang terus tumbuh.
Secara nasional, PT Pelindo (Persero) mencatat total arus peti kemas mencapai 6,42 juta Twenty-foot Equivalent Units (TEUs) hingga April 2026.
Angka tersebut meningkat 7 persen dibanding periode yang sama tahun sebelumnya yang mencapai 5,99 juta TEUs.
Mengapa Arus Peti Kemas Tanjung Perak Terus Tumbuh?
Pertumbuhan arus peti kemas di Pelabuhan Tanjung Perak ditopang oleh meningkatnya aktivitas pengiriman domestik menuju tiga kota strategis di Indonesia Timur, yakni Makassar, Kendari, dan Berau.
Baca Juga: Pelindo Regional 3 Sub Regional Jawa Salurkan 127 Hewan Qurban Sambut Idul Adha 1447 H/2026 M
Ketiga wilayah tersebut menjadi pusat distribusi penting yang melayani kebutuhan logistik Sulawesi, Kalimantan Timur, dan sejumlah daerah kepulauan di sekitarnya.
Peningkatan arus barang ini menunjukkan semakin kuatnya konektivitas perdagangan antarpulau.
Distribusi kebutuhan pokok, bahan baku industri, material konstruksi, hingga berbagai komoditas lainnya terus bergerak melalui jalur laut dari Surabaya menuju wilayah timur Nusantara.
Direktur Utama PT Pelindo, Achmad Muchtasyar, menjelaskan pertumbuhan arus peti kemas nasional tidak hanya berasal dari aktivitas ekspor dan impor.
Penguatan distribusi barang domestik juga menjadi faktor utama yang mendorong kenaikan kinerja pelabuhan.
“Peningkatan ini ditopang oleh pertumbuhan segmen internasional yang meningkat sekitar 11 persen, dengan ekspor tumbuh 10 persen dan impor naik 12 persen. Di sisi domestik, arus peti kemas tumbuh sekitar 4 persen, dengan aktivitas bongkar naik 5 persen dan muat meningkat 4 persen,” ujarnya dalam keterangan tertulis pada 29 Mei 2026.
Bagaimana Pertumbuhan Ekonomi Jawa Timur Mendorong Aktivitas Pelabuhan?
Kinerja positif Pelabuhan Tanjung Perak tidak terlepas dari pertumbuhan ekonomi Jawa Timur yang terus menunjukkan tren kuat.
Sepanjang 2025, ekonomi Jawa Timur tumbuh sebesar 5,33 persen sehingga menciptakan peningkatan aktivitas produksi, perdagangan, dan distribusi barang.
Dampaknya terlihat pada volume bongkar muat angkutan laut domestik yang melonjak hingga 17,09 persen pada akhir 2025.
Data tersebut menunjukkan permintaan layanan logistik dari dan menuju Jawa Timur terus meningkat seiring berkembangnya aktivitas ekonomi daerah.
Sebagai gerbang utama perdagangan di Jawa Timur, Tanjung Perak menjadi pusat konsolidasi barang sebelum didistribusikan ke berbagai wilayah Indonesia Timur.
Peran tersebut membuat kelancaran operasional pelabuhan menjadi faktor penting dalam menjaga stabilitas rantai pasok nasional.
Pertumbuhan aktivitas kapal dan peti kemas juga mendorong berbagai pemangku kepentingan melakukan penyesuaian layanan.
Langkah ini diperlukan agar peningkatan volume barang tidak menimbulkan kemacetan operasional maupun antrean kapal di kawasan pelabuhan.
Apa Strategi Pelindo Menghadapi Lonjakan Aktivitas Logistik?
Untuk mengantisipasi peningkatan arus kapal dan peti kemas, PT Terminal Teluk Lamong (TTL) bersama Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) Utama Tanjung Perak, KSOP Gresik, Sub Regional Jawa Pelindo, serta PT Pelindo Jasa Maritim menandatangani Standar Operasional Prosedur (SOP) Penataan Zona Labuh 2 pada 24 Februari 2026.
Kesepakatan tersebut melahirkan skema EAZI atau Express Anchorage Zone Service.
Program ini dirancang untuk mempercepat layanan kapal yang datang dan berangkat dari kawasan pelabuhan sehingga efisiensi operasional dapat terus terjaga.
Penerapan sistem tersebut menjadi bagian dari upaya modernisasi layanan kepelabuhanan yang saat ini semakin dibutuhkan.
Dengan arus logistik yang terus meningkat, kecepatan pelayanan menjadi salah satu faktor utama dalam menjaga daya saing pelabuhan nasional.
Selain mempercepat proses pelayanan kapal, EAZI juga diharapkan mampu menjaga kelancaran distribusi barang menuju berbagai daerah tujuan.
Efisiensi waktu sandar dan keberangkatan kapal menjadi kunci penting dalam mempertahankan stabilitas rantai pasok.
Mengapa Tanjung Perak Menjadi Gerbang Strategis Indonesia Timur?
Pelabuhan Tanjung Perak memiliki posisi yang sangat penting dalam sistem logistik nasional.
Pelabuhan ini menghubungkan pusat-pusat produksi di Pulau Jawa dengan ribuan pulau di kawasan timur Indonesia, mulai dari Sulawesi, Kalimantan, Nusa Tenggara, Maluku hingga Papua.
Berbagai jenis komoditas melewati pelabuhan ini setiap hari.
Mulai dari kebutuhan pokok masyarakat, bahan baku industri, alat berat, hingga material pembangunan didistribusikan melalui jaringan pelayaran yang terhubung dengan Tanjung Perak.
Kapasitas layanan pelabuhan diperkuat oleh keberadaan tiga terminal peti kemas utama, yaitu Terminal Petikemas Surabaya (TPS), Terminal Berlian, dan Terminal Teluk Lamong (TTL).
Ketiganya memiliki fungsi berbeda namun saling melengkapi dalam menjaga kelancaran operasional pelabuhan.
Keberadaan terminal-terminal tersebut memungkinkan Tanjung Perak menangani volume peti kemas yang terus meningkat.
Efisiensi layanan juga menjadi lebih terjaga karena distribusi aktivitas dapat dilakukan secara lebih optimal.
Pertumbuhan Logistik Jadi Sinyal Pemerataan Ekonomi Nasional
Peningkatan distribusi barang menuju Indonesia Timur dipandang sebagai indikator positif pemerataan pembangunan ekonomi.
Semakin tingginya arus logistik menunjukkan aktivitas ekonomi di luar Pulau Jawa terus berkembang dan membutuhkan dukungan konektivitas yang kuat.
Direktur Jenderal Perhubungan Laut Kementerian Perhubungan, Muhammad Masyhud, mengatakan pemerintah terus meningkatkan kapasitas infrastruktur pelabuhan untuk mengimbangi pertumbuhan arus barang.
Salah satu langkah yang dilakukan ialah menerbitkan rekomendasi teknis penetapan terminal peti kemas dari fasilitas yang sebelumnya berstatus multipurpose.
Hingga April 2026, pemerintah telah menetapkan 12 lokasi terminal peti kemas baru di berbagai wilayah Indonesia.
Pada saat yang sama, modernisasi pelabuhan juga dilakukan melalui pendalaman alur pelayaran, penambahan kapasitas lapangan penumpukan, modernisasi alat bongkar muat, serta digitalisasi layanan kepelabuhanan.
Dalam periode 2025–2026, pembangunan dan rehabilitasi fasilitas pelabuhan milik pemerintah telah dilakukan di 74 lokasi di seluruh Indonesia.
Dengan berbagai langkah tersebut, Pelabuhan Tanjung Perak dan Pelindo Regional 3 Sub Regional Jawa terus memperkuat posisinya sebagai pilar utama konektivitas maritim nasional yang menjaga kelancaran distribusi barang dari Jawa hingga kawasan timur Nusantara.