JawaPos.com – Nilai tukar dolar Amerika Serikat (AS) yang menembus level Rp 18.000 mulai berimbas di kalangan pelaku usaha warung tegal (warteg). Tak hanya omzet yang menyusut, pelanggan warteg kini juga semakin berhemat dengan memilih menu makan yang lebih murah dan mengurangi jumlah lauk yang dibeli.
Izzudin Zidan, salah satu pedagang warteg di kawasan Puri Kembangan, Kembangan, Jakarta Barat, yang kebetulan terkena imbasnya. Zidan menilai kenaikan nilai tukar dolar AS terhadap rupiah beberapa pekan terakhir ini membuat omzetnya turun.
Zidan bilang, para pelanggan yang biasanya membeli berbagai macam lauk dan sayur, kini membatasi anggaran makan maksimal Rp 20.000, sudah dengan minum.
"Pelanggan yang biasa pesan dua menu ayam dan telor, sama sayur, sekarang pelanggan cuma satu menu, paling hanya nasi dan telor (tanpa sayur) doang," kata Zidan, saat dihubungi JawaPos.com, Jumat (5/6).
Lebih parahnya lagi, lanjut Zidan, pelanggan yang makan di warungnya kini menurun hingga 50 persen dari sebelumnya. Padahal, lokasi warteg milik Zidan cukup strategis karena berada di kawasan perkantoran.
"Kalau lagi ramai biasanya 150 orang lebih tuh, sekarang paling 70, 75 orang aja," akunya.
Dikatakan Zidan, usaha warteg merupakan jenis usaha yang sangat sensitif terhadap kenaikan harga bahan baku. Adanya pelemahan rupiah, lanjut dia, dapat memicu kenaikan harga barang pokok. Ia khawatir kondisi ini dapat berpengaruh terhadap keberlangsungan operasional wartegnya.
Apa yang dirasakan Zidan juga diamini oleh sejumlah warteg lain di berbagai daerah. Ketua Komunitas Warteg Nusantara (Kowantara) Mukroni membeberkan beberapa gambaran atau situasi di balik etalase kaca warteg saat ini.
Pertama, adanya pembatasan anggaran makan atau fenomena "Pas Rp 20.000". Menurut dia, pembeli kini tidak lagi membeli menu secara keinginan, melainkan berdasakan sisa uang di dalam dompet.
Bahkan, di beberapa kasus, pembeli melakukan trik todong harga Rp 15.000 sekali makan. Padahal sebelumnya, diakui Mukroni, uang yang dikeluarkan para penikmat sajian warteg bisa mencapai Rp 35.000 per porsi.
"Polanya berubah menjadi: "Bu, nasi pakai tempe, sayur, sama tahu, telur asin dan kerupuk Rp 15.000 ya," katanya saat dihubungi JawaPos.com.
Kondisi ini membuat makanan yang mengandung protein tinggi seperti ikan, sapi, atau ayam, menjadi tidak laku.
"Porsi lauk pauk yang mengandung protein tinggi seperti daging sapi, ikan, atau ayam semakin jarang disentuh dan beralih ke protein nabati (tempe/tahu) atau sekadar kuah dan sayur," tambahnya.
Kedua, pedagang terjebak "Simalakama". Bagi para pelaku usaha warteg, kondisi ini menciptakan dilema yang sangat berat di tengah kenaikan harga bahan baku seperti beras, minyak goreng, cabai, hingga kantong plastik.
Di satu sisi, jika harga dinaikkan, bakal membuat pembeli kabur. Di sisi lain jika takaran porsi dikurangi membuat pembeli kecewa.
"Hasilnya sekarang banyak pedagang memilih mengalah dengan mengorbankan margin keuntungan (omzet merosot) demi menjaga warung tetap berputar dan pelanggan tetap bisa makan," ujarnya.
Ketiga, lanjut Mukroni, tekanan biaya operasional. Bukan hanya urusan isi piring, beban warteg juga makin berat karena faktor non-pangan seperti kenaikan harga barang-barang pelengkap operasional misalnya fluktuasi harga plastik pembungkus/kresek, biaya sewa tempat dan tarif utilitas yang terus merangkak naik di kawasan perkotaan.
Dengan kondisi yang seperti itu, Mukroni memperhitungkan, penurunan omzet para penjaja warteg saat ini di kisaran 10-20 persen.
Mukroni bilang, kondisi ini menegaskan bahwa warteg yang selama ini menjadi jaring pengaman sosial bagi isi perut masyarakat urban, kini justru berada di garis depan yang paling merasakan dampak langsung dari tekanan makroekonomi dan inflasi.
Ia meminta pemerintah untuk mengambil langkah strategis untuk menstabilkan harga bahan pokok dan penguatan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) khususnya pedagang warteg.
"Jika tidak ada intervensi atau kebijakan yang berpihak pada stabilitas harga bahan pokok dan penguatan UMKM, daya tahan para pedagang ini tentu ada batasnya," tukasnya.
Tekanan Inflasi
Situasi yang dikeluhkan pedagang warteg sejalan dengan tekanan inflasi yang masih membayangi harga pangan. Ketika pelanggan mulai memangkas anggaran makan, pelaku usaha justru dihadapkan pada kenaikan biaya bahan baku yang sulit dihindari.
Kondisi itu tercermin dalam data Badan Pusat Statistik (BPS) yang menunjukkan kelompok makanan, minuman, dan tembakau masih menjadi penyumbang utama inflasi pada Mei 2026.
Data BPS menunjukkan inflasi pada Mei 2026 tercatat sebesar 0,28 persen secara bulanan (m-to-m), atau terjadi kenaikan Indeks Harga Konsumen (IHK) dari 111,09 pada April 2026 menjadi 111,40 pada Mei 2026.
Secara kumulatif, inflasi tahun kalender (y-to-d) hingga Mei 2026 tercatat sebesar 1,35 persen, sedangkan inflasi tahunan mencapai 3,08 persen (y-on-y).
Deputi Bidang Metodologi dan Informasi Statistik BPS, Pudji Ismartini, menjelaskan bahwa kelompok makanan, minuman, dan tembakau menjadi penyumbang utama inflasi bulanan Mei 2026 dengan andil inflasi 0,12 persen dan tingkat inflasi 0,39 persen. Diikuti oleh kelompok transportasi dengan andil inflasi 0,07 persen dan tingkat inflasi 0,61 persen.
Komoditas yang dominan mendorong inflasi pada kelompok makanan, minuman, dan tembakau antara lain cabai merah, minyak goreng, bawang merah, tomat, dan beras. Cabai merah memberikan andil inflasi terbesar sebesar 0,08 persen.
"Selanjutnya, minyak goreng dan bawang merah masing-masing memberikan andil inflasi 0,04 persen, sedangkan tomat dan beras masing-masing menyumbang 0,03 persen dan 0,02 persen,” ungkap Pudji pada konferensi pers di Jakarta, Selasa (2/6).
Pemerintah Bakal Investigasi
Fenomena penurunan daya beli masyarakat yang salah satunya berimbas pada turunnya omzet pedagang warung tegal (warteg), akhirnya sampai ke telinga Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa
Dalam kesempatan jumpa pers bersama wartawan di Jakarta, Jumat (5/6), Purbaya bilang akan menginvestigasi adanya kondisi itu.
"Gini hal itu mungkin terjadi cuma sampel anda berapa warteg? itu kan bisa gitu kan saya bisa cari warteg yang ini mungkin jelek mungkin lima warteg, tapi mungkin aja dia kalah bersaing, sana lebih bagus pindah ke sana itu. Yang kita mesti hati-hati saya sih akan investigasi, betul nggak seperti itu. saya baru dengar sekarang tuh," ujar Purbaya saat konferensi pers di Jakarta, Jumat (5/6).
Meski begitu, Purbaya masih skeptis. Menurut Bendahara Negara itu, pertumbuhan ekonomi Indonesia saat ini secara agregat masih sangat baik.
"Tapi kalau data yang lain kan kelihatan yang agregat tuh tumbuhnya kencang semua, belanja juga tumbuhnya kencang yang retail index kan betul-betul, yang mandiri itu kan orang belanja betulan kan," tambahnya.
Purbaya mengatakan, jika pada kenyataannya ditemukan kondisi pelemahan daya beli masyarakat hingga menyebabkan turunnya omzet para pedagang warteg, pemerintah akan melakukan stimulus ke perekonomian.
"Tapi ini akan saya investigasi kalau emang ini saya akan tambah lagi stimulus ke perekonomian yang jelas awal bulannya ada gaji bulannya 13 itu berapa? 35 triliun ya Pak? Yang udah cari 30 yang akan masuk 40 itu akan memberi daya beli tambahan ke mereka, harusnya wartegnya ke depan, enggak itu (menurun omzet) lagi ya," ungkapnya.