JawaPos.com — Keterbatasan tak menjadi penghalang bagi Rafi Abdurrahman Ridwan, 24 tahun, untuk terus berkarya. Pemilik usaha Rafi Ridwan x ManZieRa ini membuktikan bahwa disabilitas bukan akhir dari segalanya, melainkan awal dari perjalanan panjang dalam membangun usaha fesyen berbasis kreativitas.
Rafi, yang merupakan penyandang tunarungu, mengawali perjalanannya dari bangku sekolah luar biasa (SLB) dengan belajar menjahit. Ia mengaku, bakat menggambar dan desain menjadi modal utama dalam merintis usaha yang kini dikenal lewat produk jilbab dan tenun.
“Dulu saya pertama belajar SLB jahit. Semua karena izin Allah. Allah memberi saya rezeki (bakat) bisa menggambar dan desain,” ujarnya kepada Jawapos.com melalui pesan whatsapp, Senin (4/5).
Sejak usia sembilan tahun, Rafi sudah mulai membuat baju sendiri. Tidak dijual banyak hanya dikerjakan jika ada pesanan saja. Konsistensi itu yang kemudian membuka jalan hingga ia dilirik sebagai pelaku usaha binaan BNI. Bahkan, pada 2016 ia sempat meraih penghargaan dalam ajang 7 Entrepreneur Heroes dari BNI.
“Terkait dengan BNI, mungkin karena saya sudah dari umur sembilan tahun membuat baju, lalu BNI mau beri kesempatan pada saya disabilitas, lalu beberapa team saya juga disabilitas. Dulu pernah mendapat penghargaan dari BNI 7 Entrepreanur Heroes 2016,” tuturnya.
Baca Juga: Hindari Jerat Penipuan Digital, BNI Minta Nasabah Jangan Bagikan Data Sensitif
Perjalanan usahanya tak selalu mulus. Rafi sempat menghadapi berbagai cobaan berat, mulai dari banjir besar yang menghancurkan tempat kerjanya hingga pandemi Covid-19 yang membuat aktivitas usahanya terhenti. Bahkan, ia juga kehilangan salah satu anggota timnya.
“Dulu desain baju saja, sampai motif juga membuat sendiri. Lalu saya punya tim kerja semua Tuna Rungu, lalu banjir besar habis semua tempat kerja lalu covid 2020 tim saya ada yang wafat,” ungkapnya.
Kondisi tersebut membuat usahanya vakum cukup lama, yakni sejak 2020 hingga 2024. Namun, semangat untuk bangkit kembali tak pernah padam. Rafi akhirnya memulai kembali usahanya pada 2024.
Dalam proses kebangkitan itu, peran BNI menjadi salah satu faktor penting. Selama dua tahun terakhir, Rafi mendapat berbagai dukungan, terutama akses untuk mengikuti pameran tanpa biaya.
“Selama dua tahun ini (saya mulai penjualan lagi) saya dapat mengikuti pameran yang diadakan BNI secara free contoh BNI Expo, Dhawafest, Bazaar di Ditjen Pajak dan Bea Cukai,” jelasnya.
Menurut Rafi, kesempatan mengikuti pameran menjadi sangat berarti, mengingat sebelumnya ia kesulitan mendapatkan akses informasi dan terbebani biaya yang cukup besar.
Baca Juga: BNI Konsisten Dorong Pemerataan Pendidikan Lewat Beasiswa Nasional
“Alhamdulillah BNI membantu dengan memberi kesempatan dan tempat untuk saya sebagai pengusaha disabilitas bisa menjual produk saya,” katanya.
Dampak dari dukungan tersebut pun mulai terasa. Produk Rafi kini semakin dikenal luas, sekaligus membuka peluang bertemu dengan pasar yang lebih potensial.
“Alhamdulillah apa yang diberikan BNI membantu saya dalam mengembangkan usaha dan produk saya dikenal orang,” ujarnya.
Ia juga merasakan perubahan signifikan dalam cara menjalankan bisnis, terutama dalam hal akses pasar. Ke depan, Rafi mengaku optimistis peluang usahanya akan terus berkembang seiring dengan terbukanya akses jaringan yang lebih luas.
“Saya sangat optimis peluang pasar tetap terbuka dan menjanjikan,” ucapnya.
Di sisi lain, ia berharap BNI dapat terus menghadirkan program yang mendukung pelaku UMKM, khususnya penyandang disabilitas sepertinya, agar bisa terus berdaya dan mandiri.
“Saya harap BNI ingat selalu kepada UMKM seperti saya, jadi saya bisa terus berjualan. Ingin selalu mendapat kesempatan untuk bisa berdaya. Saya ingin mandiri bisa kerja jual karya walau disabilitas,” pungkasnya.