← Beranda
Eskalasi Geopolitik Timur Tengah, PT IIM Dorong Pentingnya Diversifikasi Portofolio
Dimas ChoirulRabu, 29 April 2026 | 19.47 WIB
Ilustrasi seorang investor tengah melakukan perhitungan dari investasi yang ditanamkan di sejumlah portfolio. (Istimewa).

JawaPos.com - Konflik Timur Tengah, khususnya di sekitar Selat Hormuz, menjadi sumber shock utama bagi ekonomi global melalui lonjakan harga minyak dan peningkatan volatilitas pasar. Meski terdapat indikasi de-eskalasi, kondisi tetap rapuh dan berpotensi kembali memburuk, sehingga arah ke depan masih sangat bergantung pada perkembangan geopolitik.

Direktur PT Insight Investments Management (PT IIM), Camar Remoa, melalui pernyataan tertulisnya menilai bahwa dampak konflik tersebut terhadap Indonesia akan tercermin pada empat kanal utama, yaitu external balance, nilai tukar, fiskal dan inflasi.

Dari sisi eksternal, Indonesia sebagai net oil importer menghadapi tekanan struktural akibat ketergantungan tinggi pada impor minyak. Kenaikan harga minyak memperburuk neraca perdagangan energi dan mendorong pelebaran current account deficit (CAD) yang berpotensi naik hingga 1,1% terhadap Pendapatan Domestik Bruto (PDB). Meskipun terdapat offset dari kenaikan komoditas lain seperti batu bara dan CPO, namun dominasi kenaikan harga minyak membuat dampak bersih tetap negatif.

“Dari sisi nilai tukar, tekanan muncul dari meningkatnya kebutuhan dolar untuk impor energi serta fenomena flight to safety menyebabkan Rupiah melemah ke kisaran 17.100/USD. Ruang intervensi BI melalui cadangan devisa yang terbatas dikhawatirkan berpotensi membutuhkan penyesuaian suku bunga untuk menjaga stabilitas rupiah ke depan,” jelas Camar.

Dari sisi fiskal, kenaikan harga minyak di atas asumsi APBN meningkatkan beban subsidi secara signifikan hingga Rp 200 triliun, sementara tambahan penerimaan tidak cukup mengimbangi. Hal ini berisiko mendorong defisit fiskal mendekati atau melampaui 3% terhadap PDB di tengah ruang fiskal yang semakin terbatas.

Dari sisi inflasi, dampaknya relatif tertahan oleh subsidi, namun tetap berisiko meningkat secara signifikan jika terjadi penyesuaian harga BBM subsidi, dengan potensi tambahan inflasi >2-3%. Risiko ini diperbesar oleh kondisi sosial seperti melemahnya kelas menengah dan rendahnya kepercayaan bisnis.

Lebih lanjut, Camar menambahkan bahwa secara keseluruhan, ekonomi Indonesia masih memiliki buffer jangka pendek melalui kebijakan fiskal ekspansif dengan pertumbuhan di kisaran 5,2% pada tahun 2026.

“Namun, risiko utama terletak pada durasi shock energi, di mana semakin lama konflik berlangsung, semakin besar tekanan kumulatif terhadap stabilitas makroekonomi,” ujar Camar.

Strategi Investasi Di Tengah Volatilitas
Dengan meningkatnya ketidakpastian global serta dinamika pasar domestik, kebutuhan akan strategi investasi yang adaptif menjadi semakin relevan. Volatilitas yang dipicu oleh faktor geopolitik, arah kebijakan suku bunga global, serta pergerakan aliran dana asing mendorong investor untuk lebih selektif dalam mengelola portofolio.

Camar menekankan bahwa pendekatan yang disiplin dan terdiversifikasi menjadi kunci dalam menghadapi kondisi pasar saat ini.
“Di tengah volatilitas yang meningkat, investor perlu memastikan alokasi aset tetap seimbang dan tidak terfokus pada satu instrumen saja. Diversifikasi menjadi strategi penting untuk menjaga stabilitas sekaligus mengoptimalkan peluang,” ujarnya.

Dalam kondisi ini, Camar menjelaskan bahwa investor dengan profil risiko konservatif dapat mengedepankan strategi defensif dengan menjaga likuiditas melalui instrumen yang relatif stabil. Investasi Reksa Dana Pasar Uang dapat dimanfaatkan sebagai pilihan untuk penempatan dana jangka pendek sekaligus sebagai strategi “parkir dana” sambil menunggu momentum pasar yang lebih optimal.

“Sementara itu, Reksa Dana Pendapatan Tetap dapat menjadi alternatif bagi investor yang menginginkan potensi imbal hasil yang lebih optimal dengan tingkat risiko yang tetap terjaga. Instrumen ini secara historis mampu memberikan kinerja yang relatif stabil, termasuk dalam berbagai fase siklus pasar,” lanjutnya. 

Bagi investor dengan profil risiko moderat hingga agresif, peluang tetap terbuka melalui alokasi pada instrumen berbasis obligasi pemerintah maupun saham, khususnya dengan pendekatan investasi bertahap. Strategi seperti Dollar Cost Averaging (DCA) dapat membantu investor mengurangi risiko timing sekaligus mengoptimalkan potensi pertumbuhan jangka panjang.

“Ke depan, disiplin dalam pengelolaan portofolio, termasuk menjaga keseimbangan alokasi aset dan likuiditas, menjadi faktor kunci dalam menghadapi dinamika pasar yang terus berkembang. Dengan pendekatan yang terukur dan terdiversifikasi, investor dapat tetap menjaga stabilitas sekaligus memanfaatkan peluang di tengah volatilitas pasar,” jelas Camar. 

Untuk menjawab kebutuhan tersebut, PT IIM menghadirkan produk Reksa Dana Pasar Uang Insight Money (I-Money) sebagai solusi untuk penempatan dana yang lebih fleksibel. Reksa Dana ini dirancang untuk membantu investor menjaga likuiditas sekaligus tetap memperoleh potensi imbal hasil yang relatif stabil, melalui diversifikasi pada instrumen pasar uang atau efek bersifat utang yang diterbitkan pemerintah RI dan/atau korporasi dengan jangka waktu tidak lebih dari 1 tahun. Tidak hanya itu, Reksa Dana Pasar Uang Insight Money (I-Money) juga memberi kesempatan investor berkontribusi terhadap dampak sosial kemanusiaan dan keagamaan.

Dengan karakteristik yang cenderung stabil, I-Money dapat menjadi pilihan bagi investor untuk tetap mengoptimalkan pengelolaan dana dengan tingkat risiko yang lebih terjaga, terutama di tengah kondisi volatilitas pasar.

Berdasarkan Fund Fact Sheet per akhir Maret 2026, Reksa Dana Insight Money (I-Money) mencerminkan performa yang positif dan menunjukkan kinerja historis yang solid. Sejak pertama kali diluncurkan pada tahun 2015, I-Money telah mencatatkan pertumbuhan kumulatif sebesar 90,94% yang melampaui benchmark Infovesta Money Market Fund Index di kisaran 57%. Capaian ini mencerminkan konsistensi pengelolaan portofolio dalam jangka panjang serta kemampuan produk dalam memberikan nilai tambah bagi investor. 

Selain itu, para investor juga dapat memilih Reksa Dana Syariah Pendapatan Tetap Insight Elite Fund (I-Elite) yang bertujuan mengoptimalkan potensi imbal hasil jangka menengah-panjang, sekaligus memberikan kesempatan bagi investor untuk berkontribusi dalam berbagai kegiatan sosial kemanusiaan dan keagamaan.

I-Elite dikelola secara aktif dengan mengombinasikan sukuk korporasi sebagai fondasi stabilitas dan likuiditas, serta alokasi taktis pada sukuk negara untuk menangkap peluang momentum pasar. Pendekatan ini cenderung menjaga stabilitas portofolio, sekaligus lebih adaptif terhadap perubahan kondisi pasar.

Pendapatan Tetap Insight Elite Fund (I-Elite) menunjukkan kinerja yang konsisten dan positif sejak diluncurkan pada tahun 2016. Secara kumulatif, produk ini telah mencatat pertumbuhan kumulatif yang signifikan mencapai lebih dari 120 % melampaui benchmark Infovesta Sharia Fixed Income Fund Index yang berada di kisaran 57%.

Kedua produk Reksa Dana PT IIM dapat dipelajari lebih lanjut melalui tautan https://insights.id/id/product 

Agar investasi lebih terarah, reksa dana dapat menjadi salah satu pilihan karena dikelola secara profesional oleh manajer investasi serta ditempatkan pada berbagai instrumen keuangan sehingga portofolionya menjadi lebih terdiversifikasi. Selain diakses melalui berbagai mitra distribusi yang telah bekerja sama dengan PT IIM, investor dapat berinvestasi melalui aplikasi investasiIN.

Aplikasi InvestasiIN dapat diunduh melalui:
Google Play : http://play.google.com/store/apps/details?id=com.insight.investasiin 
Apple App Store: https://apps.apple.com/id/app/investasiin/id1542814071?l=id

Prospektus dan Fund Fact Sheet terbaru dapat diakses di www.insights.id/id/product

Artikel ini merupakan artikel berbayar, kolaborasi bersama PT Insight Investments Management (PT IIM). PT IIM berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Investasi melalui reksa dana mengandung risiko. Calon pemodal wajib membaca dan memahami Prospektus sebelum memutuskan untuk berinvestasi melalui reksa dana. Kinerja masa lalu tidak mencerminkan kinerja masa datang.

 

EDITOR: Mohamad Nur Asikin