← Beranda
Kinerja BTPN Syariah Kuartal I Catat Momentum Positif, Perkuat Pembiayaan Ultra Mikro dan Kualitas Portofolio
R. Nurul Fitriana PutriSenin, 27 April 2026 | 22.27 WIB
BTPN Syariah bukukan laba Rp 319 miliar di kuartal I 2026, ditopang pembiayaan inklusi dan pendampingan nasabah. (Istimewa)

JawaPos.com - PT Bank BTPN Syariah Tbk mencatatkan kinerja yang relatif solid pada kuartal pertama 2026. Pertumbuhan ini ditopang oleh peningkatan penyaluran pembiayaan serta kualitas portofolio yang semakin terjaga. Strategi pendampingan nasabah yang konsisten menjadi salah satu faktor utama di balik capaian tersebut.

Fokus bank dalam memperkuat pembiayaan dilakukan melalui pendekatan pendampingan langsung kepada nasabah. Model ini bertujuan meningkatkan kapasitas usaha sekaligus membentuk karakter nasabah agar lebih tangguh dalam menjalankan bisnis. Pendampingan tersebut menjadi bagian dari upaya menjaga kualitas pembiayaan secara berkelanjutan.

Setiap penyaluran pembiayaan diiringi dengan penguatan perilaku unggul yang dikenal sebagai BDKS. Empat perilaku tersebut meliputi Berani Berusaha, Disiplin, Kerja Keras, dan Saling Bantu. Pendekatan ini diharapkan mampu membangun fondasi usaha yang lebih kuat di segmen ultra mikro.

“Momentum kuartal pertama menunjukkan bahwa model pendampingan yang kami terapkan berkontribusi pada kualitas pembiayaan. Kami melihat meningkatnya kepercayaan nasabah serta ketahanan usaha mereka, yang pada akhirnya memperkuat kualitas Bank. Kualitas pembiayaan menjadi penopang utama laba kuartal pertama ini mengalami pertumbuhan. Pada 2026, Bank melanjutkan fokus di tahun sebelumnya, sambil mendorong pertumbuhan yang berkelanjutan di tengah tantangan yang ada.” ujar Fachmy Achmad, Direktur BTPN Syariah.

Menurutnya, pencapaian tersebut tidak terlepas dari kolaborasi berbagai pihak dalam mendorong pemberdayaan masyarakat inklusi. Pendekatan yang dilakukan tidak hanya berorientasi pada pembiayaan, tetapi juga pada pembentukan perilaku dan ketahanan usaha nasabah.

Peran Community Officer (CO) menjadi kunci dalam implementasi strategi ini. Mereka hadir langsung di sentra nasabah untuk memberikan pendampingan secara rutin. Melalui Pertemuan Rutin Sentra (PRS), nasabah mendapatkan pembinaan yang disesuaikan dengan kondisi usaha mereka.

Baca Juga: RUPST BTPN Syariah Tetapkan Mulya Effendi Siregar sebagai Komisaris Utama, hingga Pembagian Dividen Rp 660 Miliar

Selain itu, CO juga berfungsi sebagai teladan dalam penerapan perilaku unggul BDKS. Kehadiran mereka membantu memperkuat solidaritas antar nasabah sekaligus menjaga disiplin dalam menjalankan usaha. Pendekatan ini dinilai efektif dalam meningkatkan kualitas portofolio pembiayaan.

Seiring dengan kinerja yang positif, bank juga terus melakukan penguatan internal. Salah satunya melalui peningkatan kapasitas Community Officer agar pendampingan yang diberikan semakin optimal. Pengelolaan sentra yang solid menjadi fondasi penting bagi pertumbuhan jangka panjang.

Bank juga menghadirkan berbagai inisiatif tambahan untuk mendukung nasabah. Program reward diterapkan guna mendorong kedisiplinan dalam mengikuti pertemuan rutin. Di sisi lain, diversifikasi produk mulai disiapkan untuk menjangkau nasabah yang usahanya berkembang.

Dari sisi kinerja keuangan, BTPN Syariah membukukan laba bersih sebesar Rp319 miliar pada kuartal pertama 2026. Total aset tercatat mencapai Rp23,2 triliun atau tumbuh 7 persen secara tahunan. Sementara penyaluran pembiayaan mencapai Rp10,6 triliun, meningkat 4 persen dibanding periode yang sama tahun sebelumnya.

Rasio keuangan bank juga tetap terjaga pada level yang kuat. Return on Asset (RoA) tercatat sebesar 7,1 persen, sedangkan Capital Adequacy Ratio (CAR) berada di angka 59,2 persen. Hal ini mencerminkan kondisi permodalan yang cukup solid untuk mendukung ekspansi ke depan.

Sebagai bank syariah yang fokus pada masyarakat inklusi, BTPN Syariah menempatkan segmen unbankable sebagai prioritas utama. Perempuan menjadi sasaran utama pemberdayaan, dengan keyakinan bahwa peningkatan peran perempuan akan berdampak langsung pada kesejahteraan keluarga.

Model bisnis ini dijalankan dengan menghimpun dana dari masyarakat yang lebih sejahtera, kemudian menyalurkannya ke segmen ultra mikro. Pendekatan tersebut membuka peluang kolaborasi yang lebih luas dalam mendorong pemberdayaan ekonomi masyarakat.

Program pemberdayaan dilakukan secara langsung oleh Community Officer yang dikenal sebagai #bankirpemberdaya. Mereka merupakan perempuan muda yang dilatih untuk mendampingi keluarga prasejahtera produktif. Pendampingan dilakukan secara intensif agar nasabah mampu berkembang secara berkelanjutan.

Hasil pemantauan internal menunjukkan adanya perbaikan kondisi sosial ekonomi nasabah. Tingkat kemiskinan ekstrem di kalangan nasabah disebut terus menurun. Selain itu, jumlah keluarga dengan anak yang mengenyam pendidikan juga mengalami peningkatan.

Capaian ini menjadi gambaran bahwa pendekatan berbasis pendampingan tidak hanya berdampak pada kinerja keuangan bank. Lebih dari itu, strategi tersebut juga berkontribusi terhadap peningkatan kesejahteraan masyarakat secara lebih luas.

EDITOR: Edy Pramana