JawaPos.com - Kepala Badan Penyelenggara Jaminan Produk Halal (BPJPH), Ahmad Haikal Hasan, menegaskan pentingnya peran industri halal dalam skala global. Ia menekankan, standar mutu produk halal juga penting ditingkatkan.
“Halal adalah gaya hidup. Halal adalah standar mutu. Halal adalah modernisasi. Dan halal Indonesia adalah kontribusi untuk masyarakat dunia,” kata Haikal Hasan, Selasa (21/4).
Hal itu disampaikan Haikal Hasan nenyikapi Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Industri Halal Sidoarjo yang berlokasi di Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur, sebagai pusat unggulan industri halal di Indonesia.
Baca Juga: Nekat Palsukan KTP dan Ijazah, Peserta Diduga Joki UTBK-SNBT 2026 di Unesa Surabaya Diamankan
Ia menyebut, langkah pengembangan ini menjadi semakin krusial dalam menyambut implementasi kewajiban sertifikasi halal secara nasional yang akan berlaku penuh pada Oktober 2026.
"Kebijakan ini akan berdampak luas terhadap berbagai sektor industri, sehingga mendorong kebutuhan signifikan terhadap fasilitas produksi, pengolahan, serta rantai pasok halal yang terintegrasi," tegasnya.
Ia tak memungkiri, tingginya minat global dalam menjamin produk halal menjadikan momentum strategis untuk memastikan Indonesia dapat mengoptimalkan peluang global. Serta memperkuat posisi Indonesia sebagai pusat industri halal dunia.
Bahkan, ia pun mendorong realisasi investasi mencapai Rp 97,8 triliun hingga tahun 2054, serta potensi penyerapan tenaga kerja lebih dari 300 ribu orang.
Sementara, Direktur Utama PT Makmur Berkah Amanda Tbk, Adi Saputra Tedja Surya, menyampaikan keberadaan insentif pemerintah melalui penetapan KEK akan menjadi faktor kunci dalam percepatan pengembangan industri halal nasional.
“Insentif-insentif yang diberikan pemerintah melalui Kawasan Ekonomi Khusus Industri Halal Sidoarjo diharapkan dapat mempercepat perkembangan industri halal di Indonesia," ujarnya.
Ia juga menambahkan, keberadaan KEK Industri Halal Sidoarjo diharapkan mampu meningkatkan daya saing Indonesia di tingkat regional.
Terlebih, beberapa negara di kawasan telah lebih dahulu mengembangkan KEK dalam skala besar, seperti Vietnam memiliki 4 KEK dengan total luas sekitar 1,6 juta hektare, Malaysia 6 KEK seluas 2,15 juta hektare, dan Thailand 10 KEK dengan luas sekitar 622.000 hektare.
Sementara itu, Filipina memiliki ratusan KEK meskipun dengan skala luasan yang lebih kecil. Sedangkan, Indonesia saat ini memiliki 24 KEK dengan total luas sekitar 21.000 hektare.
“Semangat kami sejalan dengan arahan Presiden terkait pentingnya industrialisasi dan peningkatan penyerapan tenaga kerja untuk memperkuat perekonomian Indonesia,” pungkasnya.