← Beranda
Bank Digital Diuji Soal Keberlanjutan, Laba Bank Neo Commerce Diklaim Melonjak di Tengah Tekanan Industri
Rian AlfiantoRabu, 1 April 2026 | 12.33 WIB
Ilustrasi Bank Neo Commerce. (Istimewa)

 

JawaPos.com–Industri bank digital di Indonesia memasuki fase krusial. Setelah periode ekspansi agresif dalam beberapa tahun terakhir, pelaku industri kini dihadapkan pada tantangan utama yakni membuktikan keberlanjutan bisnis, menjaga profitabilitas, serta mengelola risiko kredit di tengah persaingan yang semakin ketat.

Sejumlah bank digital mulai menunjukkan perbaikan kinerja, terutama dari sisi efisiensi dan kualitas aset. Salah satunya ditunjukkan PT Bank Neo Commerce Tbk (BNC) yang mencatat lonjakan laba signifikan sepanjang 2025.

Bank ini mengklaim berhasil membukukan laba bersih sebesar Rp 565,69 miliar, naik tajam 2.745 persen dibandingkan tahun sebelumnya sebesar Rp 19,88 miliar. Kenaikan ini terjadi di tengah upaya industri untuk menekan biaya operasional dan memperbaiki model bisnis yang sebelumnya cenderung bakar uang.

Baca Juga: Pertamina Tegaskan Tak Ada Perubahan Harga BBM Non Subsidi dan Subsidi Per 1 April 2026

Direktur Utama BNC Eri Budiono menyebut, capaian tersebut tidak lepas dari strategi yang lebih disiplin. ”Kami memastikan pertumbuhan tetap berada dalam koridor kehati-hatian, dengan menjaga kualitas aset dan meningkatkan efisiensi operasional,” ujar dia di Jakarta.

Isu utama bank digital saat ini bukan lagi sekadar pertumbuhan pengguna, melainkan kemampuan menghasilkan laba secara konsisten. Dalam konteks ini, efisiensi menjadi indikator penting.

BNC mencatat perbaikan rasio beban operasional terhadap pendapatan (BOPO) menjadi 84,18 persen dari 99,34 persen pada tahun sebelumnya. Sementara itu, rasio profitabilitas juga meningkat, dengan Return on Assets (ROA) di level 3,11 persen dan Return on Equity (ROE) sebesar 15,13 persen.

Baca Juga: Menkeu Purbaya Jamin APBN Masih Aman Walau Harga Minyak Melonjak Tembus USD 100 Per Barel

Di sisi risiko, rasio kredit bermasalah (NPL Net) terjaga di level 0,89 persen. Angka ini menjadi penting karena ekspansi kredit digital kerap dikaitkan dengan risiko gagal bayar yang lebih tinggi jika tidak dikelola dengan baik.

Likuiditas Longgar tapi Penyaluran Kredit Masih Tertahan

Dari sisi likuiditas, industri bank digital cenderung berada dalam kondisi cukup longgar. Hal ini juga tercermin pada BNC, dengan Loan to Deposit Ratio (LDR) sebesar 51,21 persen dan Liquidity Coverage Ratio (LCR) mencapai 614,93 persen.

Kondisi ini menunjukkan ruang ekspansi kredit masih terbuka, namun di sisi lain juga mencerminkan pendekatan yang lebih hati-hati dalam penyaluran pembiayaan. Total aset BNC tercatat Rp 18,97 triliun, tumbuh 8,99 persen secara tahunan.

Sementara dana pihak ketiga (DPK) mencapai Rp14,03 triliun, didorong oleh pertumbuhan tabungan dan stabilnya deposito. Penguatan fundamental juga terlihat dari sisi permodalan. Modal inti BNC mencapai Rp 4,03 triliun, dengan rasio kecukupan modal (CAR) sebesar 49,07 persen.

Kinerja ini turut mendapat respons positif dari pasar. Saham BNC (BBYB) masuk dalam indeks Economic 30 sejak 2 Maret 2026, yang umumnya dihuni emiten dengan likuiditas dan fundamental yang dinilai membaik. Ke depan, tantangan bank digital tidak hanya mempertahankan profitabilitas, tetapi juga menyeimbangkan ekspansi dengan kualitas kredit.

BNC menyatakan akan fokus pada penyaluran kredit yang lebih selektif serta penguatan produk digital. Termasuk rencana menghadirkan layanan Buy Now Pay Later (BNPL).

Baca Juga: MBG Disalurkan 5 Hari, Pemerintah Klaim Bisa Hemat Anggaran Rp 20 Triliun

”Fokus kami adalah pertumbuhan kredit berkualitas serta penguatan layanan digital,” tandas Eri.

Di tengah perubahan lanskap industri, kemampuan menjaga keseimbangan antara pertumbuhan, risiko, dan efisiensi akan menjadi penentu utama. Apakah bank digital mampu bertahan dalam jangka panjang, atau kembali terjebak pada model bisnis yang tidak berkelanjutan.

EDITOR: Latu Ratri Mubyarsah