JawaPos.com – Program pemberdayaan perempuan melalui PNM Mekaar menghadirkan banyak kisah inspiratif dari para nasabahnya. Dua di antaranya adalah Tati Mulyati dan Sri Wahyungsih yang berbagi pengalaman bangkit dari keterbatasan ekonomi melalui usaha kecil yang mereka rintis.
Dalam sebuah acara berbagi cerita bersama insan media di Menara PNM, Jakarta, Rabu (11/3), Tati mengisahkan perjalanan hidupnya sebagai orang tua tunggal yang harus berjuang membiayai tiga anak. Ia mengaku sempat kebingungan mencari modal ketika ingin memulai usaha.
“Saya terima kasih kepada semua dan juga kepada PNM yang telah mengubah saya semakin membaik. Waktu pertama saya mau berusaha untuk membuat usaha, saya bingung nggak tahu ke mana itu mau modal usaha,” ujar Tati.
Ia kemudian bertemu petugas PNM dan memperoleh pembiayaan awal sebesar Rp3 juta. Meski sempat ragu apakah mampu mengembalikan pinjaman tersebut, tekad untuk memperbaiki kehidupan keluarga membuatnya berani mencoba.
“Waktu pertama kali saya mau berusaha, saya bingung apakah kalau kasih modal apakah saya bisa untuk menyetornya? Tapi semangat saya untuk berusaha, semangat untuk anak-anak, saya bisa,” katanya.
Baca Juga: 10 Tahun PNM Mekaar, Layani 16,1 Juta Nasabah di Lebih dari 60 Ribu Desa
Dengan modal tersebut, Tati memulai usaha sembako kecil-kecilan di depan rumah menggunakan meja sederhana. Seiring waktu, usahanya berkembang setelah ia mampu menambah stok barang secara bertahap.
“Usaha sembako. Sebelumnya saya pakai meja di depan rumah dulu sedikit-sedikit. Pas saya dikasih modal 3 juta, saya mulai beli etalase yang kecil, terus belanja sedikit-sikit,” ujarnya.
Kini, usaha tersebut mampu menyediakan berbagai kebutuhan rumah tangga seperti beras, gula, minyak, gas, hingga makanan ringan. Berkat usaha itu pula ia berhasil menyekolahkan ketiga anaknya hingga dewasa.
“Ada tiga. Membiayai anak tiga, begitu bangkitnya sebagai ibu untuk menyekolahkan anak. Sekarang saya bangga, saya sudah selesaikan anak-anak sekolah,” kata Tati.
Ia juga mengaku bersyukur karena pernah mendapatkan kesempatan menunaikan ibadah umroh. Padahal sebelumnya ia hanya menabung uang receh untuk mewujudkan impian tersebut.
“Waktu dulu saya berencana untuk umroh pakai celengan 2 ribu, 5 ribu buat umroh. Mungkin sudah rezeki saya, terima kasih kepada Direktur PNM yang telah memberangkatkan saya umroh,” tuturnya.
Baca Juga: Ketika Perempuan Berdaya, Ekonomi Keluarga Menguat Bersama PNM
Kisah inspiratif juga datang dari Sri Wahyungsih yang memulai usaha basreng sejak bergabung dengan PNM Mekaar pada 2022. Ia mengingat masa-masa sulit ketika kebutuhan makan dan pendidikan anak harus dipilih secara terpaksa.
“Dulu, kalau Ramadhan datang, satu telur harus dibagi tiga. Saya bilang ke mereka, ‘Ibu sudah makan,’ padahal belum. Anak saya pernah nggak ikut ujian karena saya nggak mampu untuk bayar sekolah,” ungkap Sri dalam tayangan video.
Ia mengatakan kehadiran PNM bukan hanya memberikan akses modal, tetapi juga motivasi untuk bangkit.
“Sampai akhirnya bertemu dengan PNM. PNM bukan hanya memberikan saya modal, tapi PNM mengajari saya untuk bangkit, seperti cahaya di keluarga kecil saya,” ujarnya.
Motivasi terbesar bagi Sri untuk terus berusaha adalah masa depan anak-anaknya. Ia berharap mereka bisa memperoleh kehidupan yang lebih baik.
“Karena saya melihat anak-anak saya, keluarga saya. Saya harus kuat untuk masa depan anak-anak saya. Jadi saya berusaha sebisa mungkin, alhamdulillah dibantu modal dengan PNM, akhirnya saya bisa sekolahin anak saya,” katanya.
Kini kondisi keluarganya perlahan membaik. Penghasilan dari usaha basreng membantu memenuhi kebutuhan rumah tangga sekaligus membiayai pendidikan tiga anaknya.
“Alhamdulillah dulu yang makan telur satu dibagi tiga, dulu sekolah nggak bisa berangkat sekolah karena nggak ada ongkos, nggak bisa ikut ujian karena belum bayar SPP. Alhamdulillah dengan saya usaha dibantu dengan PNM, diberi modal, PNM memberikan saya untuk bangkit,” ujar Sri.