JawaPos.com - Selama satu dekade kepemimpinan Joko Widodo (Jokowi) sebagai presiden Republik Indonesia, ekonomi tanah air menempuh perjalanan yang penuh tantangan sekaligus pencapaian.
Dalam kurun waktu tersebut, dunia dihadapkan pada berbagai krisis. Mulai dari pandemi Covid-19 yang mengguncang sistem kesehatan dan rantai pasok global, konflik geopolitik yang mempengaruhi harga energi dan pangan, hingga ketidakpastian ekonomi akibat kenaikan suku bunga global.
Di tengah turbulensi itu, Indonesia justru mampu menunjukkan daya tahan (resilience) yang diakui dunia. Pertumbuhan ekonomi tetap terjaga di kisaran 5 persen per tahun, inflasi berada dalam batas wajar, cadangan devisa stabil, dan konsumsi domestik tetap menjadi penopang utama.
Bank Dunia dalam laman resminya mencatat, “Indonesia’s economy has shown resilience, maintaining growth momentum around 5 percent despite global headwinds”. Pernyataan itu menegaskan stabilitas ekonomi Indonesia tidak terjadi secara kebetulan, melainkan buah dari kebijakan strategis yang konsisten.
Baca Juga: Dilema Bonus Demografi Indonesia, Akses Pekerjaan Minim hingga Bayang-bayang jadi Generasi Sandwich
Pencapaian tersebut semakin relevan karena tidak banyak negara berkembang yang mampu menjaga stabilitas di tengah ketidakpastian global. Dengan kata lain, stabilitas ekonomi Indonesia di era Jokowi dapat dilihat sebagai kombinasi dari faktor internal seperti konsumsi domestik, reformasi regulasi, dan transformasi digital serta dukungan kebijakan fiskal dan moneter yang responsif.
Faktor Pendorong Utama
1. Konsumsi Domestik sebagai Motor Pertumbuhan
Konsumsi rumah tangga adalah tulang punggung ekonomi Indonesia. World Bank mencatat bahwa lebih dari setengah PDB Indonesia disumbang dari konsumsi domestik. Permintaan domestik yang kuat menjadi bantalan ketika ekspor atau investasi tertekan.
2. Investasi dan Reformasi Struktural
Pemerintah mendorong investasi melalui reformasi regulasi, termasuk UU Cipta Kerja dan kemudahan perizinan. Asian Development Bank (ADB) menekankan bahwa "investment remains a key driver of Indonesia’s medium-term growth, supported by structural reforms and infrastructure development" . Hal ini memperlihatkan betapa pentingnya arus modal dalam menjaga stabilitas.
Baca Juga: Miris 1 Juta Lulusan Sarjana Nganggur, Legislator: Ironi di Tengah Narasi Bonus Demografi
3. Kebijakan Fiskal melalui APBN
APBN digunakan bukan hanya sebagai instrumen anggaran, tetapi juga sebagai alat stabilisasi. Subsidi energi, bantuan sosial, hingga insentif pajak menjadi cara untuk menjaga daya beli.
4. Kebijakan Moneter dan Peran Bank Indonesia
Bank Indonesia menjaga stabilitas moneter dengan kebijakan suku bunga dan intervensi nilai tukar. Inflasi yang relatif terkendali pada 3,7 persen pada 2023, menurut ADB menunjukkan efektivitas kebijakan tersebut. Stabilitas harga penting untuk menjaga kepercayaan masyarakat dan investor.
5. Bonus Demografi dan SDM Produktif
Indonesia memasuki masa bonus demografi dengan jumlah usia produktif yang besar. World Bank menekankan bahwa "Indonesia’s demographic dividend offers a window of opportunity, provided that investments in human capital are strengthened". Dengan kata lain, stabilitas ekonomi sangat terkait dengan kualitas tenaga kerja.
6. Sektor Ekspor dan Cadangan Devisa
Boom komoditas memberikan surplus neraca perdagangan yang memperkuat cadangan devisa. Data IMF dan World Bank menunjukkan cadangan devisa Indonesia stabil di atas USD 130 miliar, cukup untuk menutup impor selama beberapa bulan. Hal ini meningkatkan ketahanan ekonomi terhadap guncangan eksternal.
Baca Juga: Sambut Bonus Demografi, Perwakilan BKKBN Jatim Tegaskan Dua Anak Cukup, SDM Harus Siap Bersaing
7. Transformasi Ekonomi Digital
ADB mencatat bahwa digitalisasi menjadi salah satu motor baru pertumbuhan. "Indonesia’s digital economy continues to expand, providing opportunities for SMEs and job creation" (ADB, 2024). E-commerce, fintech, dan digitalisasi UMKM berperan penting dalam menjaga daya tahan ekonomi.
Tantangan yang Tetap Ada
Meski stabil, ekonomi Indonesia masih menghadapi tantangan. Ketergantungan pada komoditas membuat ekonomi rentan terhadap harga global. Produktivitas tenaga kerja juga perlu ditingkatkan agar bonus demografi tidak menjadi beban. Selain itu, ketidakpastian global seperti perlambatan China atau suku bunga tinggi di AS dapat menjadi tekanan.
Stabilitas ekonomi Indonesia di era Jokowi bukan hanya hasil dari konsumsi domestik, tetapi juga kombinasi investasi, kebijakan fiskal dan moneter, bonus demografi, ekspor, serta transformasi digital. Data dari World Bank, ADB, dan IMF menunjukkan bahwa fundamental ekonomi tetap kokoh dengan prospek pertumbuhan yang optimistis. Ke depan, tantangan ada, tetapi dengan reformasi berkelanjutan, stabilitas ini berpeluang besar untuk dipertahankan.