← Beranda
Bank Digital jadi Primadona, Survei Ipsos 2026 Ungkap Rahasia Transaksi Praktis
Nanda PrayogaKamis, 14 Mei 2026 | 00.56 WIB
Sebanyak 71 persen masyarakat memilih bank digital karena kemudahan transaksi praktis, berdasarkan survei Ipsos 2026. (Pinterest)

 

JawaPos.com - Survei Persepsi dan Kepuasan Pengguna terhadap Layanan Bank Digital di Indonesia 2026 yang dilakukan Ipsos Indonesia menunjukkan temuan menarik. Sebanyak 71 persen masyarakat memilih bank digital karena kemudahan transaksi praktis.

Bank digital semakin mengambil peran penting dalam aktivitas keuangan masyarakat Indonesia. Jika sebelumnya hanya digunakan sebagai layanan tambahan, kini bank digital mulai menjadi pilihan utama untuk berbagai kebutuhan transaksi sehari-hari, mulai dari top up dompet digital, pembayaran QRIS, hingga transaksi belanja online.

Meningkatnya penggunaan pembayaran non-tunai membuat masyarakat semakin mengutamakan layanan finansial yang praktis, cepat, dan mampu terhubung dengan berbagai platform digital. Kondisi ini membuat bank digital berkembang bukan hanya sebagai tempat menyimpan dana, tetapi juga menjadi bagian dari ekosistem transaksi harian masyarakat.

Pertumbuhan transaksi digital di Indonesia pun terus menunjukkan tren positif. Data Bank Indonesia mencatat volume pembayaran digital mencapai 14,28 miliar transaksi pada triwulan I 2026. Kenaikan juga terjadi pada penggunaan mobile banking, internet banking, hingga transaksi QRIS yang tumbuh 116,45 persen secara tahunan (year on year/yoy).

Di sisi lain, sistem pembayaran ritel seperti BI-FAST juga mencatat peningkatan penggunaan yang signifikan. Hal tersebut mencerminkan tingginya kebutuhan masyarakat terhadap layanan transaksi yang cepat, praktis, dan efisien.

Perubahan perilaku konsumen itu tergambar dalam Survei Persepsi dan Kepuasan Pengguna terhadap Layanan Bank Digital di Indonesia 2026 yang dilakukan Ipsos Indonesia. Survei online yang dilakukan pada April 2026 tersebut menunjukkan bahwa kemudahan dan kecepatan transaksi menjadi pertimbangan utama masyarakat dalam memilih bank digital.

Sebanyak 71 persen responden menyebut kemudahan transaksi sebagai alasan utama menggunakan bank digital. Sementara itu, 66 persen lainnya mempertimbangkan kelengkapan fitur transaksi harian seperti QRIS, pembayaran tagihan, hingga dukungan belanja online.

“Hasil ini menunjukkan bahwa pengguna kini semakin selektif dalam memilih layanan keuangan digital. Tidak hanya dari sisi layanan keuangan, tetapi juga kemudahan dalam terhubung dengan berbagai kebutuhan bertransaksi sehari-hari menjadi faktor yang diprioritaskan,” ujar Managing Director Ipsos Indonesia, Hansal Savla.

Dalam praktiknya, aktivitas yang paling sering dilakukan pengguna melalui bank digital adalah pengisian saldo dompet digital dan transaksi belanja online. Hal ini menunjukkan bahwa integrasi dengan ekosistem digital seperti e-commerce dan platform pembayaran menjadi faktor penting dalam penggunaan bank digital saat ini.

Ipsos juga mengevaluasi persepsi pengguna terhadap sejumlah aplikasi bank digital yang berkembang di Indonesia. Hasilnya, SeaBank menempati posisi teratas dalam kategori dukungan transaksi harian seperti transfer, pembayaran, dan transaksi online dengan perolehan 52 persen.

Posisi berikutnya ditempati Bank Jago sebesar 50 persen, disusul Neobank 49 persen, Allo Bank 40 persen, dan Superbank 39 persen.

Sementara pada kategori integrasi dengan ekosistem digital, SeaBank kembali menjadi pilihan utama responden dengan capaian 50 persen, diikuti Bank Jago 46 persen, Superbank 43 persen, Neobank 36 persen, dan Allo Bank 26 persen.

Selain itu, SeaBank juga menjadi aplikasi yang paling banyak digunakan untuk pengisian saldo dompet digital dengan tingkat penggunaan mencapai 77 persen. Setelahnya terdapat Bank Jago 70 persen, Superbank 66 persen, Neobank 65 persen, dan Allo Bank 57 persen.

Untuk kebutuhan belanja online, sebanyak 69 persen responden memilih SeaBank sebagai bank digital utama mereka. Bank Jago berada di posisi berikutnya dengan 58 persen, kemudian Allo Bank 50 persen, Superbank 47 persen, dan Neobank 41 persen.

Temuan tersebut memperlihatkan bahwa fungsi bank digital kini semakin luas, bukan hanya sebagai layanan perbankan, tetapi juga bagian dari aktivitas digital masyarakat sehari-hari.

“Integrasi dengan ekosistem digital menjadi salah satu faktor yang semakin relevan. Pengguna cenderung memilih layanan yang dapat mendukung berbagai aktivitas mereka secara praktis dan terhubung dengan mulus dalam satu platform,” tambah Hansal Savla.

EDITOR: Estu Suryowati