Oleh: Agustinus Edy Pramana
Pagi itu, Edo kembali membuka aplikasi cuaca di ponselnya sebelum berangkat bekerja. Ia menggeser layar, memperhatikan deretan angka suhu dan gambar matahari yang seolah tidak pernah bosan muncul setiap hari.
Panas. Cerah. Belum ada tanda-tanda hujan.
Ia mengembuskan napas panjang.
“Masih belum?” tanya Lulu, istrinya, dari dapur.
Edo menggeleng sambil meletakkan ponselnya di meja makan. “Katanya, ada kemungkinan hujan minggu depan. Tapi, ya, kita lihat saja nanti.”
Lulu tidak menjawab. Ia sedang menuangkan air dari galon ke beberapa botol minum. Kebiasaan itu dilakukan setiap pagi sejak beberapa bulan terakhir. Ia memastikan semua anggota keluarga membawa cukup air sebelum beraktivitas. Kiki, si sulung, sedang bersiap berangkat kuliah. Demikian juga Arka, si bungsu.
Di luar rumah, matahari bahkan belum sepenuhnya tinggi. Namun, udara sudah terasa gerah. Halaman kecil di depan rumah mereka mulai menguning. Tanah di dekat pot tanaman mengeras, sementara beberapa daun tampak layu meski setiap pagi disiram.
Kemarau tahun ini terasa berbeda. Bukan semata-mata karena hari-hari yang panas, melainkan karena hujan seperti sengaja menjauh dari kehidupan.
Edo bekerja di sebuah media online. Setiap hari, ia berhadapan dengan berita, tenggat waktu, dan berbagai informasi yang datang silih berganti. Belakangan, berita tentang kekeringan semakin sering muncul.
Ia membaca laporan mengenai debit sungai yang menyusut, petani yang kesulitan mendapatkan air, dan warga yang harus mengantre untuk memperoleh air bersih. Kadang-kadang, Edo berhenti sejenak di tengah pekerjaannya, membayangkan bagaimana rasanya menjalani hari-hari tanpa kepastian kapan hujan turun.
Di rumahnya, persoalan air belum sampai separah yang dialami sebagian warga di berita itu. Namun, ia dan keluarganya mulai belajar menghemat.
Mandi tidak lagi terlalu lama. Air bekas mencuci sayuran dipakai untuk menyiram tanaman. Mesin cuci digunakan ketika pakaian sudah cukup banyak. Lulu bahkan meletakkan ember di dekat keran untuk menampung air yang biasanya terbuang begitu saja.
“Sekarang, kalau buka keran, rasanya seperti sedang mengeluarkan uang,” kata Lulu.
Edo tertawa kecil. “Memang air juga ada hitungannya. Bukan cuma tagihannya. Kalau nanti airnya susah, baru tahu rasanya.”
***
Suatu sore di kamar, Kiki sedang menatap layar laptop. Beberapa halaman skripsinya terbuka, lengkap dengan catatan revisi dari dosen pembimbing. Di sebelah laptop, ada segelas air putih yang tinggal setengah.
Sebagai anak sulung, Kiki terbiasa terlihat tenang di hadapan orang tuanya. Padahal, beberapa minggu terakhir, pikirannya penuh dengan urusan skripsi. Ditambah cuaca panas membuat konsentrasinya terganggu.
Kipas angin di sudut kamar berputar tanpa banyak membantu. Udara yang diembuskannya tetap terasa hangat.
“Kenapa, Kak? Dari tadi mukanya kusut,” tanya Arka, sang adik, ketika melewati pintu kamar yang terbuka.
Kiki tidak mengalihkan pandangan dari laptop. “Skripsi," katanya. “Cuma skripsi?” tukas Arka. Kiki menoleh. “Menurutmu, skripsi itu cuma?”
Arka tertawa. Ia baru memasuki tahun pertama kuliah dan masih menikmati masa-masa ketika tugas belum terasa terlalu berat.
“Kata orang, yang penting dikerjakan sedikit-sedikit setiap hari,” jawab Arka.
“Nanti kamu akan merasakannya juga Dik," tutur Kiki, sang kakak.
“Siap, Bu Dosen," teriak kecil Arka.
Kiki mengambil bantal kecil dan melemparkannya ke arah adiknya. Arka menghindar sambil tertawa, lalu berlari ke ruang tengah. Sesaat kemudian, Kiki kembali menatap laptop. Ia tersenyum tipis. Setidaknya, masih ada hal-hal kecil yang bisa membuat hari terasa lebih ringan.
Baca Juga: Sapi Sebesar Gajah
Arka punya kebiasaan duduk di teras setiap sore. Ia sekadar bermain ponsel, mendengarkan musik, atau memperhatikan orang-orang yang melintas di depan rumah.
Sejak kemarau memanjang, ada satu hal yang selalu dilakukannya: melihat langit. Setiap kali langit sedikit mendung, Arka akan memanggil ayah, bunda, ataupun kakaknya.
Suatu sore, Arka melihat awan kelabu berkumpul di sebelah barat. Ia segera berdiri.
“Ayah! Bunda! Cepat lihat!” teriak Arka.
Edo, sang ayah, baru pulang dari kerja. Lulu, sang bunda, juga baru pulang kerja. Kiki baru saja selesai mengikuti bimbingan skripsi secara daring. Mereka berkumpul di teras.
Langit memang lebih gelap dari biasanya. Angin bertiup membawa udara yang sedikit berbeda. Dari kejauhan terdengar suara petir yang samar.
“Wah, ini sepertinya benar-benar hujan,” kata Arka.
“Jangan senang dulu,” ujar Kiki. “Kemarin juga begitu," imbuhnya.
“Sekali-kali optimistis, Kak," ucap Arka.
Lima menit berlalu. Sepuluh menit. Angin bertiup semakin kencang, tetapi tidak ada setetes pun air yang jatuh. Kemudian, awan bergerak menjauh.
Arka duduk kembali di kursi teras. “Yah, gagal lagi," kata Arka sambil menghela napas.
Edo menepuk bahu anak bungsunya. “Tidak apa-apa. Langit juga punya waktunya sendiri," ucapnya.
“Kalau langit punya waktu sendiri, kenapa kita yang disuruh sabar terus, Yah?” timpal Arka.
Edo tertawa mendengar pertanyaan itu. Namun, setelah tawanya reda, ia tidak segera menjawab. Ia sendiri tak tahu kapan hujan akan datang.
***
Hari-hari berikutnya berjalan seperti biasa. Edo berangkat pagi dan pulang menjelang malam. Lulu sibuk dengan pekerjaannya di yayasan sekolah. Kiki berkutat dengan skripsi, sedangkan Arka mulai menyesuaikan diri dengan ritme perkuliahan.
Di tengah kesibukan itu, kemarau tetap menjadi bagian dari percakapan mereka. Saat sarapan, mereka membicarakan cuaca. Saat makan malam, mereka membicarakan air. Sesekali, pandangan mereka tertuju ke jendela, berharap melihat sesuatu yang berbeda di luar sana.
Suatu malam, listrik di lingkungan rumah mereka padam. Kipas angin berhenti berputar. Pendingin udara yang biasanya membantu mengusir gerah ikut mati. Dalam beberapa menit, kamar-kamar terasa semakin gerah dan panas.
“Sudah, keluar saja. Duduk di depan,” ajak Lulu.
Mereka membawa minuman masing-masing ke teras. Jalanan cukup sepi. Beberapa tetangga juga duduk di luar rumah, mencari udara yang lebih nyaman dan semoga saja sejuk.
Arka bercerita tentang dosen yang salah menyebut namanya. Kiki mengeluhkan revisi skripsi yang kembali bertambah. Lulu bercerita tentang seorang anak di yayasan yang selalu datang paling pagi karena rumahnya jauh dari sekolah. Edo lebih banyak mendengarkan.
“Kalau nanti hujan, kita bikin teh hangat, ya?” kata Lulu tiba-tiba.
“Kalau hujannya malam-malam, aku tidur saja,” sahut Kiki.
“Tidak boleh. Harus melek, kalau hujan turun harus dirayakan karena kemarau ini terasa panjang,” kata Arka.
Mereka tertawa. Di tengah udara yang gerah, percakapan sederhana itu membuat malam terasa lebih menyenangkan.
***
Pada suatu pagi di hari Sabtu, Edo terbangun lebih awal daripada biasanya. Sabtu adalah hari keluarga Edo bisa berada di rumah. Meski masih harus disibukkan dengan berita, Edo bekerja di rumah. Sementara, Lulu memang libur. Hari kerjanya Senin-Jumat. Kiki pun demikian. Sabtu tidak pergi ke kampus. Arka pun sama.
Ketika membuka jendela, Edo melihat langit berwarna kelabu. Awan menutupi sebagian besar cakrawala, sementara udara terasa lebih sejuk. Ada aroma samar yang mengingatkannya pada tanah basah, meski halaman rumah masih kering.
Edo keluar ke teras. Belum sempat ia duduk, terdengar suara Lulu dari belakang.
“Mas?”
Edo menoleh dan berkata, “Lihat langit.”
Lulu menghampirinya. Keduanya berdiri berdampingan tanpa berkata-kata.
Beberapa saat kemudian, Kiki muncul dengan rambut yang masih berantakan. Arka menyusul.
“Ada apa?” tanya Arka.
“Sepertinya mau hujan,” jawab Kiki.
Arka langsung memandang langit. “Serius?”
“Jangan berisik dulu. Nanti awannya kabur,” kata Lulu.
Mereka tersenyum.
Lalu, setetes air jatuh di atas pagar. Disusul setetes lagi di lantai teras.
Arka mengangkat kedua tangannya. “Hujan!”
Titik-titik air mulai berjatuhan, mula-mula jarang, lalu semakin rapat. Dalam hitungan menit, hujan membasahi halaman, mengalir di antara pot tanaman, dan menimbulkan suara berirama di atap rumah.
Edo berdiri di dekat pagar, membiarkan angin membawa percikan air ke wajahnya. Lulu tersenyum sambil memperhatikan tanaman yang selama ini terlihat layu. Kiki mengeluarkan ponselnya untuk merekam hujan, sementara Arka berjalan ke ujung teras, berusaha melihat jalan yang mulai basah.
“Sudah berapa lama, ya, kita tidak melihat hujan seperti ini?” tanya Kiki.
“Rasanya lama sekali,” jawab Lulu.
Edo memandang air yang mulai mengalir di got kecil depan rumah. Hujan itu tidak serta-merta menyelesaikan semua persoalan. Persediaan air tidak langsung melimpah, dan kemarau belum tentu berakhir hanya karena satu pagi diguyur hujan. Namun, pagi itu mereka tak ingin memikirkan terlalu jauh. Mereka hanya ingin menikmati suara air yang jatuh dan aroma tanah yang kembali basah.
“Bun, jadi bikin teh hangat?” tanya Arka.
Lulu tertawa. “Iya. Tapi tunggu hujannya agak reda," jawabnya.
“Kenapa harus menunggu?” timpal Arka lagi.
“Karena Bunda ingin bersama kalian dulu melihat hujan turun. Kan Adik pernah bilang harus dirayakan karena kemarau ini terasa panjang," jawab Lulu.
"Ya sudah, ayo bantu Bunda bikin teh hangat," kata Lulu sambil menuju dapur diikuti Kiki dan Arka.
Setelah berbulan-bulan menatap langit dan menebak-nebak kapan hujan datang, pagi itu mereka akhirnya bisa berhenti menunggu. Setidaknya untuk sementara.
Sambil menikmati teh hangat, Kiki kembali bercerita tentang rencana menyelesaikan revisi skripsinya. Arka menimpali dengan cerita tentang kuliah. Lulu mendengarkan. Edo menikmati percakapan yang terdengar begitu biasa.
Ia tahu, setelah hujan berhenti, kehidupan akan kembali berjalan seperti biasa. Pekerjaan menunggu, skripsi harus diselesaikan, dan Arka masih punya banyak hal untuk dipelajari di bangku kuliah. Matahari pun mungkin akan kembali menyengat.
Namun, pagi itu mengingatkan Edo bahwa di tengah hari-hari yang terasa panjang, keluarga tetap punya cara sederhana untuk bertahan: saling menemani, berbagi cerita, dan menikmati hal-hal kecil yang kerap luput dari perhatian.
Hujan masih membasahi jalanan dan atap-atap rumah. Sementara, empat gelas teh hangat mengepulkan uap tipis. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, tak seorang pun perlu bertanya kapan hujan akan turun.
*) Penulis,
Agustinus Edy Pramana tinggal di Kota Tangerang, Banten. Sehari-hari bekerja di JawaPos.com di Jakarta.
Disclaimer: Nama tokoh dan tempat dalam cerpen ini merupakan fiktif. Apabila terdapat kesamaan nama, tokoh, tempat, atau peristiwa dengan kehidupan nyata, hal tersebut tidak disengaja dan hanya merupakan kebetulan.