← Beranda
Disa
Ilham SafutraSenin, 24 Agustus 2026 | 15.56 WIB
ILUSTRASI CERPEN DISA. (GENERATE AI/GEMINI)

 

Oleh: Ilham Safutra

“Om, Ibuku sakit.”

Disa sebetulnya sangat berat hati menulis pesan ini kepada Om Johan. Antara malu dan sungkan. Tidak enak hati.

Disa tidak berani berharap banyak pesannya akan direspons cepat. Dia sadar Om Johan tidak selalu berada di Jakarta. Kalau di Jakarta pun dia tentu lebih memilih pulang ke rumahnya dan bertemu keluarga. Bertemu istri, melepas rindu.

Rindu sama istri selalu dibawa Om Johan sekembali dari site tambang. Karena, di sana biasanya Om Johan bisa sebulan atau dua bulan. Jadi wajar dia pengin sekali ketemu istrinya. Tapi kadang-kadang rindu Om Johan tidak berbalas.

Kadang istrinya Mirna, tidak di rumah. Dia sibuk juga mengurus bisnis. Kalau tidak bisnis, dia ke Austalia menemui anaknya yang sedang kuliah di negeri kangguru itu. 

Kalau Mirna sibuk dengan bisnis, dia sering pulang malam. Sesampai di rumah dia sudah capek. Kadang lupa juga rasa rindu sama suami. Wajar sih, karena bisnisnya tidak lagi baik-baik saja. Omzet bisnisnya kata Om Johan kadang naik kadang turun. Sehingga, kalau sudah sampai di rumah,istrinya istirahat karena sudah capek berpikir menyelamatkan bisnis yang baru dibangun tiga tahun terakhir ini.
Di situlah situasi yang membuat Om Johan kecewa kalau pulang dari site tetapi tidak mendapat sambutan hangat dari istri yang sudah dinikahi lima belas tahun itu.

Sebagai pelarian, Om Johan bertemu kolega bisnis. Tapi kalau di Jakarta dia lebih memilih untuk relaksasi. Disa menjadi pelariannya. Dia menghubungi Disa dan betemu di tempat kerja Disa.

Kalau sudah sampai di sana, Om Johan kadang bisa menghabiskan waktu hingga lima jam. Disa merasa nyaman sekali. Disa tidak lagi berpikir untuk mendapatkan tamu hari itu. Melayani Om Johan sehari yang hanya paling lama lima jam, hasilnya sama dengan seminggu bekerja. Begitulah kira-kira hasilnya. Kadang  ketika Om Johan lagi di site, Disa masih bisa mendapat hasil. Cukup tinggal kirim pesan, "Om kapan ke Jakarta?"

Baca Juga: Bahtera

Kalau sudah masuk pesan seperti itu, Om Johan sudah paham. Disa butuh jajan. Tidak perlu membalas pesan itu. Dia cukup kirim transferan. Sekali kirim lima juta rupiah.

"Sudah ya." Tanpa basa-basi.

Cara Om Johan memperlakukan seperti itu membuat Disa tidak banyak tingkah. Dia rela tidak menerima job dari orang lain selama Om Johan ke tempat dia. Di tempat kerja perempuan 24 tahun itu cukup terima billing lima jam saja dari Om Johan. Bahkan dari lima jam yang dibayar Om Johan ke agen Disa jauh lebih kecil yang diterima Disa langsung di kamar. Bisa untuk hidup seminggu atau untuk beli obat ibunya yang sedang sakit. Sisanya bisa buat bayar baby sitter (pengasuh anak) anaknya sebulan.

Tapi kali ini Disa tidak berani berharap banyak. Om Johan baru saja men-transfer minggu lalu. Padahal Om Johan lagi di site. Jumlahnya uang lima juta rupiah. Uang itu dipakai untuk tambahan biaya pendaftaran sekolah Malik di SD, anak Disa. 
Berharap tidak berharap sih. Disa sangat butuh uang. Ibunya butuh beli obat. Sakit epilepsinya kambuh. Obat sudah habis. Padahal jadwal kontrol ke dokter tiga minggu lagi atau akhir bulan ini.

***

Malam itu, pukul 22.00 balasan pesan dari Om Johan akhirnya masuk juga di notif ponsel Disa. Kali ini pesannya bukan bukti transfer. Hanya bilang, "aku lagi banyak meeting di site. Alat-alat rusak. Tim perbaikan belum bisa bekerja. Suku cadang belum sampai dikirim dari Jepang."

Bukan itu sebetulnya balasan yang diharapkan Disa. Dia cukup terima chat. “Sudah ya”.

Namun, bagaimana lagi. Om Johan bukan suami, bukan pula saudara, apalagi bapaknya. Hanya menghelus dada saja Disa.

Kali ini Disa cuma mencari akal bagaimana ibunya yang sakitnya lagi kambuh dapat tertangani. Cadangan obat benar-benar sudah habis.

Dia cuma berharap kepada Yuli untuk bisa menangani ibu sementara dengan obat apa adanya. Minimal dibawa ke UGD. Tapi bagaimana bawa ke UGD, Yuli tidak punya kendaraan. Paling-paling hanya antar pakai taksi online atau berharap bantuan tetangga yang sudi mengantarkan dengan mobilnya ke UGD. Setidaknya di rumah sakit, ibu ada yang memantau kondisinya dalam kambuh.

Baca Juga: Sapi Sebesar Gajah

Kalau Disa memilih pulang kampung pun tidak ada guna. Yang dibutuhkan ibu saat ini adalah obat. Bukan dirinya. Kalau pulang kampung, Disa tidak mungkin dapat izin. Mami yang menjadi agennya di tempat hiburan sangat butuh dia, karena tamu lagi ramai. Mami takut kekurangan orang.

Selain itu kalau pulang kampung, Disa butuh ongkos. Kalau pulang kampung tidak bawa uang percuma. Malik biasanya berharap dibawakan oleh-oleh mainan. Diajak ke pasar untuk jajan yang dimau.

"Ah sudahlah," Pikiran Disa berkecamuk. Tidak tahu apa yang harus dilakukan.
"Disa, kamu masih lama di toilet?" Ada suara Santi di balik pintu. Perempuan itu kebelet pipis.

Disa kaget. Dia bersigap membereskan pakaian dan rapi-rapi. Takut terlihat oleh tamu mukanya kucel atau tidak segar. Bisa-bisa Disa tidak kepilih dalam showing.
Musik di launge sedang kencang. Saking kerasnya, kalau bicara harus langsung ke kuping. Malam itu kilau lampu ruangan menghiasi ayunan musik nan cetar-cetar. Tamu-tamu yang baru saja tidak terlihat jelas. Disa kalau sadar dipanggil mami, jika ada sorot senter sampai ke wajah atau dada yang memperlihatkan belahannya. Cahaya senter itu kadang redup termakan warna baju nan terang. 

Disa memilih duduk di sofa bersama perempuan lainnya di kafe itu. Berjejer lima orang. Kebetulan dalam jejeran itu kategori rose. Satu kategori dengan perempuan yang berambut berwarna itu. Otomatis ketika ada showing, semua yang di sofa ikut berbaris. Menunggu nasib apakah bakal dipilih atau tidak.

Setelah dari toilet, Disa sudah tiga kali ikut barisan showing. Tapi nasibnya belum terpilih. Padahal jam di ponselnya sudah menunjukkan pukul 23.00. Satu jam lagi hotel dan bar tempatnya bekerja bakal tutup. Orderan terakhir masih bisa diterima hingga pukul 23.30.

Sebagian teman Disa sudah ada yang turun dari lantai atas. Di lantai atas itu merupakan kamar- kamar yang bakal disewa tamu. Tamu yang ingin melepas lelah seharian bekerja. Di kamar itu para tamu akan ditemani perempuan kafe. Mereka bebas di sana, baik untuk sekadar mengobrol, curhat, maupun ketawa cekikikan, atau suara ngorok rintihan. 

Harapan Disa malam ini sepertinya hanya sampai pada hikmahnya. "Malam ini hanya dapat hikmahnya saja," gumamnya di sandaran sofa.

Dia belum berpikir untuk ganti kostum menuju pulang. Pikirannya masih bingung. Terbayang ibu yang tadi sore dikabarkan kejang lagi. Disa belum mendapatkan kabar terbaru kondisi ibu hingga malam ini, apakah sudah dibawa ke UGD atau mendapat pertolongan lain.

Dia khawatir anaknya, Malik, video call mengabari kondisi ibu. Disa masih berkostum dalam kafe. Kostum yang sangat menarik perhatian para tamu yang umumnya lelaki.

Baca Juga: Anak Tunggal Seorang Dukun

Mendapat kabar dari Om Johan malam ini menurutnya suatu tidak mungkin. Apalagi kalau Om Johan di daerah timur.  Pasti di sana sudah sangat larut malam. Lelaki tua berusia 45 tahun itu pastinya sudah lelap dalam tidur. Atau, bisa jadi Om Johan sedang bersama teman-temannya bergadang menghabiskan malam untuk mengusir rasa rindu keluarganya. Bisa juga Om Johan malam itu melawan dingin malam dengan bermain domino nan seru.

"Terserahlah. Aku tidak boleh berharap banget." 

Disa sadar. Om Johan bukan miliknya. Hanya lelaki yang sadar datang ke tempatnya kerja untuk mencari hiburan sambil ditemani minum-minum. Syukur-syukur Om Johan lagi baik hati dan merasa terlayani dengan baik. Biasanya kalau dia merasa seperti itu, Om Johan tidak sungkan kasih tanda bukti sudah transfer dengan angka upah minimum provinsi (UMP) DKI Jakarta. Uang sebanyak itu hanyalah tips.

Kalau kurang beruntung hanya sekadar tips yang sekadar dapat ditransfer lagi ke Malik untuk jajan sebulan. Memang jajan harian Malik hanya dua puluh ribu rupiah. Kalau dikalikan 30 hari, lumayan juga jumlahnya. Gaji Disa dari kafe bisa utuh. Bisa ditabung atau dapat beli obat ibu. Setidaknya dengan gaji itu Disa tidak perlu pusing lagi untuk makan dan bayar kamar kosnya.

Malam ini Disa sepertinya benar-benar kosong. Tidak ada uang tips yang dibawa pulang untuk sekadar beli nasi goreng malam pengisi perut kosong pada dini hari. Dia pasrah. "Namanya kerja. Kadang dapat uang, kadang dapat hikmahnya." Disa menghibur diri.

*) Penulis, 

Ilham Safutra tinggal di Parung Panjang, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Sehari-hari bekerja di JawaPos.com di Jakarta. 

EDITOR: Ilham Safutra