JawaPos.com - Bagi Dokter Melani Setiawan, seni di Indonesia adalah bagian tidak terpisahkan dalam hidupnya. Karena itulah, pada setiap peristiwa seni yang dialaminya Melani selalu berupaya merekam dan membuatnya abadi dalam bingkai foto.
Melani membagi kepada publik perihal peristiwa seni, sosok seniman, dan tualang seni yang dialaminya selama 45 tahun atau hampir setengah abad itu dalam sebuah buku. Buku bertajuk Indonesia Art World: dr. Melani Setiawan’s Archive (1977–2022) itu menghadirkan kurang lebih 4 ribu koleksi foto Melani soal seni rupa Indonesia pada kurun waktu 1977 sampai 2022.
Bertempat di Universitas Ciputra (UC) Library Surabaya pada Senin (21/9) lalu, buku Melani tersebut dibedah. Profesor Djuli Djati Pambudi (Universitas Negeri Surabaya) dan E. St. Oyik Eddy (founder dan co-chairman Srisasanti Syndicate) memberikan pandangan mereka soal buku yang memuat 4 ribu arsip foto seni rupa Indonesia itu. Dosen UC dan kurator seni Ayos Purwoaji menjadi moderator di acara diskusi yang berlangsung hampir jam itu.
“Saya sebetulnya tidak berniat menjadikan arsip foto sebagai sebuah buku, sebab memotret adalah kebiasaan saya sejak kecil. Jadi, saya punya foto sejak kecil sampai dewasa dan itu tersimpan sendiri-sendiri dengan rapi,” kata Melani kepada JawaPos.com usai acara bedah buku Indonesia Art World: dr. Melani Setiawan’s Archive (1977–2022).
Kemudian sekitar 2004, salah satu rekannya yaitu Hendro Wiyanto memberikan ide agar foto-foto aktivitas Melani yang berhubungan dengan seni itu dibukukan. Menurut Hendro yang juga menggeluti dunia seni rupa, foto-foto Melani itu akan menjadi bagian penting dalam sejarah seni rupa Indonesia. “Tapi saya bilang saat itu, saya gak pede. Rasanya narsis sekali, arsip itu kan isinya foto saya,” kata Melani.
Kemudian pada 2010, kurator Jim Supangkat memberi dorongan moril kepada Melani agar membukukan arsip fotonya. Dalam kalkulasi Melani, ada lebih dari 10 ribu arsip berupa foto seni Indonesia yang dimilikinya. Kemudian jumlah itu dikurasi sehingga jadilah 4 ribuan foto yang muncul dalam buku Indonesia Art World: dr. Melani Setiawan’s Archive (1977–2022).
Salah satu pembedah buku Melani, Profesor Djuli mengatakan arsip foto Melani ini punya posisi penting dalam merekam sejarah seni rupa Indonesia. Bukan sekadar siapa yang difoto Melani dan apa yang hadir dalam foto itu. Justru arsip foto Melani itu bicara dalam konteks yang lebih besar.
“Jadi, arsip foto Bu Melani ini bisa berfungsi merekonstruksi peristiwa seni, sosial, dan budaya. Juga bisa menelusuri perubahan karya seniman, lalu mengungkapkan yang tidak tercatat di teks, dan yang paling penting adalah sumber untuk kritik historiografi seni Indonesia,” papar Djuli.