← Beranda
Transformasi Ekonomi Hijau Butuh Tenaga Kerja dengan Kompetensi Baru
Dimas Choirul• Kamis, 24 September 2026 | 20.01 WIB
Forum global Talent for Sustainable Development di KJRI New York, Selasa (22/9). (Istimewa)

 

JawaPos.com - Transformasi menuju ekonomi hijau tidak hanya membutuhkan teknologi dan energi bersih, tetapi juga tenaga kerja dengan kompetensi yang sesuai dengan perubahan industri. Kebutuhan talenta dengan kemampuan baru tersebut menjadi salah satu perhatian dalam forum yang membahas pengembangan industri berkelanjutan di New York, Amerika Serikat.

Direktur Utama Petrokimia Gresik, Daconi Khotob menekankan pentingnya kesiapan talenta Indonesia dalam menghadapi pertumbuhan green jobs dan transformasi industri hijau.

"Transformasi menuju ekonomi hijau pada dasarnya juga merupakan transformasi tenaga kerja. Investasi pada teknologi harus berjalan bersama dengan investasi pada manusia. Teknologi hijau hanya akan memberikan manfaat apabila didukung talenta yang mampu merancang, mengoperasikan, dan mengembangkannya," ujar Daconi di forum global Talent for Sustainable Development di KJRI New York, kemarin lusa, dikutip Kamis (24/9).

Daconi juga mendorong talenta Indonesia di New York untuk mengambil bagian dalam transformasi tersebut dengan membawa pengetahuan, pengalaman, dan jejaring global untuk berkontribusi bagi kemajuan Indonesia.

Menurutnya, kebutuhan terhadap SDM dengan kompetensi global akan semakin penting seiring berkembangnya industri hijau dan ekonomi berkelanjutan.

"Kami berharap talenta-talenta terbaik Indonesia yang saat ini belajar maupun berkarya di luar negeri dapat membawa kembali pengetahuan dan pengalamannya untuk berkontribusi bagi Indonesia. Transformasi ke depan membutuhkan SDM yang memiliki kompetensi, perspektif global, dan kemampuan menjawab perubahan industri," tambahnya.

Menurut Daconi, perusahaan memiliki posisi yang unik karena berada pada dua sisi transformasi sekaligus. Di sisi hulu, perusahaan merupakan industri pupuk dan kimia yang terus meningkatkan efisiensi serta menurunkan intensitas karbon.

Sementara di sisi hilir, produk dan inovasinya bersentuhan langsung dengan produktivitas petani, kesehatan tanah, dan keberlanjutan pertanian Indonesia.

Salah satunya melalui GladiAgro yang dikembangkan untuk menjawab tantangan menurunnya kesehatan tanah. Berdasarkan pengujian Petrokimia Gresik terhadap 40.282 sampel tanah di 27 provinsi sejak 2016, sebanyak 91,9 persen menunjukkan kandungan karbon organik yang rendah.

Dalam implementasinya, GladiAgro memanfaatkan Petro Gladiator sebagai dekomposer berbasis mikroba unggul untuk mempercepat proses dekomposisi limbah pertanian dan bahan organik menjadi nutrisi organik. Nutrisi tersebut selanjutnya dikembalikan ke lahan untuk meningkatkan kandungan bahan organik, memperbaiki struktur tanah, dan mendukung pemulihan kesehatan tanah.

"Transformasi hijau kami tidak berhenti di gerbang pabrik, tetapi berlanjut sampai ke lahan pertanian. Di industri, kami harus membuat proses produksi semakin efisien dan rendah karbon. Di sektor pertanian, kami juga harus membantu petani menjaga kesehatan tanah, menggunakan input secara lebih tepat, dan meningkatkan produktivitas secara berkelanjutan," jelasnya.

Dalam forum di KJRI New York, Daconi membawa perspektif "Green Jobs: From Green Transformation to Green Talent". Menurutnya, perubahan menuju industri rendah karbon bukan hanya mengubah teknologi dan sumber energi, tetapi juga kompetensi tenaga kerja.

Engineer dan operator yang sebelumnya banyak berfokus pada keandalan serta kapasitas produksi, misalnya, ke depan juga perlu memahami efisiensi energi, energi terbarukan, manajemen karbon, serta teknologi rendah karbon. Kebutuhan talenta pun semakin luas, mulai dari teknik dan lingkungan hingga pertanian, digital, data, keuangan, dan bisnis.

"Engineer tetap engineer, agronom tetap agronom, dan akuntan tetap akuntan. Tetapi teknologi yang mereka gunakan, kompetensi yang mereka butuhkan, dan ukuran keberhasilan pekerjaannya akan berubah. Karena itu, penguatan talenta perlu dilakukan melalui reskilling, upskilling, pengalaman industri, serta kolaborasi lintas disiplin," terangnya.

Penguatan talenta tersebut berjalan beriringan dengan transformasi operasional Petrokimia Gresik. Perusahaan memiliki road map dekarbonisasi menuju Net Zero Emission (NZE) 2060. Pada 2030 sebagai target jangka pendek, Petrokimia Gresik menargetkan penurunan emisi sebesar 30 persen dibandingkan skenario Business as Usual (BAU) sebesar 3,46 juta ton CO₂e.

Upaya tersebut dilakukan melalui efisiensi energi dan utilitas, penggunaan sumber energi yang lebih bersih, pemanfaatan energi terbarukan dan CO2, serta pengembangan teknologi rendah karbon. Salah satunya adalah rencana pengembangan green hydrogen untuk mendukung produksi (hybrid) green ammonia berkapasitas 250 MTPD yang tengah dikaji Petrokimia Gresik bersama Pupuk Indonesia sebagai bagian dari transformasi energi perusahaan.

Menurut Daconi, perubahan tersebut membuat industri tidak cukup hanya menjadi pengguna tenaga kerja, tetapi juga perlu ikut membentuk talenta masa depan melalui pengembangan kompetensi serta kolaborasi dengan pemerintah, perguruan tinggi, dan berbagai pemangku kepentingan.

"Talenta hijau Indonesia perlu disiapkan dari sekarang karena transformasi industri hijau tidak menunggu kesiapan kita. Kolaborasi antara industri, pemerintah, perguruan tinggi, serta talenta Indonesia di dalam maupun luar negeri akan menjadi fondasi penting agar transformasi ini tidak hanya menurunkan emisi, tetapi juga menciptakan nilai ekonomi, memperkuat ketahanan pangan, dan membuka peluang bagi generasi mendatang," pungkas Daconi.

EDITOR: Estu Suryowati