JawaPos.com - Pengamat Kebijakan Publik dan Lingkungan, Agus Pambagio menilai, jalan tol memiliki peran besar dalam pertumbuhan ekonomi nasional. Oleh karena itu, keterlambatan pembangunan bisa menghambat target ekonomi 8 persen yang ditetapkan Presiden Prabowo Subianto.
Agus menjelaskan, jalan tol tidak semata berhenti pada pembangunan infrastruktur baru dan tarif yang ditetapkan. Pasalnya, jalan tol adalah investasi jangka panjang.
Jalan tol tidak bisa dianggap hanya infrastruktur fisik. Melainkan bisa digunakan untuk meningkatkan pelayanan masyarakat.
"Jalan tol yang baik, aman, dan andal memberikan manfaat langsung kepada publik melalui perjalanan yang lebih efisien, peningkatan mobilitas dan logistik, serta kemudahan dalam menjalankan aktivitas ekonomi dan kehidupan sehari-hari," kata Agus, Selasa (1/9).
Baca Juga: Temuan 800 Kg Barang Mengandung Ketamine HCI di Kepri, Kepala BNN: Modus Baru Penyelundupan
Jalan tol menyumbang pertumbuhan ekonomi yang cukup besar. Sebab, infrastruktur itu bisa memperlancar distribusi barang dan jasa.
"Keterlambatan pembangunan jalan tol tidak dapat dilihat hanya sebagai keterlambatan pembangunan fisik, tetapi juga berpotensi menunda manfaat ekonomi yang seharusnya dapat dirasakan masyarakat dan dunia usaha," imbuhnya.
Pemerintah telah menetapkan target pertumbuhan ekonomi 8 persen. Jalan tol diyakini bisa menyumbang dalam mewujudkan target tersebut.
Keberhasilan pembangunan jalan tol harus menjadi perhatian dan tanggung jawab bersama. Pemerintah, badan usaha, investor, lembaga pembiayaan, dan seluruh pemangku kepentingan perlu memiliki kesamaan pandangan bahwa pembangunan infrastruktur tidak berhenti pada pembangunan fisiknya, tetapi harus dipastikan dapat beroperasi, dipelihara, dan memberikan manfaat secara berkelanjutan.
"Jalan tol memiliki posisi strategis dalam sistem transportasi dan logistik nasional. Keberadaannya bukan hanya mempercepat mobilitas orang dan barang, tetapi juga berperan dalam menjaga efisiensi rantai pasok, menghubungkan pusat-pusat produksi dengan pasar, serta mendukung pertumbuhan ekonomi di berbagai wilayah," jelasnya.
Dalam pemaparan Asosiasi Jalan Tol Indonesia (ATI) kepada Komisi V DPR RI, dari 39 sampel BUJT yang ditinjau, sekitar 54 persen masih mencatat profitabilitas operasi negatif, 37 persen belum menghasilkan keuntungan operasi, sementara sekitar 9 persen telah memiliki arus kas positif. Data tersebut menunjukkan bahwa sebagian besar investasi jalan tol masih membutuhkan waktu panjang untuk mencapai tingkat pengembalian yang memadai.