← Beranda
Teknologi AI Permudah Industri Logistik Tangani Lonjakan Paket
Nanda PrayogaJumat, 28 Agustus 2026 | 01.20 WIB
CEO J&T Express Robin Lo. (Nanda Prayoga/JawaPos.com)

 

JawaPos.com - Perusahaan logistik dituntut mampu bergerak cepat mengikuti pertumbuhan transaksi e-commerce. Bukan hanya soal mengantarkan paket, perusahaan juga harus memastikan jumlah kurir, kapasitas operasional, hingga proses penyortiran dapat menyesuaikan dengan lonjakan volume pengiriman.

Kondisi tersebut membuat pemanfaatan teknologi, termasuk artificial intelligence (AI) dan data analitik, semakin penting dalam industri logistik. J&T Express menjadi salah satu perusahaan yang memanfaatkan teknologi tersebut untuk membaca pola pengiriman dan menyiapkan kebutuhan operasional sebelum paket tiba di wilayah tujuan.

CEO J&T Express Robin Lo mengatakan, teknologi sejak awal menjadi salah satu fokus perusahaan untuk meningkatkan efisiensi sekaligus pelayanan kepada pelanggan.

"J&T Express ini dari awal sampai sekarang itu selalu menekankan teknologi untuk membantu efisiensi kita. Sehingga efisiensi ini juga bisa membantu customer kita, meningkatkan pelayanan kita supaya waktu yang kita kirim kepada customer itu lebih cepat dan lebih efisien," ujar Robin dalam media gathering J&T Express 11th Anniversary di Jakarta, Rabu (26/8).

Robin memberikan gambaran ketika paket dikirim dari Jakarta menuju Bali atau Nusa Tenggara. Sebelum paket tersebut tiba di wilayah tujuan, J&T Express dapat memanfaatkan data untuk memperkirakan kebutuhan sumber daya manusia yang diperlukan untuk menangani pengiriman melalui AI.

"Jadi kita bisa lihat, kita bisa tahu kayak paket-paket itu begitu datang kita sudah ada data-datanya bahwa paket yang banyak akan dikirimkan misalnya ke daerah mana," jelasnya.

"Contohnya dari Jakarta kita mau kirim ke daerah Bali atau Nusa Tenggara. Nah, di situ itu sebelum paket ini sampai di daerah tersebut kita biasanya sudah menyiapkan SDM yang cukup untuk mengirimkan paket-paket yang ada," lanjut Robin.

Menurut dia, kemampuan tersebut sulit dilakukan jika perusahaan hanya mengandalkan cara kerja konvensional. AI dan data analitik dibutuhkan agar jumlah tenaga operasional dapat disesuaikan dengan perkiraan volume paket di suatu wilayah.

"Tanpa adanya AI dan data-data analitik ini seperti zaman dulu kita tidak bisa melakukan hal ini. Karena kenapa? Kita butuh efisiensi," tuturnya.

Pengaturan jumlah kurir menjadi penting karena kelebihan maupun kekurangan tenaga operasional sama-sama dapat menimbulkan persoalan. Ketika jumlah paket terlalu banyak sementara jumlah kurir tidak mencukupi, pengiriman berpotensi mengalami keterlambatan.

Sebaliknya, jumlah kurir yang terlalu banyak ketika volume paket sedang rendah juga dapat meningkatkan biaya operasional. Kondisi tersebut pada akhirnya dapat memengaruhi biaya pengiriman yang harus ditanggung pelanggan.

"Tapi kalau seandainya kurirnya terlalu banyak sedangkan paketnya sedikit, yang terjadi adalah cost-nya akan sangat tinggi dan harga kirim itu tidak akan bisa jadi murah," ujarnya.

Karena itu, pemanfaatan data analitik dinilai dapat membantu perusahaan menemukan titik keseimbangan antara volume paket dan kebutuhan tenaga operasional.

"Nah, makanya zaman sekarang ini untuk data-data analitik ini sangat penting sekali. Itu cukup membantu efisiensi kita. Sehingga kita bisa menekan harga logistik di Indonesia itu lebih rendah lagi," kata Robin.

Pemanfaatan AI tersebut menjadi semakin relevan seiring meningkatnya volume pengiriman J&T Express. Pada kuartal II 2026, volume paket perusahaan disebut meningkat lebih dari 50 persen, sedangkan secara year-on-year (yoy) pertumbuhannya mencapai sekitar 65 persen.

Pertumbuhan tersebut membuat teknologi tidak hanya digunakan untuk mempercepat pekerjaan, tetapi juga membantu perusahaan mengantisipasi kebutuhan operasional di berbagai wilayah.

Selain AI dan data analitik, perusahaan juga memperluas penggunaan sistem otomatis dalam proses penyortiran. Jika sebelumnya teknologi tersebut lebih banyak digunakan di gudang utama, kini perusahaan mulai menerapkannya pada fasilitas yang lebih kecil atau drop center.

Menurut dia, mesin sortir otomatis yang digunakan perusahaan dapat membuat proses penyortiran berjalan hingga empat kali lebih cepat dibandingkan proses manual. Teknologi tersebut juga mulai ditempatkan di sejumlah drop center.

"Sekarang kita bisa lihat bahwa bisa empat kali lebih cepat penyortiran kita dengan mesin software otomatis," katanya.

Teknologi tersebut juga digunakan untuk mengurangi ketergantungan terhadap proses manual yang memiliki keterbatasan. Robin menyebut pekerja manusia dapat mengalami kelelahan, sakit, maupun melakukan kesalahan yang tidak sepenuhnya dapat dihindari.

"Kalau dengan manusia itu biasanya lebih lambat. Dan manusia itu ada keterbatasan. Dalam arti manusia itu kadang bisa sakit, bisa capek, atau bisa melakukan kesalahan yang tidak bisa dihindari," jelasnya.

Bagi J&T Express, perkembangan e-commerce membuat kebutuhan terhadap sistem logistik yang mampu menangani volume paket dalam jumlah besar semakin penting. Perusahaan menilai pertumbuhan perdagangan elektronik tidak dapat dipisahkan dari kemampuan industri logistik dalam mendistribusikan barang.

"Pertumbuhan e-commerce itu meledak. Karena e-commerce itu tanpa didukung oleh logistik yang kuat, mereka itu juga tidak bisa apa-apa. Mereka itu cuma bisa jualan, padahal akhirnya yang kirim barang itu siapa?" pungkas Robin.

EDITOR: Estu Suryowati