← Beranda
COD jadi Tantangan Sekaligus Keunggulan Bisnis Logistik di Indonesia
Nanda PrayogaJumat, 28 Agustus 2026 | 00.15 WIB
CEO J&T Express Robin Lo. (Nanda Prayoga/JawaPos.com)

 

 

JawaPos.com - Layanan cash on delivery (COD) menjadi salah satu tantangan yang masih dihadapi perusahaan logistik di Indonesia. Selain harus mengantarkan barang hingga ke tangan penerima, perusahaan juga memiliki tanggung jawab untuk membantu proses penagihan pembayaran dari pelanggan.

Kondisi geografis Indonesia yang terdiri dari ribuan pulau turut membuat proses pengiriman menjadi tantangan tersendiri. Namun, di sisi lain, kemampuan menangani pengiriman berbasis COD justru dapat menjadi salah satu keunggulan bagi perusahaan logistik.

CEO J&T Express Robin Lo mengatakan, tantangan terbesar yang masih dihadapi perusahaan salah satunya berkaitan dengan kondisi geografis Indonesia dan tingginya pengiriman menggunakan sistem COD.

"Tantangan terbesar yang masih dihadapi ya kita bisa lihat bahwa Indonesia ini adalah negara kepulauan. Kita terdiri dari 17 ribu pulau dan saat ini banyak pengiriman itu merupakan pengiriman COD," ujar Robin dalam media gathering J&T Express 11th Anniversary di Jakarta, Rabu (26/8).

Menurutnya, sistem COD membuat proses bisnis logistik tidak berhenti setelah paket sampai di tujuan. Perusahaan juga perlu membantu melakukan penagihan biaya barang yang dikirim kepada penerima.

"COD itu artinya bahwa barang setelah dikirim kita harus membantu untuk menagih biaya dari barang tersebut. Nah itu menurut kita merupakan satu tantangan yang cukup besar, tapi pastinya itu juga merupakan satu hal yang bagus bagi kita," jelasnya.

Robin menilai kemampuan menangani pengiriman berbasis COD justru dapat menjadi salah satu pembeda dalam persaingan industri logistik. Sebab, apabila proses tersebut mudah dilakukan oleh semua pihak, semakin banyak pemain yang berpotensi masuk dan menawarkan layanan serupa.

"Karena kalau tanpa ada COD ini artinya kita akan memiliki banyak kompetitor, karena semua orang bisa melakukan hal ini," katanya.

Sebaliknya, kompleksitas dalam menangani COD membuat tidak semua pemain dapat dengan mudah melakukan layanan tersebut. Kemampuan perusahaan dalam menjalankan proses pengiriman sekaligus penagihan menjadi salah satu faktor yang memperkuat posisi di tengah persaingan.

"Tapi karena hal ini tidak gampang makanya itu membuat kita menjadi salah satu pilihan yang cukup kuat karena capability kita dan kemampuan kita untuk melakukan pengiriman dalam basis COD," ujar Robin.

Kemampuan tersebut juga perlu ditopang dengan jaringan operasional yang luas. Setelah 11 tahun beroperasi di Indonesia, J&T Express saat ini memiliki 26 cabang yang mencakup 38 provinsi, lebih dari 5.000 titik operasional, serta lebih dari 150.000 karyawan di seluruh Indonesia.

Robin mengatakan perluasan jaringan akan terus dilakukan mengikuti pertumbuhan volume pengiriman. Penambahan cabang tidak semata-mata dilakukan dengan membuka titik baru, tetapi juga menyesuaikan kapasitas di masing-masing wilayah.

"Terutama kayak untuk coveran kita mungkin yang dulunya contohnya, dulu coveragenya mungkin titik kita cuma 3 ribu. Karena sekarang sehingga bertambahnya paket kita, maka cabang-cabang kita itu akan bertambah semakin banyak," kata Robin.

Menurutnya, satu wilayah yang sebelumnya hanya memiliki satu cabang dapat dipecah menjadi dua apabila volume pengiriman terus bertambah. Sementara fasilitas yang sebelumnya berukuran kecil juga dapat diperbesar untuk menyesuaikan kebutuhan.

"Jadi setiap satu daerah itu misalnya yang dulu satu akan dipecah jadi dua. Atau misalnya yang satunya kecil akan dibuat satu yang gede," lanjutnya.

Meski demikian, ekspansi jaringan tetap harus dilakukan secara terukur. Perusahaan tidak ingin menambah infrastruktur secara berlebihan karena dapat meningkatkan biaya operasional dan pada akhirnya berpengaruh terhadap harga pengiriman.

Hal tersebut sejalan dengan strategi perusahaan yang menempatkan efisiensi sebagai salah satu fokus utama. Robin mengatakan bisnis logistik pada dasarnya memiliki tiga hal yang menjadi perhatian, yakni membuat biaya pengiriman lebih murah, pelayanan lebih cepat, dan pelanggan semakin puas.

"Karena bagi kita bisnis logistik itu fokusnya cuma satu, gimana caranya cost itu bisa lebih murah lagi, pelayanan itu bisa lebih cepat lagi, dan masyarakat yang menerima itu bisa lebih senang lagi. Itu pasti tiga poin utama," tuturnya.

Di sisi lain, perusahaan tetap perlu meningkatkan kualitas layanan untuk mempertahankan kepercayaan pelanggan. Robin mengatakan perusahaan tidak dapat menjamin pelayanan yang selalu mampu memuaskan seluruh pelanggan karena kebutuhan masyarakat terus berubah seiring perkembangan zaman.

Menurut Robin, ekspektasi pelanggan saat ini juga semakin tinggi. Jika sebelumnya pelanggan cukup puas ketika paket tiba sesuai estimasi, kini sebagian masyarakat menginginkan waktu pengiriman yang jauh lebih cepat.

"Mungkin kalau zaman dulu itu kita yang penting barang itu sampai, misalnya janjinya tiga hari, sampai tiga hari kita sudah happy. Tapi zaman sekarang mungkin kalau kita janjinya tiga hari sampai, kalau bisa itu satu jam," ujarnya.

 

EDITOR: Estu Suryowati