← Beranda
UMKM Perkebunan Naik Kelas, Hadirkan Rompi Antipeluru Berbahan Sawit di ITTIE 2026
Nanda Prayoga• Kamis, 18 Juni 2026 | 00.15 WIB
BPDP dalam pameran Indonesia Tourism and Trade Investment Expo (ITTIE) 2026. (Dok. BPDP)

 

JawaPos.com - Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) terus memperkuat pengembangan sektor perkebunan nasional melalui dukungan terhadap usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) berbasis komoditas kelapa sawit, kelapa, dan kakao. Upaya tersebut diwujudkan melalui partisipasi BPDP dalam pameran Indonesia Tourism and Trade Investment Expo (ITTIE) 2026 yang berlangsung pada 11–14 Juni 2026 di Plaza Surabaya, Jawa Timur.

Sebagai Badan Layanan Umum (BLU) di bawah Kementerian Keuangan, BPDP memiliki mandat untuk mengelola dana perkebunan secara akuntabel dan tepat sasaran. Selain menjalankan berbagai program pengembangan industri perkebunan, BPDP juga aktif memperkenalkan program dan manfaatnya kepada masyarakat.

Menariknya, BPDP juga memperkenalkan sejumlah inovasi hasil program Grant Riset Sawit. Salah satu yang menarik perhatian adalah rompi antipeluru yang dikembangkan menggunakan biomaterial berbasis kelapa sawit.

Keikutsertaan dalam ITTIE 2026 menjadi salah satu langkah strategis BPDP untuk memperluas jangkauan promosi sektor perkebunan sekaligus membuka peluang kolaborasi dengan berbagai pihak.

Pameran yang menggabungkan sektor pariwisata, perdagangan, dan investasi tersebut dinilai mampu menjadi wadah efektif untuk memperkenalkan program-program BPDP, memperkuat jejaring kemitraan, serta mendorong investasi dan pengembangan hilirisasi komoditas perkebunan.

Melalui kegiatan ini, BPDP berupaya meningkatkan nilai tambah dan daya saing produk berbasis perkebunan, sekaligus memperluas akses pasar bagi UMKM agar mampu berkembang ke level yang lebih tinggi melalui penguatan kapasitas usaha dan pengembangan bisnis yang berkelanjutan.

Staff Senior Divisi Kerjasama Kelembagaan dan UMKM BPDP, Murti Pagar Intan, mengatakan, melalui keikutsertaan dalam ITTIE 2026, diharapkan UMKM sektor perkebunan dapat semakin berkembang dan meningkatkan daya saingnya sehingga mampu naik kelas serta memperluas akses pasar.

“Selain itu, kegiatan ini menjadi sarana untuk memperkenalkan berbagai produk turunan komoditas perkebunan kepada masyarakat yang lebih luas. Ajang ini juga berperan sebagai media edukasi dalam memperkuat pemahaman publik serta membangun persepsi positif terhadap komoditas perkebunan, khususnya kelapa sawit, kelapa dan kakao, beserta kontribusinya bagi perekonomian nasional,” kata Murti.

Selama empat hari penyelenggaraan, booth BPDP mencatat kunjungan sekitar 350 orang yang berinteraksi langsung dengan berbagai program dan aktivitas yang disediakan. Lokasi booth yang berada di area strategis pusat perbelanjaan juga memberikan eksposur kepada lebih dari 2.000 pengunjung.

Tingginya jumlah pengunjung menunjukkan besarnya minat masyarakat terhadap informasi dan produk yang ditampilkan. Kehadiran BPDP di ajang tersebut dinilai efektif dalam meningkatkan pemahaman publik mengenai peran dan kontribusi lembaga tersebut dalam pengembangan sumber daya manusia, hilirisasi industri perkebunan, serta pemberdayaan UMKM.

Tak hanya rompi antipeluru dari kelapa sawit, BPDP turut menghadirkan berbagai produk unggulan hasil binaan UMKM yang memanfaatkan komoditas perkebunan sebagai bahan baku utama. Di antaranya produk fesyen dari Jayanti Batik asal Malang dan Smart Batik dari Yogyakarta yang menggunakan pewarna berbasis sawit, produk kerajinan tas dan sandal dari Cambia Craft asal Aceh yang memanfaatkan lidi sawit, hingga minuman berbahan dasar air kelapa murni dari Choco Frizz.

Melalui berbagai produk dan inovasi tersebut, BPDP ingin menunjukkan bahwa komoditas perkebunan tidak hanya menghasilkan produk pangan, tetapi juga dapat menjadi bahan baku bagi beragam produk kreatif dan teknologi bernilai tambah tinggi yang memiliki daya saing di pasar.

Melalui partisipasi dalam ITTIE 2026, BPDP kembali menegaskan komitmennya untuk mendorong sektor perkebunan yang lebih maju, berkelanjutan, dan kompetitif. Sinergi antara pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat diharapkan mampu memperkuat peran komoditas kelapa sawit, kelapa, dan kakao sebagai motor pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan di Indonesia.

EDITOR: Estu Suryowati