← Beranda
Rekor Ekspor Seafood Jepang Melonjak 17 Persen, Tembus Rp 46,96 Triliun
Dhimas GinanjarSenin, 8 Juni 2026 | 16.07 WIB
Pekerja di Jepang sedang membawa makanan laut dari pasar ke restoran. (Kyodo)

JawaPos.com – Ekspor produk perikanan Jepang mencatat rekor tertinggi sepanjang sejarah pada 2025. Nilainya mencapai 423,1 miliar yen atau sekitar Rp 46,96 triliun (1 yen sekitar Rp 111), naik 17,2 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

Dilansir dari Kyodo, Senin (8/6), data tersebut tercantum dalam White Paper on Fisheries atau Laporan Tahunan Perikanan Jepang Tahun Fiskal 2025 yang dirilis pemerintah pada Jumat (5/6).

Tak hanya dari sisi nilai, volume ekspor juga mengalami lonjakan signifikan. Total ekspor produk perikanan Jepang mencapai 640.000 ton, meningkat 42,9 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

Pemerintah Jepang menilai pertumbuhan tersebut menjadi bagian penting dari strategi menghadapi menurunnya konsumsi makanan laut di dalam negeri.

"Perkembangan berkelanjutan industri perikanan bergantung pada kemampuan menangkap peluang pasar pangan global melalui ekspansi besar-besaran ekspor produk laut," demikian isi laporan tersebut.

Berdasarkan nilai ekspor, produk yang paling banyak menghasilkan devisa adalah kerang scallop. Posisi berikutnya ditempati ikan yellowtail atau buri, disusul mutiara.

Dari sisi negara tujuan, Hong Kong menjadi pasar terbesar bagi produk perikanan Jepang.

Amerika Serikat berada di posisi kedua, sementara Vietnam menempati urutan ketiga.

Di sisi lain, konsumsi seafood masyarakat Jepang terus mengalami penurunan.

Pada tahun fiskal 2024, konsumsi makanan laut per kapita hanya mencapai 21,3 kilogram per tahun. Angka tersebut hampir setengah dari puncak konsumsi yang tercatat pada tahun fiskal 2001.

Kondisi itu mendorong pemerintah Jepang mencari cara baru untuk memperluas pasar ekspor.

Pada 2025, pemerintah menambahkan tiram dan produk olahan tiram, serta produk olahan scallop ke dalam daftar komoditas ekspor prioritas. Sebelumnya daftar tersebut sudah mencakup ikan seperti yellowtail dan sea bream.

Pemerintah juga memberikan dukungan finansial kepada pelaku usaha perikanan dan membantu peningkatan standar kebersihan fasilitas produksi agar memenuhi persyaratan negara tujuan ekspor.

Selain ekspor, laporan tersebut juga menyoroti pentingnya sektor budidaya ikan atau akuakultur.

Menurut pemerintah Jepang, budidaya memiliki keunggulan karena mampu menyediakan pasokan yang lebih stabil dibandingkan hasil tangkapan laut.

"Akuakultur kemungkinan akan memainkan peran penting bagi masa depan industri perikanan," tulis laporan itu.

Saat ini sekitar 80 persen produksi yellowtail budidaya dunia berasal dari Jepang.

Berkat teknologi budidaya siklus penuh yang telah dikembangkan, sejumlah produk yellowtail Jepang kini dipasarkan sebagai produk premium di berbagai negara.

Laporan itu juga menyebut pengembangan budidaya salmon dan trout terus mengalami kemajuan.

Selama ini Jepang masih bergantung pada impor kedua jenis ikan tersebut dari Chile dan Norwegia.

Selain itu, budidaya ikan berbasis daratan atau land-based aquaculture mulai mendapat perhatian besar karena tidak terlalu dipengaruhi perubahan kondisi alam seperti kenaikan suhu laut.

Sektor tersebut kini menarik minat berbagai perusahaan rintisan hingga korporasi besar yang melihat peluang pertumbuhan industri perikanan Jepang di masa depan.

EDITOR: Dhimas Ginanjar