← Beranda
Catat Kinerja Solid di Q1 2026, Pendapatan Naik 20,5 Persen Ditopang Bisnis Pengelolaan Limbah
Dinarsa KurniawanJumat, 1 Mei 2026 | 05.09 WIB
Direktur TBS Juli Oktarina. (Istimewa)

 

 

JawaPos.com-PT TBS Energi Utama Tbk (TBS) membuka 2026 dengan kinerja keuangan yang solid. Perseroan mencatat pertumbuhan pendapatan konsolidasi sebesar 20,5 persen secara tahunan, didorong transformasi bisnis menuju sektor hijau yang mulai menunjukkan hasil signifikan.

Tak hanya itu, laba kotor perusahaan juga melonjak 46,7 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Perbaikan kinerja ini turut tercermin dari arus kas operasional yang berbalik positif menjadi USD 9,9 juta, dari sebelumnya negatif USD 2,9 juta pada kuartal I 2025. 

Direktur TBS Juli Oktarina, mengatakan capaian tersebut menjadi bukti bahwa strategi transformasi perusahaan berada di jalur yang tepat.

“Hasil yang kami capai di kuartal pertama ini merupakan validasi atas ketepatan arah transformasi perusahaan. Langkah akuisisi dan divestasi pada 2025 menjadi fondasi penting bagi pertumbuhan jangka panjang,” ujarnya. 

 

Dari sisi bottom line, kerugian bersih TBS juga berhasil ditekan drastis hingga lebih dari 83 persen, dari USD 58,9 juta menjadi USD 9,5 juta. Penurunan ini terutama dipengaruhi tidak adanya lagi kerugian non-kas dari divestasi aset PLTU seperti tahun sebelumnya. 

 

Bisnis Pengelolaan Limbah Jadi Motor Utama

Kontributor terbesar kinerja TBS saat ini berasal dari segmen pengelolaan limbah. Lini bisnis ini menyumbang sekitar 60 persen pendapatan konsolidasi dan 93 persen EBITDA disesuaikan perusahaan.

Pendapatan dari segmen ini melonjak drastis hingga 5,5 kali lipat menjadi USD 51,9 juta. Lonjakan tersebut didorong oleh konsolidasi penuh kinerja Cora Environment sepanjang kuartal pertama 2026. 

Selain itu, bisnis tersebut dinilai memiliki ketahanan tinggi di tengah ketidakpastian ekonomi global. Arus pendapatan yang stabil dan berulang membuat segmen ini menjadi tulang punggung baru perusahaan.

Secara operasional, TBS kini melayani ratusan ribu pelanggan di Singapura melalui Cora Environment, menguasai sekitar 45 persen pasar limbah medis lewat Asia Medical Enviro Services (AMES), serta menjangkau lebih dari 5.000 pelanggan di 15 provinsi Indonesia melalui ARAH Environmental. 

 

Energi Terbarukan dan EV Tumbuh

Di sektor energi bersih, pembangkit listrik tenaga mini hidro (PLTM) berkapasitas 6 MW telah beroperasi penuh dan menyumbang pendapatan USD 3,2 juta. Sementara proyek PLTS terapung 46 MWp ditargetkan mulai beroperasi pada kuartal IV 2026. 

Segmen kendaraan listrik melalui Electrum juga mencatat pertumbuhan pesat. Pendapatan meningkat hampir 2,5 kali lipat menjadi USD 3,2 juta. Jumlah armada motor listrik yang beroperasi melonjak dari 5.100 unit menjadi 9.082 unit dalam setahun.

Untuk mendukung ekspansi, infrastruktur penukaran baterai juga diperluas menjadi 426 unit, naik 37 persen dibandingkan tahun sebelumnya. 

 

Bisnis Batu Bara Tetap Efisien

Meski tengah bertransformasi, TBS tetap menjaga kinerja bisnis batu bara sebagai penopang transisi. Perseroan berhasil menekan biaya operasional tunai sebesar 5,8 persen menjadi USD 42,5 per ton.

Langkah efisiensi ini menjaga margin laba kotor pertambangan tetap stabil di level 15,8 persen di tengah fluktuasi harga komoditas. 

 

Target Netral Karbon 2030

Dengan posisi kas mencapai USD 103,3 juta, TBS optimistis memiliki likuiditas yang cukup untuk mendukung ekspansi bisnis hijau ke depan.

Perusahaan menargetkan mencapai netralitas karbon pada 2030 melalui strategi jangka panjang TBS2030, sejalan dengan agenda Net Zero Indonesia 2060.  (*)

EDITOR: Dinarsa Kurniawan