JawaPos.com - Hari Bumi yang diperingati setiap tanggal 22 April harusnya bukan sekadar seremoni tahunan. Ada pesan kuat yang ingin disampaikan di Hari Bumi, yakni krisis lingkungan bukan lagi ancaman masa depan, tetapi persoalan yang sudah terjadi, dan salah satu yang paling cepat memburuk adalah limbah elektronik atau e-waste.
Dalam beberapa tahun terakhir, penggunaan perangkat elektronik meningkat drastis. Ponsel, laptop, charger, hingga perangkat kecil lain menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari. Namun, ada satu masalah besar yang sering diabaikan: ke mana semua barang itu pergi setelah rusak atau tidak terpakai?
Data Global E-waste Monitor mencatat, dunia menghasilkan sekitar 62 juta ton e-waste pada 2022, dan diperkirakan melonjak menjadi 82 juta ton pada 2030. Ironisnya, hanya sekitar 22,3 persen yang didaur ulang secara resmi, menurut World Health Organization (WHO).
Artinya, sebagian besar limbah elektronik berpotensi mencemari tanah, air, dan udara, karena mengandung bahan berbahaya seperti merkuri dan timbal.
Indonesia Hadapi Tantangan Serius
Masalah ini juga terjadi di dalam negeri. Indonesia menghasilkan sekitar 2 juta ton sampah elektronik setiap tahun, menjadikannya salah satu penyumbang terbesar di Asia Tenggara. Pulau Jawa menjadi kontributor utama, dengan lebih dari separuh total limbah tersebut.
Yang lebih mengkhawatirkan, kapasitas pengelolaan masih sangat terbatas. Di DKI Jakarta misalnya, hanya sekitar 165 ton e-waste yang berhasil dikelola dalam periode 2019 hingga Mei 2024, angka yang sangat kecil dibandingkan total produksi limbahnya.
Kesenjangan ini menunjukkan bahwa sistem pengelolaan limbah elektronik masih jauh dari ideal, sekaligus membuka ruang bagi partisipasi masyarakat.
Apa yang Bisa Dilakukan Masyarakat?
Isu lingkungan sering terasa besar dan rumit. Padahal, ada langkah sederhana yang bisa langsung dilakukan dari rumah:
1. Jangan buang elektronik sembarangan
Perangkat seperti baterai, charger, dan ponsel lama tidak boleh dibuang bersama sampah rumah tangga karena berpotensi mencemari lingkungan.
2. Kumpulkan dan pisahkan e-waste
Mulai kebiasaan menyimpan perangkat elektronik rusak di satu tempat sebelum dibawa ke titik pengumpulan resmi.
3. Gunakan fasilitas dropbox e-waste
Manfaatkan fasilitas publik atau pusat perbelanjaan yang menyediakan tempat pengumpulan limbah elektronik.
4. Perpanjang umur perangkat
Gunakan gadget lebih lama, perbaiki jika memungkinkan, dan hindari konsumsi berlebihan.
5. Dukung ekonomi sirkular
Pilih produk atau layanan yang mendukung daur ulang dan penggunaan kembali material.
Langkah-langkah kecil ini, jika dilakukan secara kolektif, bisa mengurangi tekanan besar terhadap lingkungan.
Intinya, peringatan Hari Bumi seharusnya tidak berhenti pada kampanye sesaat. Justru, ini menjadi pengingat bahwa menjaga lingkungan perlu menjadi kebiasaan sehari-hari.
Kesadaran pascakonsumsi, apa yang terjadi setelah kita menggunakan suatu produk, menjadi kunci penting dalam mengurangi dampak lingkungan. Tanpa perubahan perilaku, volume limbah akan terus meningkat tanpa solusi yang memadai.
Saat ini, sejumlah pihak mulai mendorong solusi berbasis partisipasi publik. Salah satunya dilakukan oleh Blibli melalui program pengumpulan limbah elektronik (e-waste collection) dan pengembalian kemasan.
Menurut Head of ESG Blibli, Ignacia Chiara Irawan, keberlanjutan bukan sekadar program musiman. “Sustainability merupakan bagian dari cara kami beroperasi setiap hari, bukan sekadar program yang ‘dinyalakan’ saat Earth Day lalu ‘diredupkan’ setelahnya," katanya terkait peringatan Hari Bumi.
Program seperti Gadget for Good menunjukkan tren partisipasi yang meningkat, dengan volume e-waste yang terkumpul naik sekitar 54 persen dalam beberapa bulan terakhir. Ini menjadi sinyal bahwa kesadaran masyarakat mulai tumbuh.
Namun pada akhirnya, menjaga Bumi tidak bisa hanya bergantung pada satu pihak. Kolaborasi antara individu, komunitas, pemerintah, dan sektor swasta menjadi kunci.