JawaPos.com – Waktu masak telur dan kebersihan dapur di SPPG Batang Bawang, Kabupaten Batang, Jawa Tengah jadi sorotan, usai ratusan siswa dan orang tua diduga keracunan menu Makan Bergizi Gratis (MBG), Rabu (23/9).
Badan Gizi Nasional (BGN) menemukan pengolahan telur dilakukan terlalu dini serta kondisi kebersihan di beberapa bagian dapur tidak sesuai standar.
Berdasarkan pemeriksaan awal BGN, ditemukan adanya sejumlah ketidakpatuhan terhadap SOP di SPPG Batang Bawang.
Termasuk waktu pengolahan telur yang dilakukan lebih awal, yakni pukul 19.30 WIB hari sebelumnya, lalu dipanaskan kembali pada pukul 02.30 WIB di hari H.
Baca Juga: Korban Keracunan MBG di Batang Tembus 300, dari Bayi 10 Bulan hingga Relawan SPPG
Selain itu, ditemukan pula kondisi kebersihan pada beberapa bagian SPPG yang perlu mendapat perhatian.
Temuan tersebut masih menjadi bagian dari proses investigasi dan belum menjadi kesimpulan akhir mengenai penyebab kejadian.
kata Deputi Pemantauan dan Pengawasan BGN, Ketut Sumedana mengatakan, pihaknya sedang menelusuri seluruh proses, mulai dari penerimaan bahan baku, pengolahan, penyimpanan, pemorsian hingga distribusi.
“Kami tidak ingin berspekulasi mengenai penyebab kejadian sebelum seluruh pemeriksaan selesai. Semua harus berdasarkan fakta dan hasil investigasi,” ujarnya di Jakarta, Kamis (24/9).
BGN juga berkoordinasi dengan Pemerintah Kabupaten Batang, fasilitas kesehatan, serta Tim Satgas MBG Kabupaten Batang untuk memastikan penanganan penerima manfaat dan proses investigasi berjalan secara terpadu.
Baca Juga: BGN Kaji Model Central Kitchen di Jepang untuk Program MBG
BGN akan mengevaluasi hasil pemeriksaan untuk menentukan langkah selanjutnya terhadap SPPG tersebut.
Termasuk tindakan sesuai ketentuan apabila ditemukan pelanggaran terhadap standar keamanan pangan dan operasional.
Menurut Ketut, kejadian ini menjadi perhatian serius bagi BGN, dan pihaknya akan memastikan proses penanganannya berjalan sampai tuntas.
Selain itu, hasil investigasi akan menjadi sebagai dasar untuk melakukan perbaikan program MBG.
“Keamanan pangan tidak boleh dikompromikan. Apabila ditemukan pelanggaran, tentu akan ada tindakan sesuai ketentuan yang berlaku,” kata Ketut.
Baca Juga: Viral Video Guru Tolak Endus MBG: Kami Ngajar, Bukan Tukang Endus
BGN memastikan seluruh penerima manfaat yang terdampak telah mendapatkan penanganan di sejumlah fasilitas pelayanan kesehatan.
Berdasarkan laporan BGN, hingga Kamis (24/9) pukul 03.00 WIB, tercatat 219 orang terdampak, dengan rincian 132 orang menjalani rawat inap dan 87 orang menjalani rawat jalan di tujuh fasilitas kesehatan.
Data tersebut masih terus diperbarui sesuai hasil pendataan dan koordinasi di lapangan.
"Kami menyampaikan keprihatinan dan empati kepada seluruh penerima manfaat dan keluarga yang terdampak. Kami pastikan seluruh penerima manfaat yang terdampak mendapatkan penanganan dengan baik dan kondisi mereka terus dipantau,” jelasnya.
Sebagai langkah mitigasi dan bentuk kehati-hatian, SPPG Batang Bawang dihentikan sementara dengan kategori suspend berat untuk selanjutnya dilakukan investigasi lebih lanjut.
Baca Juga: Analisa Drone Emprit: Sentimen Negatif MBG Capai 76,6 Persen
BGN juga telah memutuskan mencopot Kepala SPPG Batang Bawang Bawang dari jabatannya.
“Di samping adanya adanya pelanggaran SOP oleh dapur, juga ada sebagian dibawa pulang oleh penerima manfaat yang juga merupakan pelanggaran berat. Sehingga kita juga akan melakukan evaluasi secara penyeluruh, serta melakukan investigasi dengan Dinas Kesehatan terkait,” pungkas Ketut.