← Beranda
Tong-Tong, Warisan Budaya yang Terus Berdenyut dan Lestari di Sumenep
Dadang KurniaMinggu, 20 September 2026 | 21.10 WIB
Salah satu peserta Festival Musik Tong-Tong Sumenep (Istimewa)

JawaPos.com – Musik tong-tong menjadi salah satu kesenian tradisional yang lekat dengan kehidupan masyarakat Madura. Di Kabupaten Sumenep, kesenian tersebut terus berkembang dan menjadi bagian penting dalam berbagai kegiatan budaya masyarakat.

Lebih dari sekadar hiburan, tong-tong memiliki perjalanan sejarah yang panjang. Pada awalnya, instrumen tersebut digunakan sebagai sarana komunikasi tradisional. Bunyi kentongan menjadi penanda bagi masyarakat untuk menyampaikan informasi maupun peringatan terhadap kondisi tertentu.

Tong-tong umumnya dibuat dari bambu atau kayu. Instrumen tersebut dimainkan dengan cara dipukul menggunakan tongkat kecil sehingga menghasilkan karakter bunyi yang khas. Dalam perkembangannya, ukuran dan bentuk tong-tong pun semakin beragam. Salah satunya berupa kentongan berukuran besar yang dikenal dengan sebutan dhung-dhung.

Sejarawan musik Jaap Kunst dalam kajian yang dikutip Bouvier (2002) menyebutkan, alat musik serupa tong-tong telah dikenal sejak masa pra-Hindu. Keberadaan alat berbahan bambu yang menghasilkan bunyi sebagai sarana komunikasi juga disebut dalam sejumlah naskah kuno, seperti Sudamala dan Bharata Yuddha.

Seiring berjalannya waktu, fungsi tong-tong mengalami perubahan. Dari alat penanda bahaya, tong-tong berkembang menjadi sarana komunikasi dengan kode bunyi tertentu. Setelah itu, penggunaannya meluas sebagai instrumen musik dalam berbagai pertunjukan rakyat.

Tong-Tong Dalam Tradisi Kehidupan Masyarakat Madura 

Di Madura, tong-tong juga tidak lepas dari tradisi masyarakat. Instrumen tersebut pernah digunakan untuk membangunkan warga saat sahur pada Ramadan. Perkembangannya kemudian melahirkan pertunjukan musik arak-arakan yang dikenal sebagai musik patrol.

Dalam pertunjukan tersebut, tong-tong dimainkan secara berkelompok dengan pola ritme yang teratur. Perpaduan bunyi dari berbagai ukuran instrumen menciptakan karakter musik yang khas. Pada sejumlah tradisi, tong-tong bahkan digunakan dalam kegiatan ritual maupun upacara adat tertentu.

 

Nilai yang terkandung dalam musik tong-tong juga tidak sebatas pada seni suara. Kesenian tersebut mencerminkan kebersamaan, kekompakan, dan semangat gotong royong. Setiap pemain harus menjaga ritme agar menghasilkan harmoni sebagai satu kesatuan.

Perkembangan zaman turut mendorong inovasi dalam musik tong-tong. Sejumlah kelompok memadukannya dengan instrumen lain seperti saronen, gendang, rebana hingga drum modern. Meski mengalami pengembangan aransemen, karakter bunyi tong-tong tetap menjadi ciri utama.

Festival Musik Tong-Tong Sumenep 

Bupati Sumenep Achmad Fauzi Wongsojudo menyampaikan, pelestarian musik tong-tong terus didorong melalui berbagai kegiatan kebudayaan. Salah satunya melalui Festival Musik Tong-Tong yang rutin digelar di Sumenep.

"Festival ini menampilkan puluhan kelompok musik tong-tong yang berparade sambil memainkan alat musik mereka," katanya.

Dijelaskan, dalam festival tersebut, setiap kelompok biasanya tampil dalam formasi besar. Mereka tidak hanya memainkan musik, tetapi juga membawa kereta hias dengan dekorasi lampu warna-warni. Kreativitas peserta menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari pertunjukan.

"Setiap kelompok biasanya terdiri dari sekitar 30 orang yang membawa kereta hias dengan dekorasi lampu warna-warni," kata Fauzi.

Penilaian dalam festival tidak hanya mempertimbangkan kemampuan bermusik. Aransemen, penampilan, kostum, hingga kreativitas dekorasi kereta menjadi bagian dari keseluruhan pertunjukan. Hal tersebut membuat festival tong-tong berkembang menjadi atraksi budaya yang menarik perhatian masyarakat.

Antusiasme penonton juga menjadi salah satu indikator kuatnya daya tarik kesenian tersebut. Festival Musik Tong-Tong mampu mendatangkan ribuan penonton. Bahkan, kegiatan tersebut pernah disaksikan raja dan sultan dari berbagai daerah di Indonesia.

 

Keberadaan festival sekaligus menjadi ruang bagi generasi muda untuk mengenal kesenian tradisional Madura. Tong-tong tidak hanya ditempatkan sebagai warisan masa lalu, tetapi terus dikembangkan agar tetap relevan dengan perkembangan zaman.

Bagi masyarakat Sumenep, musik tong-tong merupakan bagian dari identitas budaya. Kesenian tersebut menjadi media hiburan sekaligus sarana memperkuat hubungan sosial dan menjaga warisan leluhur.

Karena itu, keberlangsungan musik tong-tong membutuhkan keterlibatan bersama. Pemerintah daerah, pelaku seni, komunitas, dan masyarakat memiliki peran dalam menjaga eksistensinya melalui festival, lomba cipta lagu, serta pembinaan generasi muda.

Dengan kemampuan beradaptasi tanpa meninggalkan karakter aslinya, musik tong-tong terus berdenyut di tengah masyarakat Madura. "Tong-tong bukan hanya sebagai bunyi-bunyian tradisional, melainkan simbol kebersamaan dan kebanggaan budaya yang diwariskan dari generasi ke generasi," tuturnya.

 

EDITOR: Diar Candra