← Beranda
Pepsico dan Bali Waste Cycle Bersinergi, Sulap Sampah Kemasan Jadi Fasilitas Publik di Bali
Andika RachmansyahSabtu, 19 September 2026 | 18.43 WIB
Papan nama di Taman Kota Sewaka Dharma Lumintang Denpasar hasil daur ulang sampah plastik kemasan. (Andika Rachmansyah/JawaPos.com)

 

JawaPos.com - Sampah kemasan makanan ringan berbahan plastik multilapis di Bali kini dimanfaatkan menjadi papan nama jalan dan penunjuk arah di ruang publik.

Salah satu hasil pengolahan tersebut digunakan untuk papan nama Taman Kota Sewaka Dharma di kawasan Lumintang, Denpasar, yang diresmikan pada Jumat (18/9).

Inovasi tersebut diterapkan di Kota Denpasar dan Kabupaten Gianyar melalui kolaborasi Pepsico Indonesia, Bali Waste Cycle (BWC), Pemerintah Kota Denpasar, Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLHK) Kota Denpasar, serta serta sejumlah pihak lain.

Baca Juga: Dimulai Sejak 2005 dan Terus Dikembangkan, Royal Family Perbarui HGB hingga 30 Tahun

Kolaborasi itu dilakukan untuk mengolah sampah anorganik menjadi produk yang memiliki nilai guna.

BWC menjadi bagian tersebut bukan tanpa sebab. Mereka terpilih sebagai satu-satunya startup Indonesia dalam Greenhouse Accelerator Program Asia Pacific (APAC) 2025 dan mendapat pendanaan USD 20.000 serta pendampingan.

Pada 2026, BWC kembali terpilih dalam Greenhouse Program IMPACT Edition APAC dengan tambahan pendanaan USD 20.000.

Baca Juga: Anak Makin Dekat dengan Layar, Field Trip Jadi Cara Belajar Lewat Pengalaman Langsung

APAC & India Sustainability Manager at PepsiCo dan perwakilan Greenhouse Program Milly Pearson menyebut, penerapan inovasi secara langsung menjadi salah satu indikator penting keberhasilan program tersebut.

Menurut dia, solusi yang dikembangkan secara lokal dapat membantu menjawab persoalan lingkungan sekaligus menghasilkan dampak yang dapat dirasakan masyarakat.

“Perjalanan Bali Waste Cycle menunjukan bagaimana solusi pengembangan lokal dapat mengatasi tantangan lingkungan yang kompleks," terang Milly Pearson.

"Kami sangat bangga untuk melihat kolaborasi ini dapat menghadirkan prinsip kemasan berkelanjutan menjadi nyata dan menginspirasi lebih banyak lagi pemangku kepentingan untuk terlibat dalam solusi pengelolaan sampah secara berkelanjutan,” ujar dia.

Bagi BWC, proyek tersebut menjadi salah satu bentuk pemanfaatan material yang selama ini dikenal sulit untuk didaur ulang.

Director of Bali Waste Cycle Olivia Anastasia Padang berharap model tersebut dapat diperluas agar semakin banyak material yang kembali masuk ke dalam rantai ekonomi.

Baca Juga: Parung Panjang Akhirnya Turun Hujan Setelah Kemarau Panjang, Berikut Doa saat Hujan

“Melalui kolaborasi ini, kami ingin menunjukkan bahwa kemasan plastik multilapis yang selama ini dianggap sulit didaur ulang sesungguhnya dapat diubah menjadi produk yang bermanfaat dan masih memiliki nilai ekonomi," tutur Olivia Anastasia Padang.

"Ke depannya, kami berharap model seperti ini dapat diperluas dan direplikasi sehingga semakin banyak material pascakonsumsi yang dapat kembali masuk ke dalam rantai ekonomi,” ungkap Olivia.

Sejak beroperasi di Indonesia pada 2025, PepsiCo Indonesia juga menjalankan pengumpulan dan pengelolaan sampah kemasan melalui sejumlah mitra, termasuk Indonesia Packaging Recovery Organization (IPRO) dan BWC.

Baca Juga: Ekonomi Sirkular Dinilai Perlu Masuk ke Strategi Bisnis Perusahaan

Kolaborasi tersebut mencakup upaya meningkatkan pengumpulan kemasan pascakonsumsi sekaligus mencari pemanfaatan baru bagi material hasil pengolahan.

Director of Government Affairs Corporate Communications and Sustainability di PepsiCo Indonesia Gabrielle Angriani Johny menilai kerja sama lintas pihak diperlukan untuk menangani persoalan sampah.

Dia mengatakan kemasan plastik multilapis dapat dimanfaatkan kembali apabila dikelola dengan tepat.

Baca Juga: Kapolri Dorong Tjimande dan Debus Jadi Kekuatan Budaya Penggerak Ekonomi Banten

“PepsiCo Indonesia percaya bahwa kolaborasi multi pihak sangatlah penting dalam menghadirkan solusi untuk menangani permasalahan sampah di Indonesia," beber Gabrielle Angriani Johny.

"Melalui kolaborasi dengan pemerintah dan mitra kami seperti Bali Waste Cycle dan IPRO, PepsiCo Indonesia terus berupaya menguatkan sistem pengumpulan dan pemanfaatan kembali kemasan pasca konsumsi,” terang Gabrielle.

“Kami berharap kolaborasi ini dapat memperlihatkan bagaimana kemasan makanan ringan berupa plastik multi lapis (MLP) juga dapat diberikan kehidupan kedua dan memberi manfaat bagi masyarakat jika dikelola dengan tepat,” lanjut dia.

Dari sisi pemerintah daerah, pemanfaatan material daur ulang tersebut juga dinilai dapat menjadi sarana edukasi bagi masyarakat.

Baca Juga: Gunung Wilis Kembali Terbakar, Hanguskan 50 Hektare Hutan

Ruang publik seperti taman kota dinilai memiliki posisi strategis untuk menunjukkan bahwa sampah dapat diolah menjadi barang yang memiliki fungsi.

“Ruang publik seperti taman kota banyak dikunjungi oleh masyarakat. Karena itu, ruang-ruang publik ini dapat kita manfaatkan tidak hanya untuk menjaga kebersihan, tetapi sekaligus mengedukasi masyarakat bahwa sampah dapat diolah menjadi bahan yang produktif,” tutur Wakil Wali Kota Denpasar, I Kadek Agus Arya Wibawa.

Pemanfaat sampah menjadi fasilitas publik tidak hanya berada di Taman Kota Lumintang saja.

Baca Juga: Mengandung Bakteri Berbahaya, 420 Kilogram Benih Sawi Impor Asal Korea Selatan Dimusnahkan

Papan penunjuk arah berbahan hasil pengelolaan sampah multilapis tersebut juga dipasang di sejumlah lokasi publik lainnya di Bali, termasuk Kemenuh Monkey River di Gianyar.

Ke depan, PepsiCo Indonesia, BWC, dan PepsiCo Greenhouse Program berharap pemanfaatan material pascakonsumsi dapat diperluas ke lebih banyak fasilitas publik.

Langkah tersebut diharapkan ikut mendorong pengelolaan sampah yang memiliki nilai tambah sekaligus memperkuat pemanfaatan kembali material plastik di Indonesia.

Baca Juga: Perkuat Ketahanan Pangan Papua Berbasis Potensi Lokal dan Masyarakat Adat dengan Sagu dan Ubi

EDITOR: Latu Ratri Mubyarsah