JawaPos.com - Perjalanan gula kristal putih Sumba Manis yang dikonsumsi masyarakat sehari-hari dimulai dari proses panjang di tengah lahan kering Sumba Timur, Nusa Tenggara Timur. Dari pembukaan dan persiapan lahan, penanaman bibit tebu, perawatan tanaman, panen, hingga pengolahan di pabrik, setiap tahapan menjadi bagian dari perjalanan menghasilkan gula.
Rangkaian proses tersebut dilihat langsung oleh 10 pemimpin redaksi media nasional dalam kunjungan ke kawasan perkebunan dan pabrik gula PT Muria Sumba Manis (MSM) di Desa Wanga, Kecamatan Umalulu, Sumba Timur, dalam rangkaian "Trip Manisnya Sumba".
Kunjungan tersebut memberikan gambaran bagaimana sebuah industri agribisnis dikembangkan di wilayah yang memiliki karakter alam berbeda dengan sentra perkebunan tebu lainnya di Indonesia.
Managing Director PT Muria Sumba Manis, Budi Hediyana, mengatakan kondisi alam Sumba justru menjadi salah satu potensi yang ingin dikembangkan perusahaan untuk menghasilkan tebu berkualitas.
"Kondisi alam yakni potensi sinar matahari dan infrastruktur yang terus dilakukan di Pulau Sumba diharapkan bisa mempercepat investasi sehingga akan dapat menghasilkan tebu yang lebih manis dari daerah lain dan ini akan menjadi tebu terbaik nasional, serta membantu swasembada gula nasional," kata Budi Hediyana.
Pernyataan tersebut disampaikan Budi saat menerima kunjungan sejumlah pemimpin redaksi media nasional dalam kegiatan "Trip Manisnya Sumba" di kawasan industri agribisnis perkebunan dan pengolahan tebu MSM.
Dari Lahan Kering Menjadi Perkebunan Tebu
Bagi MSM, perjalanan produksi gula tidak dimulai dari dalam pabrik. Prosesnya dimulai jauh sebelumnya, yakni ketika lahan disiapkan untuk menjadi area perkebunan.
Sumba Timur dikenal memiliki karakter wilayah semi-arid dengan musim kemarau yang panjang. Sebagian kawasan juga memiliki tanah berkapur dan berbatu dengan lapisan tanah subur yang relatif dangkal.
Kondisi tersebut membuat pengembangan perkebunan tebu bukan pekerjaan sederhana. Teknologi dan pengelolaan lahan menjadi bagian penting agar kawasan yang sebelumnya merupakan lahan kering dapat dimanfaatkan menjadi perkebunan produktif.
MSM kemudian mengembangkan perkebunan tebu secara terintegrasi dengan fasilitas pengolahan gula. Perusahaan yang berada di bawah PT Hartono Plantation Indonesia (HPI Agro) atau Grup Djarum tersebut didirikan pada 2014 dan mulai membangun fasilitas pabrik sekitar 2018.
"Memang saat ini masih jauh dari perjalanan kita, kita punya target sekitar 20.000 hektare, dan baru 26 persen dari target yakni sekitar 5.000 hektare yang kita tanam. Total nilai investasi sekitar Rp 9,2 triliun, dan fase satu saja sudah mencapai Rp 6,5 triliun. Namun, akan terus diupayakan peningkatan luas tanam," ujar Budi.
Perusahaan menargetkan luas lahan yang ditanami tebu mencapai 10.000 hektare pada 2031. Penambahan area tanam ditargetkan sekitar 1.000 hektare setiap tahun.
Menanam dan Merawat Tebu
Setelah lahan dipersiapkan, perjalanan berikutnya adalah penanaman tebu. Bibit ditanam dan kemudian dirawat hingga mencapai usia yang siap untuk dipanen.
Perawatan menjadi salah satu faktor penting dalam menentukan produktivitas. Tanaman harus mendapatkan pengelolaan yang sesuai dengan kondisi lahan dan kebutuhan pertumbuhannya.
Bagi industri gula, kualitas tebu tidak hanya ditentukan oleh jumlah batang yang dihasilkan. Kandungan gula dalam batang atau rendemen menjadi salah satu indikator penting karena berhubungan langsung dengan potensi gula yang dapat diproduksi.
Di tengah karakter alam Sumba Timur yang kering, MSM berupaya mengoptimalkan potensi sinar matahari untuk mendukung pertumbuhan tanaman.
Budi menyebut tebu yang dihasilkan di Sumba Timur memiliki potensi kualitas yang tinggi. Dalam kunjungan tersebut, ia menyampaikan bahwa tebu yang dihasilkan dapat memiliki rendemen hingga 21 persen.
Potensi tersebut menjadi salah satu alasan perusahaan menargetkan Sumba sebagai salah satu kawasan penghasil tebu berkualitas di Indonesia.
Panen Menjadi Awal Perjalanan Berikutnya
Setelah melewati masa pertumbuhan dan perawatan, tebu memasuki fase panen.
Batang tebu yang telah dipanen kemudian diangkut menuju pabrik untuk segera diproses. Kecepatan dari kebun menuju pabrik menjadi penting karena bahan baku harus segera masuk ke dalam rangkaian pengolahan.
Di sinilah integrasi antara perkebunan dan pabrik menjadi penting. Tebu yang berasal dari perkebunan dapat langsung diarahkan menuju fasilitas pengolahan yang berada di kawasan yang sama.
MSM memiliki pabrik gula dengan kapasitas hingga 12.000 tons cane per day (TCD). Pabrik tersebut menggunakan teknologi fully automatic control dan dilengkapi unit dekolorisasi untuk mendukung proses pengolahan gula.
Pabrik yang mulai beroperasi penuh pada 2020 tersebut ditargetkan mampu menghasilkan sekitar 1.200 ton gula kristal putih dan gula kristal rafinasi setiap hari selama musim giling.
Musim giling berlangsung sekitar empat bulan, mulai pertengahan Juli hingga pertengahan Oktober setiap tahun.
Dari Batang Tebu Menjadi Gula
Di dalam pabrik, batang tebu yang telah dipanen memasuki rangkaian proses produksi. Tebu digiling untuk memperoleh nira yang kemudian melalui berbagai tahapan pengolahan sebelum menghasilkan kristal gula.
Proses tersebut memperlihatkan bahwa gula yang terlihat sederhana di meja makan memiliki rantai produksi yang panjang.
Tidak hanya gula yang dihasilkan. Dari proses pengolahan tebu juga terdapat produk sampingan seperti molase serta ampas tebu atau bagasse dan blotong.
Bagi MSM, seluruh rangkaian tersebut merupakan bagian dari upaya membangun industri gula yang terintegrasi sekaligus meningkatkan efisiensi produksi.
Bukan Hanya Soal Produksi Gula
Kehadiran MSM di Sumba Timur juga membawa cerita lain di luar perkebunan dan pabrik.
Investasi industri tersebut diharapkan dapat menciptakan aktivitas ekonomi baru, termasuk membuka kesempatan kerja bagi masyarakat lokal. Dalam jangka panjang, keberadaan industri diharapkan dapat ikut mendorong pertumbuhan ekonomi di wilayah Indonesia Timur.
"Sebagai bagian dari perjalanan transformatif ini, MSM memainkan peranan penting dengan berfokus pada pembangunan ekonomi di Indonesia Timur, dengan menyasar kawasan Indonesia Timur secara strategis, dan MSM berkontribusi dalam mempercepat pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan di area tersebut," demikian komitmen perusahaan yang disampaikan dalam rangkaian kunjungan tersebut.
Bagi 10 pemimpin redaksi media nasional yang mengikuti perjalanan "Trip Manisnya Sumba", sisi tersebut menjadi bagian penting untuk melihat keberadaan industri gula secara lebih utuh.
Bukan hanya tentang seberapa banyak gula yang diproduksi, tetapi juga bagaimana investasi tersebut menciptakan dampak bagi lingkungan sosial dan ekonomi di sekitarnya.
CSR, Pendidikan, hingga Pemberdayaan Masyarakat
Upaya meningkatkan kesejahteraan masyarakat juga dilakukan melalui berbagai program tanggung jawab sosial perusahaan atau CSR.
Salah satu bidang yang mendapat perhatian adalah pendidikan. MSM menjalin kerja sama dengan SMK Negeri 2 Waingapu untuk mendukung pengembangan kompetensi siswa, pelatihan guru, serta dukungan sarana dan peralatan pembelajaran.
Program tersebut diarahkan untuk mempertemukan dunia pendidikan dengan kebutuhan dunia industri. Dengan demikian, generasi muda Sumba diharapkan memiliki keterampilan yang lebih sesuai dengan kebutuhan lapangan kerja.
Selain itu, terdapat program "Satu Langkah Seribu Asa" berupa pemberian sepatu kepada anak sekolah serta beasiswa bagi anak-anak berprestasi.
Program CSR juga menyentuh aspek sosial, ekonomi dan kebudayaan. Salah satunya dengan memberdayakan karya siswa SMK Negeri 2 Waingapu dengan membeli produk berupa meja, kursi dan papan tulis yang kemudian digunakan untuk mendukung fasilitas pendidikan siswa SD di daerah tersebut.
Langkah tersebut memperlihatkan bahwa hubungan perusahaan dengan masyarakat tidak hanya ditempatkan dalam konteks tenaga kerja, tetapi juga pengembangan sumber daya manusia.
Menjaga Hubungan dengan Masyarakat Sumba
Pertumbuhan industri di sebuah wilayah tidak dapat dilepaskan dari masyarakat yang tinggal di sekitarnya.
Karena itu, pengembangan bisnis MSM juga berjalan beriringan dengan upaya membangun hubungan dengan masyarakat lokal. Pendidikan, sosial, ekonomi, kebudayaan dan lingkungan menjadi bagian dari ruang interaksi tersebut.
Budi menegaskan bahwa perusahaan juga berupaya membangun budaya inovasi secara berkelanjutan untuk meningkatkan kualitas proses dan produk.
"Kami senantiasa berkreasi membina terobosan-terobosan baru untuk meningkatkan kualitas proses dan produk-produk kami. Didukung investasi strategis di sektor teknologi dan penelitian, MSM terus meningkatkan standar kualitas dan efisiensinya, sehingga MSM berada selangkah lebih maju dari tren industri," ujarnya.
Menatap Masa Depan Sumba
Kunjungan 10 pemimpin redaksi media nasional akhirnya tidak hanya memperlihatkan proses produksi gula.
Perjalanan tersebut menunjukkan bagaimana lahan kering Sumba Timur perlahan dikembangkan menjadi kawasan perkebunan tebu dan industri pengolahan. Dari pembukaan lahan, penanaman, perawatan, panen hingga produksi, seluruh proses menjadi satu rantai yang saling terhubung.
Di sisi lain, terdapat cerita tentang masyarakat yang ikut berada dalam ekosistem tersebut.
Ada tenaga kerja lokal, dunia pendidikan yang dipersiapkan untuk memenuhi kebutuhan industri, program sosial, pemberdayaan masyarakat, hingga berbagai kegiatan yang diarahkan untuk menjaga hubungan dengan lingkungan sekitar.
Pada akhirnya, "manisnya Sumba" tidak hanya dapat dilihat dari kristal gula yang keluar dari pabrik.
Ada harapan agar industri tersebut ikut menghadirkan nilai tambah bagi Sumba Timur dan masyarakatnya.
Dan bagi PT Muria Sumba Manis, perjalanan tersebut masih panjang. Target memperluas lahan tanam hingga 10.000 hektare pada 2031 sekaligus ambisi menjadi penghasil tebu terbaik nasional menunjukkan bahwa cerita tebu Sumba baru memasuki babak berikutnya.
Dari lahan kering, batang tebu tumbuh. Dari batang tebu, gula dihasilkan. Dan dari sebuah industri, ada harapan agar kesejahteraan masyarakat Sumba ikut tumbuh bersama.