← Beranda
Hasil Investigasi TNI AD Pasca Insiden dalam Peresmian Jembatan Pongpet Pangandaran yang Putus
Syahrul YunizarJumat, 4 September 2026 | 23.04 WIB
Kondisi Jembatan Pongpet di Pangandaran pasca insiden dalam peresmian pada pada Minggu (30/8). (TNI AD)

JawaPos.com - TNI AD telah menuntaskan investigasi insiden Jembatan Gantung Pongpet atau Jembatan Garuda Pangandaran, Jawa Barat (Jabar). Merujuk hasil investigasi tersebut, Angkatan Darat memastikan akan melakukan evaluasi secara menyeluruh.

Kepala Dinas Penerangan TNI AD (Kadispenad) Brigjen TNI Donny Pramono menyampaikan bahwa hasil investigasi menemukan adanya sejumlah kondisi teknis pada sistem jembatan yang secara bersama-sama memengaruhi kinerja struktur, termasuk beban melebihi kapasitas saat insiden terjadi pada Minggu (30/8).

Donny mengingatkan bahwa jembatan Gantung Garuda merupakan jenis jembatan perintis yang dibangun sebagai solusi akses masyarakat, khususnya di wilayah dengan kondisi geografis yang tidak memungkinkan dan menyulitkan untuk dilakukan pembangunan jembatan beton.

Baca Juga: Insiden Jembatan Gantung Pongpet Pangandaran Putus, KSAD Minta Maaf dan Siap Tanggung Jawab

”Jembatan perintis memiliki batas kemampuan atau kapasitas tertentu. Karena itu, aspek pembebanan menjadi hal yang sangat penting untuk diperhatikan dalam penggunaannya,” kata Donny dalam keterangan resmi pada Jumat (4/90.

Menurut Donny, di Jembatan Pongpet sudah dicantumkan ketentuan mengenai batas jumlah orang yang dapat berada di atas jembatan atau melintasi fasilitas tersebut. Namun demikian, antusiasme tinggi dari masyarakat saat peresmian, sebanyak 50 orang berada di atas jembatan saat bersamaan.

Berdasar hasil pemeriksaan dan investigasi yang sudah dilakukan terhadap konstruksi dan sistem pendukung jembatan, tim menemukan sejumlah kondisi teknis. Antara lain pengait block anchor yang mengalami patah, konfigurasi dan posisi block anchor  terhadap pylon, sistem roller dan turnbuckle, konfigurasi sling bawah, serta perbedaan elevasi pada pylon.

Selain itu, lanjut Donny, beban jembatan saat insiden terjadi juga berpengaruh terhadap kinerja struktur jembatan. Untuk meningkatkan aspek keselamatan, TNI AD juga telah melakukan upgrade terhadap sistem sling pada jembatan-jembatan perintis yang dibangun, termasuk peningkatan kekuatan sling sekitar 20 hingga 30 persen.

Baca Juga: Bimbang Pilih Susu Formula untuk Anak? Berikut Tips Dari Chef Arnold

Namun demikian, jenderal bintang satu TNI AD itu mengingatkan bahwa seluruh sistem jembatan tetap harus digunakan sesuai kapasitas dan ketentuan yang telah ditetapkan.

”Kami tidak ingin menyalahkan siapa pun. Kejadian ini menjadi pelajaran penting bagi kami untuk memastikan seluruh aspek teknis dan ketentuan penggunaan benar-benar dipahami dan dipatuhi,” jelas Donny.

Sebagai tindak lanjut hasil investigasi tersebut, TNI AD akan melakukan penanganan dan penyempurnaan secara menyeluruh terhadap bagian-bagian yang berkaitan dengan sistem struktur jembatan. Evaluasi juga akan mencakup konfigurasi, keseimbangan, distribusi beban, serta penerapan ketentuan keselamatan pada jembatan perintis lainnya.

Sebelum kembali dimanfaatkan oleh masyarakat, jembatan akan terlebih dahulu menjalani pemeriksaan dan pengujian teknis sesuai kebutuhan untuk memastikan kelayakan penggunaannya. TNI AD memahami bahwa Jembatan Garuda dibangun untuk memberikan manfaat dan memudahkan mobilitas masyarakat.

”Karena itu, keselamatan masyarakat menjadi prioritas utama. Hasil investigasi ini akan menjadi bahan evaluasi dan penyempurnaan dalam pelaksanaan pembangunan jembatan ke depan, sehingga infrastruktur yang dibangun benar-benar dapat memberikan manfaat secara optimal, aman, dan berkelanjutan bagi masyarakat,” beber dia.

EDITOR: Bintang Pradewo