JawaPos.com – Kepala Polda Sumut Irjen Pol Whisnu Hermawan Februanto mengatakan, pemberantasan narkoba menjadi salah satu prioritas karena peredarannya masih menunjukkan ancaman yang serius.
Tren pengungkapan sabu-sabu di provinsi tersebut juga terus meningkat.
Pada 2024, Polda Sumut menyita sekitar 1,5 ton sabu-sabu. Jumlah itu meningkat menjadi 1,7 ton pada 2025, tertinggi secara nasional.
Baca Juga: Pemasok Sabu untuk Aktor Revaldo Fifaldi Ditangkap, Pertama Bertemu di Tempat Rehabilitasi Narkoba
Hingga semester pertama 2026, barang bukti sabu yang disita telah mencapai 948 kilogram dan diperkirakan masih bertambah.
”Kasus narkoba menjadi atensi dan prioritas kami dengan menindak, baik melalui upaya persuasif maupun penindakan tegas,” kata Whisnu dilansir dari Antara.
Besarnya barang bukti yang disita menunjukkan bahwa penindakan masih harus terus dilakukan.
Baca Juga: Baku Tembak dengan DPO Bandar Narkoba di Lampung Utara, 3 Polisi Luka-Luka
Namun, bagi aparat kepolisian, penangkapan pelaku hanyalah satu bagian dari upaya memutus mata rantai peredaran narkoba.
Letak geografis Sumatera Utara yang memiliki jalur laut, darat, dan udara serta berbatasan dengan negara tetangga menjadikan provinsi itu salah satu pintu masuk peredaran narkoba.
Sebagian barang haram yang masuk ke sana tidak hanya beredar secara lokal, tetapi juga dikirim ke berbagai daerah lain.
Oleh karena itu, pengawasan terhadap jalur masuk narkoba menjadi salah satu fokus kepolisian setempat.
Di saat yang sama, pengembangan jaringan pengawasan juga dilakukan hingga melibatkan kerja sama dengan aparat penegak hukum di luar negeri.
Selain memperkuat kerja sama lintas negara, Polda Sumut juga rutin menggelar operasi kewilayahan, menggerebek lokasi yang diduga menjadi tempat peredaran narkoba, merazia tempat hiburan malam, hingga menutup lokasi yang kembali digunakan sebagai tempat transaksi narkoba.
Baca Juga: Polisi Buru Pemasok Narkoba Aktor Revaldo Fifaldi, Identitas Dikantongi
Meski demikian, aparat kepolisian menyadari bahwa pemberantasan narkoba tidak bisa semata-mata mengandalkan penegakan hukum.
Pencegahan menjadi bagian yang sama pentingnya agar masyarakat tidak terus menerus menjadi sasaran peredaran narkoba.
Perang melawan narkoba tidak akan pernah cukup jika hanya dilakukan Badan Narkotika Nasional tapi harus menjadi gerakan bersama.
Baca Juga: Polres Tanjung Perak Surabaya Ungkap 23 Kasus Narkoba, 27 Tersangka Ditangkap
Perang melawan narkoba tidak selalu dimulai dari operasi penangkapan.
Ada upaya yang jauh lebih mendasar dan menentukan, yakni mencegah seseorang mengenal narkoba sejak awal.
Pendekatan itulah yang dikedepankan Kepala BNN Provinsi Sumatera Utara Brigjen Pol Tatar Nugroho dalam melawan narkoba di Sumatera Utara.
Baca Juga: Pertimbangan Majelis Hakim Vonis Perwira TNI AL Penjara 10 Tahun di Kasus Narkoba
Di tengah keterbatasan personel, anggaran dan jangkauan kelembagaan, Tatar memilih memperkuat pertahanan dari hulu.
Anak-anak, keluarga, sekolah, desa dan masyarakat ditempatkan sebagai bagian penting dari strategi pencegahan.
Menurut Tatar, tantangan Sumatera Utara memang tidak sederhana.
Dengan 33 kabupaten/kota dan jumlah penduduk mendekati 16 juta jiwa, Sumut memiliki potensi pasar narkoba yang besar.
Baca Juga: Sempat Jadi Buronan Polisi, Bareskrim Polri Tangkap Bandar Narkoba Basri Lewaimang di Malaysia
Persoalan tidak berhenti pada jalur peredaran.
Narkoba kini juga semakin menjangkau wilayah perdesaan dan menyasar kelompok usia yang lebih muda.
Tatar menyebut, terjadi pergeseran kelompok usia pengguna.
Baca Juga: Bareskrim Sita Aset Bandar Narkoba di Batam: 2 Kapal, 12 Mobil, 11 Bangunan
Jika sebelumnya kelompok usia 25–49 tahun cukup dominan, kini kelompok usia 15–25 tahun menjadi perhatian serius.
Dia menemukan dua anak berusia 15 tahun asal Tanah Karo yang telah mengalami kecanduan narkoba dan harus menjalani rehabilitasi.
Fakta tersebut menjadi alarm bahwa pencegahan harus dilakukan sedini mungkin.
Baca Juga: Tak Hanya Narkoba, Jaringan Pengedar di Kampung Bahari Punya Senjata Api Ilegal untuk Lawan Petugas
Karena itu, BNNP Sumut memperkuat strategi pencegahan melalui program nasional ANANDA BERSINAR, Aksi Nasional Anti-Narkotika Dimulai dari Anak.
Program ini diarahkan untuk membangun ketahanan sejak usia dini, dengan memperkuat tiga lapis benteng: ketahanan diri, ketahanan keluarga dan ketahanan lingkungan.
Di lingkungan pendidikan, pendekatan dilakukan melalui IKAN (Integrasi Kurikulum Anti-Narkotika).
Edukasi mengenai bahaya narkoba diintegrasikan ke dalam pembelajaran yang sudah berjalan tanpa harus mengubah kurikulum.
Baca Juga: Momen Penangkapan Bandar Narkoba ‘Bos Gendut’ saat Sedot Lemak di Klinik Kecantikan
BNNP Sumut juga menjalankan program BNN Goes to School, dengan menempatkan petugas sebagai pembina upacara sekaligus memberikan edukasi mengenai bahaya penyalahgunaan narkoba, mulai dari sekolah dasar hingga perguruan tinggi dan pesantren.
Pendekatan kemudian diperluas melalui pembentukan Saka Anti-Narkotika, dan pengembangan Sekolah Bersinar, Kampus Bersinar dan Desa Bersinar.
Di Tanah Karo, sebanyak 1.600 pelajar telah dibekali menjadi Sobat Ananda Bersinar.
Baca Juga: Gerebek Kampung Bahari, ‘Bos Gendut’ Ditangkap Dengan Bukti Narkoba Rp 39,9 Miliar
Mereka diharapkan menjadi agen perubahan di lingkungan sekolah masing-masing, mulai dari mengingatkan teman, menyampaikan edukasi hingga berani melaporkan indikasi penyalahgunaan narkoba.
Dengan pendekatan tersebut, anak-anak tidak hanya ditempatkan sebagai sasaran edukasi, tetapi juga sebagai bagian dari gerakan pencegahan.
Dari 33 kabupaten/kota di Sumatera Utara, BNN baru memiliki 15 BNNK dan masih terdapat 18 kabupaten/kota yang belum memiliki BNNK.
Baca Juga: Usai Pegawai Outsourcing Ditangkap Kasus Narkoba, 100 Petugas Dishub Gresik Jalani Tes Urine
Kekuatan personel di daerah juga belum ideal, rata-rata sekitar 25–30 orang.
Persoalan sarana dan prasarana serta keterbatasan anggaran turut menjadi tantangan.
Namun, kondisi tersebut tidak membuat Tatar surut langkah.
Dia membangun kekuatan organisasi melalui tiga fondasi: integritas, soliditas, serta sinergi dan kolaborasi.
Baca Juga: Ungkap Pengiriman Narkoba Pakai Pesawat Militer, TNI AL Anggap Sebagai Keberhasilan
Integritas diperkuat dari internal organisasi. Soliditas dibangun agar seluruh jajaran bergerak dalam arah yang sama.
Sementara sinergi dan kolaborasi diperluas dengan menggandeng pemerintah daerah, sekolah, perguruan tinggi, tokoh agama, tokoh masyarakat, tokoh adat, organisasi kemasyarakatan dan berbagai komunitas.
”Kalau kita mau membersihkan, sapunya harus bersih dulu,” ujar Tatar.
Baca Juga: Sekolah di Jaksel Terapkan PJJ usai Ditemukan Ratusan Pucuk Senjata hingga Narkoba
Salah satu perkembangan yang diapresiasi Tatar adalah mulai tumbuhnya keberanian masyarakat untuk ikut melawan narkoba.
Dia mencontohkan fenomena Siti Mawarni di Labuhanbatu dan sejumlah warga lainnya yang berani mengambil sikap terhadap peredaran narkoba di lingkungannya.
Bagi Tatar, munculnya gerakan warga tersebut merupakan tanda tumbuhnya kesadaran kolektif.
Baca Juga: Bawa 1,3 Ton Narkoba dari Teluk Thailand, KRI Kerambit-627 Cegat Kapal MV. King Sun di Kepri
Masyarakat mulai merasa gerah dan tidak ingin lingkungan mereka menjadi ruang tumbuhnya peredaran narkoba.
Kesadaran semacam itu dinilai penting karena pemberantasan narkoba tidak mungkin hanya mengandalkan kekuatan aparat.
”Ketika personel terbatas, jejaring masyarakat diperluas. Ketika anggaran terbatas, kolaborasi diperkuat,” ungkap Tatar.
Pemberantasan tetap dilakukan, tetapi pencegahan menjadi investasi jangka panjang.
Baca Juga: Geger Temuan 995 Senjata Api, Narkoba hingga CD Porno di Sekolah Kebayoran Lama
Sebab, menangkap pengedar atau pengguna merupakan bagian dari penegakan hukum.
Namun, mencegah seorang anak mengenal narkoba jauh lebih strategis karena berarti memutus mata rantai sejak dari hulu.