← Beranda
Posko Karhutla Gunung Bromo Resmi Ditutup, 1.121 Hektare Lahan Hangus Terbakar
Novia HerawatiRabu, 19 Agustus 2026 | 20.36 WIB
Posko karhutla Gunung Bromo, resmi ditutup setelah dua pekan beroperasi menangani kebakaran. (Dokumentasi Radar Bromo)

 

JawaPos.com - Setelah dua pekan beroperasi, Posko Satuan Tugas Penanganan Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di kawasan Gunung Bromo TNBTS, resmi ditutup pada Selasa kemarin (18/8).

Kepala Pelaksana (Kalaksa) Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jawa Timur, Gatot Soebroto mengatakan posko ditutup setelah petugas gabungan menyisir dan memastikan tidak ada titik api lagi. 

“Setelah operasi ini berakhir, penyisiran kawasan dilanjutkan oleh pihak BBTNBTS. Helikopter BNPB maksimal beroperasi pada kemarin (Selasa)," tutur Gatot, dikutip dari Jawa Pos Radar Bromo, Rabu (19/8).

"Setelah itu, helikopter BNPB akan bergeser ke NTT, dan kembali ke Kalimantan Selatan untuk membantu kebakaran di sana. Sementara (helikopter) milik Provinsi Jatim masih bersiaga,” lanjutnya.

Baca Juga: Kapolri Turun Langsung Tangani Gempa NTT, Dinilai Perkuat Kepercayaan Publik

Meski posko ditutup, BPBD Jatim tetap memperkuat sarana dan prasarana tim serta berkolaborasi dengan TNBTS melakukan pembenihan vegetasi untuk memulihkan tanaman yang terbakar.

Sebagai informasi, karhutla di kawasan Gunung Bromo pertama kali dilaporkan terjadi pada Senin (3/8) sekitar pukul 17.00 WIB. Titik awal kebakaran berada di Blok Bantengan yang masuk wilayah Ranupani, Lumajang.

Demi keamanan dan mempercepat penanganan karhutla, Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) menutup seluruh pintu masuk wisata Gunung Bromo. Penutupan total berlaku sejak Sabtu (8/8) pukul 22.00 WIB. 

Setelah kurang lebih dua pekan petugas berjibaku di lapangan, karhutla Gunung Bromo berhasil dipadamkan. Kebakaran tersebut menghanguskan 1.121,66 hektare lahan di kawasan wisata tersebut. 

Di sisi lain, Dansektor Penanganan Karhutla Wilayah Korem 083/Bdj, Kolonel Inf Wahyu Ramadhanus Suryawan, menyebut operasi penanganan berjalan lancar dan aman meski diwarnai sejumlah kendala lapangan.

Tantangan tersebut meliputi medan terjal, lokasi berketinggian, hingga kabut yang menghambat pemadaman dan water bombing. Selain itu, vegetasi kering turut mempercepat penyebaran api di kawasan terdampak.

“Semua berkat kerjasama dan koordinasi dengan lintas sektoral. Namun, peralatan yang terbatas juga jadi kendala. Namun dengan kolaborasi antar seluruh pihak terkait, semuanya dapat terselesaikan,” tutur Kolonel Inf Wahyu.

Baca Juga: 5 Cara Menjaga Harga Jual Kembali Mitsubishi Xpander Tetap Tinggi

Ia berharap ke depan tersedia sistem deteksi dini yang mampu mengidentifikasi titik panas maupun kemunculan api dengan cepat. Upaya tersebut perlu didukung teknologi seperti CCTV, drone, dan pemantauan udara.

Wahyu juga mengajak masyarakat untuk menjaga kelestarian kawasan wisata Gunung Bromo. Ia mengingatkan agar tidak ada aktivitas maupun pelanggaran yang berpotensi memicu munculnya titik api dan kebakaran kembali.

“Tempat ini (kawasan Gunung Bromo) bukan hanya milik warga lokal, namun telah menjadi atensi hingga masyarakat dunia. Semua ingin melihat keindahan Bromo,” pungkas Danrem 083/Baladhika Jaya tersebut. (*)

 

EDITOR: Sabik Aji Taufan