← Beranda
Pantai Pasir Putih Situbondo Bakal Naik Kelas, Ada Hotel hingga Beach Club
Rian AlfiantoRabu, 12 Agustus 2026 | 06.43 WIB
Ilustrasi Pantai Pasir Putih Situbondo. (Pariwisata Kabupaten Situbondo)

 

 

JawaPos.com - Pantai Pasir Putih Situbondo, salah satu destinasi wisata bahari legendaris di Jawa Timur, bersiap memasuki babak baru. Pasalnya, Pemerintah Kabupaten Situbondo membuka peluang kerja sama pemanfaatan (KSP) dengan mitra strategis untuk mengembangkan kawasan seluas sekitar 18,4 hektare itu menjadi destinasi wisata terpadu, dengan investasi sedikitnya Rp 40 miliar selama lima tahun.

Pengembangan tersebut dijanjikan tidak akan menghilangkan identitas Pasir Putih yang sudah dikenal wisatawan selama puluhan tahun. Sebaliknya, pemerintah ingin mempertahankan nama dan karakter kawasan sekaligus menghadirkan fasilitas, atraksi, serta pengalaman wisata yang lebih modern.

“Yang kita lakukan adalah memberikan wajah baru, kualitas baru, dan pengalaman baru kepada wisatawan melalui pengelolaan yang lebih profesional,” ujar Bupati Situbondo Yusuf Rio Wahyu Prayogo atau Mas Rio dalam konferensi pers di Pantai Pasir Putih Situbondo, Selasa (11/8).

Rencana pengembangan ini membuat Pasir Putih berpotensi tidak lagi sekadar menjadi tempat singgah wisatawan yang melintas di jalur Pantura Jawa Timur.

Melalui skema KSP, kawasan tersebut dapat dikembangkan menjadi integrated coastal tourism, dengan berbagai pilihan aktivitas dalam satu kawasan. Pemerintah membuka ruang untuk pembangunan hotel dan resort, restoran dan kafe, beach club, sport tourism, diving, wisata bahari, rekreasi keluarga, hingga penyelenggaraan event dan beach carnival.

Dalam kesempatan yang sama, Kepala Dinas Pariwisata, Pemuda, dan Olahraga Kabupaten Situbondo sekaligus Ketua Tim KSP, Edy Wiyono, mengatakan pemerintah sengaja memberikan ruang yang cukup luas kepada calon mitra untuk menawarkan konsep pengembangan.

“Konsepnya bukan sekadar mengelola pantai. Kami membuka peluang kepada mitra untuk membangun integrated coastal tourism, mulai dari hotel dan resort, restoran dan kafe, beach club, sport tourism, diving, wisata bahari, family recreation, event dan beach carnival, hingga berbagai atraksi wisata yang sesuai dengan karakter kawasan,” ujar Edy.

Bagi wisatawan, rencana tersebut berarti pilihan aktivitas di Pasir Putih nantinya dapat menjadi jauh lebih beragam. Pantai tetap menjadi daya tarik utama, tetapi pengunjung berpotensi memiliki lebih banyak alasan untuk tinggal lebih lama, termasuk menikmati akomodasi, kuliner, olahraga, rekreasi keluarga, hingga kegiatan berbasis bahari.

Kenapa Pasir Putih Situbondo punya potensi besar?

Salah satu kekuatan utama Pasir Putih adalah lokasinya. Destinasi ini berada di jalur Pantai Utara Jawa atau Pantura, sekaligus memiliki posisi yang strategis terhadap sejumlah tujuan wisata populer di Jawa Timur.

Pemerintah Kabupaten Situbondo melihat Pasir Putih sebagai bagian dari pola perjalanan wisata yang lebih besar, bukan destinasi yang berdiri sendiri.

Rute tersebut berpotensi menghubungkan kawasan Bromo–Besuki–Argopuro–Pasir Putih–Ijen–Baluran hingga Bali. Dengan pola perjalanan seperti ini, Pasir Putih dapat menjadi salah satu titik persinggahan wisatawan yang menjelajahi Jawa Timur sebelum melanjutkan perjalanan menuju Bali.

“Kami tidak melihat Pasir Putih sebagai destinasi yang berdiri sendiri. Pasir Putih akan menjadi bagian dari ekosistem pariwisata dan konektivitas kawasan. Ini yang membuat kami optimistis peluang investasinya sangat besar,” kata Mas Rio melanjutkan.

Potensi konektivitas kawasan juga diperkuat sejumlah rencana dan infrastruktur yang sedang diarahkan untuk mendukung mobilitas wisatawan, mulai dari peluang pengembangan akses tol di sekitar Situbondo, program aglomerasi pariwisata, pengembangan Pelabuhan Jangkar menuju Bali Utara, rencana Bandara Bali Utara, keberadaan Bandara KHR As'ad Syamsul Arifin (KASA), hingga rencana reaktivasi jalur kereta api Jember–Bondowoso–Panarukan.

Jika berbagai konektivitas tersebut berkembang, posisi Pasir Putih sebagai bagian dari jalur perjalanan wisata antardestinasi berpotensi semakin kuat.

Pernah berjaya, kini punya ruang untuk bangkit

Pasir Putih bukan destinasi baru. Kawasan wisata ini telah dikenal sejak era kolonial Belanda karena lokasinya yang strategis di jalur Pantura dan berada di sekitar jalur Anyer–Panarukan yang dibangun pada masa Gubernur Jenderal Herman Willem Daendels.

Pengelolaan kawasan sebelumnya dilakukan melalui Perusahaan Daerah atau Perumda Wisata Pasir Putih yang dibentuk berdasarkan Peraturan Daerah Nomor 12 Tahun 1985. Setelah beroperasi selama kurang lebih 37 tahun, Perumda tersebut dibubarkan pada 13 Oktober 2022 melalui Peraturan Daerah Nomor 11 Tahun 2022.

Pasca-pembubaran Perumda, pengelolaan kawasan Pasir Putih berada di bawah Dinas Pariwisata, Pemuda dan Olahraga Kabupaten Situbondo.

Dari sisi kunjungan, Pasir Putih masih memiliki pasar yang cukup besar. Sepanjang 2025 tercatat 140.052 kunjungan wisatawan, baik wisatawan nusantara maupun mancanegara. Angka tersebut memang lebih rendah dibandingkan 2024 yang mencapai 178.419 kunjungan.

Penurunan tersebut sekaligus menunjukkan adanya ruang untuk memperbarui produk wisata, meningkatkan kualitas layanan, memperkuat pemasaran, serta menghadirkan atraksi baru yang dapat membuat wisatawan bertahan lebih lama.

Sementara dari sisi pendapatan, kawasan Pasir Putih juga masih menunjukkan aktivitas ekonomi. Pendapatan tercatat Rp 3,91 miliar pada 2023 dan meningkat menjadi Rp 4,03 miliar pada 2024.

Berdasarkan laporan keuangan 2025 yang disampaikan Pemkab Situbondo, total pendapatan tercatat Rp 3,78 miliar, dengan biaya operasional sekitar Rp 1,95 miliar dan surplus sekitar Rp 1,83 miliar.

Data tersebut menjadi salah satu dasar bahwa Pasir Putih masih memiliki pasar sekaligus peluang untuk dikembangkan lebih besar melalui investasi dan pengelolaan profesional.

Sementara itu, dalam skema yang ditawarkan Pemkab Situbondo, investasi yang dibutuhkan sedikitnya Rp 40 miliar dalam lima tahun. Masa kerja sama ditetapkan selama 30 tahun.

Adapun nilai aset kawasan yang menjadi objek kerja sama diperkirakan mencapai Rp 143,5 miliar. Nilai tersebut mencakup aset tanah, bangunan, serta aset lainnya. Luas kawasan wisata yang ditawarkan sekitar 15,4 hektare, sedangkan total kawasan mencapai 18,4 hektare.

Di dalamnya telah terdapat sejumlah aset dan fasilitas eksisting, antara lain Hotel Sidomuncul 1, Hotel Sidomuncul 2, Papin In, Wisda Rengganis, pintu wisata, serta berbagai fasilitas pendukung.

Skema kerja sama juga dirancang agar pemerintah daerah dan mitra investor sama-sama memperoleh manfaat ekonomi.
Investor akan memberikan kontribusi tetap kepada Pemerintah Kabupaten Situbondo dengan nilai minimum Rp 1,5 miliar per tahun.

Nilai kontribusi tersebut dijanjikan dapat meningkat mengikuti pertumbuhan ekonomi dan ketentuan yang nantinya dituangkan dalam perjanjian kerja sama.

Selain itu, terdapat mekanisme profit sharing dengan komposisi 51:49, yakni 51 persen untuk Pemerintah Kabupaten Situbondo dan 49 persen untuk mitra investor sesuai skema kerja sama yang ditetapkan.

Sementara itu, Ketua Tim Khusus Percepatan Investasi Kabupaten Situbondo, Riza Rachman, mengatakan komunikasi awal telah dilakukan dengan sejumlah perusahaan yang memiliki pengalaman di sektor pariwisata.

“Setidaknya sudah ada 7 sampai 10 calon investor yang berkomunikasi dengan tim investasi. Mereka merupakan perusahaan yang memiliki pengalaman di bidang perhotelan, kawasan wisata, taman hiburan, hingga berbagai sektor terkait pariwisata,” kata Riza.

Meski demikian, Pemkab Situbondo tetap membuka peluang bagi mitra lain, khususnya perusahaan yang memiliki pengalaman dan kapasitas untuk mengelola destinasi wisata dalam jangka panjang.

“Kami terutama mengundang BUMN, BUMD, perusahaan swasta nasional, termasuk perusahaan terbuka atau listed company yang memiliki pengalaman, kapasitas finansial, reputasi, dan komitmen untuk mengembangkan bisnis pariwisata secara profesional,” kata Riza.

EDITOR: Estu Suryowati