JawaPos.com - Warga Wanam Papua Selatan mengharapkan pembangunan Proyek Strategis Nasional (PSN) food estate terus dilanjutkan mengingat dapat mempermudah akses dan meningkatkan perekonomian.
Hal itu untuk menepis narasi negatif tak berdasarkan fakta di lapangan dari film dokumenter Pesta Babi, yang menuding adanya eksodus warga hingga ratusan ribu orang.
Warga menegaskan tidak pernah terjadi pengungsian, dan justru berharap pembangunan PSN food estate Wanam terus dilanjutkan.
Baca Juga: Ramalan Zodiak Aquarius dan Pisces 5 Juni 2026: Mulai dari Cinta, Karir, Kesehatan dan Keuangan
Aktivitas pembukaan lahan yang saat ini berjalan disebut masih terbatas, sekitar 15 ribu hektare, dan difokuskan untuk pembangunan infrastruktur seperti jalan, jembatan, pelabuhan, panel surya, kilang minyak, hingga fasilitas penyimpanan (cold storage).
Luas kawasan PSN juga disebut tidak sebesar yang dinarasikan. Informasi yang menyebut angka hingga 2,5 juta hektare tidak sesuai, karena total kawasan diperkirakan sekitar 1 juta ha.
Selain itu, isu eksodus warga hingga 170 ribu orang tidak ditemukan di lapangan. Warga yang ditemui memastikan tidak ada perpindahan massal seperti yang dituduhkan.
Sementara terkait alat berat, meski sempat disebut ada pesanan hingga 2.000 unit ekskavator, realisasi di lapangan saat ini baru mencapai ratusan unit.
Baca Juga: Ramalan Zodiak Gemini dan Cancer 5 Juni 2026: Mulai dari Cinta, Karir, Kesehatan dan Keuangan
Di tengah berbagai isu tersebut, suara warga lokal justru menunjukkan harapan terhadap pembangunan. Inosensio Sigipse, contohnya. Petani yang telah 10 tahun menetap di Wanam, mengaku mendukung proyek PSN. Ia berharap pembangunan dapat mempermudah akses dan meningkatkan perekonomian warga.
"Kalau ada pembangunan, mungkin bisa bangun perumahan dan jalan. Supaya kita jual hasil tani lebih gampang," kata pria yang akrab disapa Papa Ino, dalam keterangannya di Bandarlampung, Kamis.
Ia menggambarkan kondisi ekonomi warga yang masih sulit, dengan hasil pertanian yang tidak selalu terserap pasar. Kehadiran proyek diharapkan membuka peluang kerja bagi masyarakat.
"Kalau ada pekerjaan di sana, kita yang nganggur bisa kerja juga," ujar dia.
Hal senada disampaikan Kleopas Mause, seorang guru sekaligus Ketua Badan Musyawarah Kampung (Bamuskam) di Wanam. Ia menegaskan masyarakat sejak awal menerima kehadiran PSN karena dinilai membawa perubahan, meski belum sepenuhnya merata.
“Sekarang masyarakat sudah mulai terlibat kerja. Memang belum 100 persen, tapi sudah ada perubahan,” ungkapnya.
Baca Juga: Ramalan Zodiak Gemini dan Cancer 5 Juni 2026: Mulai dari Cinta, Karir, Kesehatan dan Keuangan
Ia juga menyoroti kebutuhan mendesak masyarakat terhadap infrastruktur dasar.
“Masyarakat masih jalan kaki bawa hasil ke perusahaan. Harapannya ada jalan yang layak sampai kampung, supaya hidup bisa lebih baik,” ujarnya.
Sementara itu, Laurentius Gali Blagaise, tokoh dusun setempat, menilai pembangunan memberikan dampak positif, meski di awal sempat menimbulkan kekhawatiran.
"Kalau saya lihat perubahan ini sudah bagus sekali. Masyarakat lokal juga sudah ada yang ikut kerja,” ungkap Papa Lau.
Ia mengakui masih ada warga yang belum terserap tenaga kerja, namun peluang ke depan dinilai tetap terbuka. “Masih banyak anak muda yang mau kerja. Harapannya bisa mengurangi pengangguran,” tambahnya.
Baca Juga: Ramalan Zodiak Leo dan Virgo 5 Juni 2026: Mulai dari Cinta, Karir, Kesehatan dan Keuangan
Menurut Laurentius, pembangunan di Wanam diharapkan dapat mendorong kemajuan daerah agar tidak tertinggal. "Kita mau Wanam bisa maju ke depan, sedikit demi sedikit lebih baik,” tuturnya.
Dari berbagai keterangan tersebut, terlihat bahwa kondisi di Wanam jauh dari narasi eksodus atau krisis. Sebaliknya, masyarakat justru menaruh harapan besar pada pembangunan, terutama dalam hal peningkatan infrastruktur, lapangan kerja, dan perputaran ekonomi lokal.
Faktanya di sana pembukaan lahan baru 15 ribu hektare untuk jalan, jembatan, pelabuhan, solar panel, kilang minyak, dan cold storage hingga saat ini. Adapun luas lahan PSN Wanam 1 juta hektare, bukan 2,5 juta hektare.
Selain itu, tidak ada eksodus pengungsi sama sekali dari tuduhan 170 ribu orang, serta pesanan ekskavator sebanyak 2000 unit, tapi realisasi di lapangan baru ratusan.