JawaPos.com - Keluarga aktivis lingkungan Yasinta Moiwend atau yang dikenal sebagai Mama Sinta mengaku kehilangan kontak dengan tokoh perempuan adat asal Merauke tersebut sejak akhir Mei 2026. Anak kandung Mama Sinta, dalam sebuah video yang beredar di media sosial, menyampaikan kekhawatiran atas keberadaan ibunya yang disebut tidak dapat dihubungi setelah diduga dibawa ke Jakarta.
Menurut keterangan keluarga, komunikasi terakhir dengan Mama Sinta terjadi pada Sabtu, 23 Mei 2026. Setelah itu, keluarga mengaku tidak lagi dapat menghubungi yang bersangkutan hingga menimbulkan kekhawatiran mengenai kondisi dan keberadaannya.
“Kami dari keluarga Mama Sinta mau klarifikasi tentang dugaan Mama mulai dari Hari Minggu tanggal 24 Mei 2026, kami kehilangan kontak dengan beliau. Setelah tanggal 23 hari Sabtu ketika video Mama Sinta Moiwend berkembang di media,” kata anak kandung Mama Sinta dalam keterangannya, Minggu (31/5).
Baca Juga: Timnas Indonesia Umumkan Daftar 23 Pemain untuk FIFA Matchday Juni, Mathew Baker Gantikan Jay Idzes
Mama Sinta tidak bisa dihubungi keluarga sejak Minggu, 24 Mei 2026.
Ia menjelaskan, keluarga sempat berupaya membangun komunikasi setelah video tersebut beredar. Namun, sejak Minggu, 24 Mei 2026, Mama Sinta disebut tidak lagi berkomunikasi dengan keluarga.
Keluarga juga menyebut bahwa pada malam hari Minggu tersebut Mama Sinta tidak berada di rumahnya. Berdasarkan informasi yang diterima keluarga, ia bermalam di Pos TNI yang berada di Kampung Wogekel, Distrik Ilwayab.
Pihak keluarga menduga pada Senin, 25 Mei 2026, Mama Sinta dibawa keluar dari wilayah tersebut tanpa sepengetahuan anggota keluarga. Dugaan itu muncul setelah adanya informasi mengenai keberangkatan Mama Sinta bersama sejumlah pihak.
Baca Juga: Dramatis! Indonesia Tumbangkan Brasil Lewat Adu Penalti, Lolos ke Final IFA7 World Championship 2026
“Hari Senin tanggal 25, beliau bersama dengan (aparat militer) yang bertugas untuk mengamankan PSN di Kampung Wanam, dan juga (pejabat Distrik) saat ini yaitu (pejabat Distrik) ikut menyelundupkan Mama Sinta tanpa sepengetahuan keluarga,” tuturnya.
Mama Sinta terbang menggunakan pesawat ke Merauke.
Pihak keluarga mengaku menerima berbagai informasi terkait perjalanan Mama Sinta. Awalnya mereka menduga Mama Sinta diberangkatkan menggunakan kapal laut menuju Merauke, namun kemudian muncul informasi lain yang menyebutkan adanya rencana perjalanan menggunakan pesawat.
“Dugaan pertama itu bahwa hari Minggu beliau diberangkatkan pakai kapal laut menuju ke Merauke, tetapi hari Senin itu dibangun komunikasi bahwa beliau akan menggunakan pesawat jet milik... menuju ke Timika, dan yang kedua itu ke Boven Digoel, dan juga mereka entah berangkat ke Merauke dan saat itu kami sudah tidak tahu keberadaan beliau,” bebernya.
Keluarga mengaku baru memperoleh informasi mengenai keberadaan Mama Sinta pada Jumat, 29 Mei 2026. Informasi tersebut diperoleh setelah adanya komunikasi melalui telepon yang difasilitasi oleh pihak yang berada di Wanam.
“Sampai dengan hari Jumat tanggal 29, kami baru tahu ketika aparat militer dan pejabat Distrik berada setelah kembali, mereka menggunakan pesawat Helikopter dari Merauke menuju ke Wanam untuk kontak menggunakan ponselnya aparat militer untuk komunikasi dengan Mama Sinta di Jakarta,” ujarnya.
Baca Juga: Resep Tahu Bakso Ayam Kukus, Camilan Gurih untuk Frozen Food dan Bekal Praktis
Dalam komunikasi tersebut, kata keluarga, Mama Sinta meminta agar sejumlah dokumen identitas dikirimkan kepadanya. Selain itu, ia juga menyampaikan rencana untuk bertemu Presiden.
“Mama Sinta juga sampaikan kepada ... bahwa tolong kirimkan identitas diri yaitu KTP, Kartu Keluarga, dan juga dengan saudara ... dan Mama sampaikan bahwa kami akan ketemu dengan Presiden, dan juga komunikasi itu dilakukan setelah Mama melaporkan LBH di Polda Metro Jaya di Jakarta,” lanjutnya.
Atas kondisi tersebut, keluarga meminta masyarakat di Merauke maupun wilayah Papua untuk turut mengawasi dan mengawal dugaan penyelundupan Mama Sinta, setelah ramainya pemutaran film dokumenter Pesta Babi.
“Kami minta kepada semua pihak yang berada di Kampung Wogekel di Kabupaten Merauke dan di Provinsi Papua dan tanah Papua, untuk sama-sama mengawal dugaan penyelundupan Mama ini untuk membawa atau sepihak untuk melaporkan LBH Merauke, setelah film Pesta Babi itu berkembang ya,” ungkapnya.
Baca Juga: Obyek Wisata Milik Ketua Golkar Gresik Masih Buka Meski Diduga Langgar Perda
Keluarga menilai peristiwa yang dialami Mama Sinta tidak dapat dilepaskan dari perjuangan yang selama ini dilakukan dalam memperjuangkan hak-hak masyarakat adat dan perlindungan wilayah adat di Papua.
Keluarga minta bantuan LPSK-Komnas HAM untuk pulangkan Mama Sinta
Karena itu, keluarga meminta perhatian dan pendampingan dari sejumlah lembaga negara, termasuk Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK), Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM), serta Komnas Perempuan.
“Kita minta kepada LPSK, supaya bisa membangun komunikasi dan juga kepada Komnas HAM Republik Indonesia untuk bisa mengawal dan juga kepada Komnas Perempuan Republik Indonesia untuk bisa mengawal keberadaan Mama ini, dan juga kita minta kepada pihak-pihak yang membawa Mama supaya itu dipulangkan kepada keluarga, kami keluarga merasa kehilangan Mama,” tegasnya.
Sebab, hingga saat ini keluarga mengaku belum mengetahui secara pasti kondisi Mama Sinta selama berada di Jakarta. Mereka berharap dapat segera memperoleh kepastian mengenai keselamatan dan keberadaan tokoh adat tersebut.
Baca Juga: Jamaah Haji Laksanakan Tawaf Ifadah dan Sa'i, Tuntaskan Rangkaian Ibadah Haji
“Kalau Mama dibawa tanpa izin dari kami keluarga, sampai saat ini kondisi Mama kami belum tahu, apakah itu beliau baik-baik di Jakarta atau diintimidasi segala macam, dan secara pribadi Mama, saya sebagai anaknya, saya kenal dekat dengan beliau,” ujarnya.
Lebih lanjut, anak kandung Mama Sinta menyampaikan keyakinannya bahwa ibunya selama ini konsisten memperjuangkan hak-hak masyarakat adat Papua. Ia menduga terdapat tekanan yang membuat ibunya mengambil langkah yang berbeda dari perjuangan yang selama ini dijalankan.
“Beliau ini diintimidasi, ditekan, sehingga bisa mengikuti atau mengcounter kegiatan dia selama tiga tahun mulai dari 2024-2026. Itu sama dengan membenturkan keinginan Mama. Jadi Mama membenturkan diri dengan oknum-oknum yang tidak bertanggungjawab atau memuluskan program PSN di atas tanah Papua, merusak hutan-hutan kami, untuk menggerogoti hidup-hidup kami di tanah Papua ini,” pungkasnya.