JawaPos.com - Pengasuh Pondok Pesantren Denanyar Jombang, Abdussalam Shohib menunjukan keseriusannya maju dalam bursa calon ketua umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU). Untuk memuluskan jalannya, dia menemui sejumlah sesepuh NU. Terbaru Gus Salam sowan dengan PCNU se-karesidenan Semarang dan Pati.
Pertemuan digelar di kediaman Rais Syuriyah PWNU Jawa Tengah, Ubaidillah Shodaqoh di PP Al-Itqon Bugen, Semarang. Gus Salam mengakui lokasi ini memiliki kedekatan dengannya sejak lama.
“Dulu saya tabarrukan ngaji kitab di PP MUS Sarang. Alhamdulillah tadi pagi saya bisa sowan silaturrohim ke KH M. Said Abdurrochim; mohon restu, nasehat dan do’a untuk berikhtiar khidmah NU dalam Muktamar ke-35, mendatang,” kata Gus Salam.
Dia mengakui mendapat banyak nasihat dan masukan dari PCNU. Mereka juga menunjukan respon positif atas pencalon kader NU pada bursa calon ketua umum.
Baca Juga: Update Operasi SAR Gunung Dukono: 17 Pendaki Selamat, 3 Orang Masih Dicari
“Salah satunya dari PCNU Blora yang mengapresiasi positiv atas banyaknya kader NU yang ikut maju kandidat calon Ketua Umum PBNU. Menunjukkan NU tidak kehilangan banyak kader unggul,” tambahnya.
Sementara, Pengasuh PP Ma'hadul ilmi Asy-Syar'i (MIS) Sarang Rembang, Achmad Rosikh Roghibi mengatakan, kiai-kiai di Sarang sepakat mendukung Gus Salam maju dalam bursa ketua umum PBNU. Dia menilai Gus Salam memiliki kapasitas menjalankan roda organisasi.
“Gus Salam dinilai oleh kiai-kiai Sarang adalah figur paling tepat yang memiliki kepedulian terhadap masa depan jam’iyah, khususnya dalam menjaga nilai-nilai Islam ASWAJA, sekaligus merespons tantangan zaman," kata Gus Rosikh.
Dia menjelaskan, perjalanan NU di abad kedua membutuhkan kepemimpinan yang tidak hanya kuat secara personal, tetapi juga jelas secara visi dan arah gerakannya. Menurutnya, dalam membaca dinamika jelang muktamar ke-35 NU ini, banyak pihak hanya fokus pada siapa sosok yang akan memimpin, bukan apa gagasan yang dibawa.
“NU di abad kedua ini tidak cukup hanya dengan sopir yang piawai dan navigator yang paham peta global, tetapi juga membutuhkan mesin baru dengan pengemudi yang benar-benar memahami arah dan tujuan jam’iyah,” pungkas Gus Rosikh.
Dia mengajak seluruh elemen NU tidak terjebak dalam polarisasi sempit dan pragmatis jelang muktamar. Supaya NU tidak terjebak dalam masalah dan konflik baru di masa depan.
“NU butuh pemimpin yang tidak hanya kuat secara simbolik, tapi punya roadmap yang jelas. Dan muktamar ke-35 harus menghasilkan konsensus ideologis dan strategis agar NU tetap relevan, berdaya, dan menjadi pemandu umat,” kata Gus Rosikh.
“Yang terpenting, pemimpin NU adalah sosok penjaga warisan para muasis, merawat pesantren, dan bisa membawa NU tetap dengan jati dirinya sebagai jam’iyah diniyah ijtima’iyyah,” pungkasnya.