JawaPos.com - Pemandangan di SDN Tlogo 2 kini tak lagi sama. Area sekolah yang biasanya menjadi tempat siswa menimba ilmu, kini telah dipagari tembok seng. Proyek pembangunan Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) resmi dimulai di kompleks sekolah, meski menuai penolakan keras dari berbagai pihak.
Dikutip dari Blitar Kawentar (JawaPos Group), guru, wali murid, hingga kalangan legislatif sempat menentang rencana ini. Namun, apa daya, "lampu hijau" dari kepala daerah membuat keputusan ini tak lagi bisa diganggu gugat. Kini, warga sekolah hanya bisa pasrah melihat ruang-ruang penting di sekolah mereka "dikorbankan".
Pembangunan KDMP ini menelan beberapa ruang vital di SDN Tlogo 2. Mulai dari perpustakaan, ruang kepala sekolah, hingga ruang ekstrakurikuler kini harus beralih fungsi. Kondisi ini membuat para guru kebingungan mengenai nasib buku-buku perpustakaan dan lokasi kegiatan siswa ke depannya.
Baca Juga: Kwon Sang Woo akan Tunjukkan Chemistry dengan Hwang Minhyun di Drama Study Group 2
Seorang guru di SDN Tlogo 2 yang enggan disebutkan namanya mengungkapkan kekecewaannya. Ia merasa aspirasi penolakan mereka tidak didengar oleh pemangku kebijakan.
"Kami menolak, tapi kalau para pemimpin, bahkan kepala daerah sudah berikan izin, nggak ada yang bisa kami lakukan," dikutip Jumat (24/4).
Terkait hilangnya ruang perpustakaan, guru tersebut mengaku hingga saat ini belum ada solusi konkret. "Kami juga bingung mau ditaruh di mana. Ruang yang kosong jelas tidak bisa digunakan. Saya sendiri juga bingung," terangnya.
Janji Ruang Pengganti yang Tak Kunjung Realisasi
Baca Juga: Cha Hak Yeon dan Kim Ji Eun akan Tampil di Drama Gold Digger sebagai Saudara, Simak Kisahnya
Selain hilangnya fasilitas utama, janji pemerintah daerah untuk menyediakan ruang pengganti juga menjadi tanda tanya besar. Sempat ada wacana bahwa sekolah akan mendapatkan bangunan baru sebagai kompensasi, namun hingga alat berat mulai bekerja, janji tersebut menguap begitu saja.
"Kayaknya beberapa waktu lalu sempat akan dibangun ruang pengganti. Tapi, buktinya sampai proses KDMP mau dibangun tidak ada kabar lagi," ungkap guru tersebut dengan nada pasrah.
Kecemasan Orang Tua Siswa
Dampak pembangunan ini tak hanya dirasakan guru, tetapi juga orang tua siswa. Banyak yang khawatir proses belajar mengajar anak-anak akan terganggu. Meski mengaku tak mengerti politik pembangunan, para orang tua berharap hak anak untuk belajar tetap menjadi prioritas utama.
Seorang wali murid kelas 3 mengungkapkan kegelisahannya akan hilangnya ruang latihan tari dan mengaji yang biasa digunakan anaknya.
"Saya orang kecil. Tidak tau masalah itu. Memang terkait KDMP, sempat orang datang ke sekolah untuk melihat, yang penting anak-anak tidak terganggu sekolahnya," ungkapnya.
"Biasanya ruang latihan dipakai anak-anak menari, juga sering mengaji, nanti kegiatan-kegiatan tersebut mau digelar di ruang mana ya," sambungnya.
Meski pihak sekolah telah berupaya menolak, pembangunan tetap berjalan. Kini, harapan satu-satunya bagi orang tua adalah agar aktivitas konstruksi tidak mengganggu konsentrasi belajar siswa.
"Kayaknya pihak guru sudah menolak, tapi kok ya pembangunan koperasi tetap jalan. Semoga proses pembangunan tidak mengganggu anak-anak belajar, tapi kalau terganggu ya kasihan anak-anak yang mau fokus belajar," imbuhnya.