← Beranda
Status Semeru "Red Code" Akibat Erupsi, AirNav Pastikan Penerbangan Masih Aman
Ryandi ZahdomoJumat, 21 November 2025 | 00.13 WIB
Ilustrasi Bandara Juanda di Sidoarjo. Airnav memastikan bandara sekitar gunung Semeru, termasuk Juanda, masih aman dari efek erupsi. (dok. JawaPos.com)

JawaPos.com - Erupsi Gunung Semeru dipastikan tidak akan mengganggu operasional penerbangan di sekitarnya.

AirNav Indonesia memastikan seluruh rute dan bandara di sekitar wilayah terdampak erupsi Semeru masih beroperasi normal hingga Kamis, 20 November 2025.

EVP of Corporate Secretary AirNav Indonesia Hermana Soegijantoro menegaskan, kondisi ruang udara masih dalam kategori aman.

"Sampai informasi ini kami terbitkan, situasinya belum pada kondisi yang memaksa untuk dilakukannya penutupan ruang udara karena ancaman awan abu vulkanik," ujar Hermana, Kamis (20/11).

dia memastikan bandara-bandara di sekitar Semeru, Seperti Malang, Banyuwangi, Surabaya, dan Yogyakarta, semuanya masih beroperasi normal. "Tidak ada bandara yang ditutup dan sejauh ini tidak ada penerbangan yang dibatalkan," lanjutnya.

Pemantauan Ketat Setelah Status Semeru Capai “Red Code”

Meski penerbangan masih normal, AirNav Indonesia meningkatkan pengawasan terhadap rute udara dan bandara yang berpotensi terdampak abu vulkanik Gunung Semeru.

Hermana menjelaskan bahwa AirNav terus memperbarui informasi melalui penerbitan ASHTAM atau jenis NOTAM khusus yang berisi informasi penting tentang aktivitas gunung berapi. 

"ASHTAM kami rilis kepada seluruh stakeholders yang berkepentingan, baik di dalam maupun luar negeri. Masa berlakunya 24 jam, hingga ada pemberitahuan lebih lanjut,” tuturnya.

Update terakhir, ASHTAM nomor VAWR6038 dirilis melalui International NOTAM Office AirNav Indonesia pada 20 November 2025, pukul 02:00 UTC (09.00 WIB). 

Dalam laporan tersebut, Gunung Semeru ditetapkan pada status “Red Code”, yang menandakan erupsi signifikan dan potensi gangguan pada jalur penerbangan.

AirNav mencatat abu vulkanik berada pada dua level berbeda:

- Level rendah: Permukaan hingga FL150 (±4.500 meter), bergerak ke tenggara dengan angin 5 knot.

- Level tinggi: Permukaan hingga FL450 (±13.500 meter), bergerak ke barat daya dengan angin 15 knot.

Dokumen teknis tersebut menjadi dasar mitigasi bagi maskapai, termasuk penyesuaian rute dan pengaturan lalu lintas udara.

Sumber Data dari Satelit, PVMBG, hingga Paper Test Bandara

Informasi teknis ASHTAM dihimpun dari berbagai sumber seperti citra satelit Himawari-8, webcam pemantau, dan data PVMBG. Pada pengamatan terakhir, abu di ketinggian tinggi mulai sulit terlihat akibat awan cuaca. 

Meski begitu, model menunjukkan pergerakannya akan melemah dalam beberapa jam. Sementara itu, abu di level rendah masih jelas terpantau ke arah tenggara. Hermana menyebut tren sebaran abu bergerak menjauhi bandara sekitar.

"Namun trennya saat ini, sebaran abu vulkanik semakin bergerak mejauh dari bandara-bandara sekitar dan rute penerbangan yang berpotensi terdampak," ungkapnya.

Hari ini, pihaknya juga menghimpun data dari hasil paper test yang dilakukan PT Angkasa Pura Indonesia maupun Kantor Otoritas bandara (Otban) pada bandara-bandara terdekat.

di antaranya Bandara Abdurrahman Saleh (Malang), Bandara YIA dan Adi Sucipto (Yogyakarta), dan Bandara Adi Sumarmo (Solo). "Alhamdulillah, semua hasilnya negatif," jelasnya.

PVMBG menetapkan status Gunung Semeru pada Level IV (Awas). Merespons hal itu, AirNav Indonesia terus memperbarui informasi secara real-time kepada pilot dan maskapai untuk menjaga keselamatan penerbangan.

Pemutakhiran rute akan dilakukan bila diperlukan, mengikuti perkembangan dari pusat informasi vulkanik dan data satelit cuaca.

EDITOR: Bayu Putra